Tumbuhan Paku Coban Rondo

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Tumbuhan paku ( Pteridophyta ) dapat digolongkan ke sebagai tumbuhan tingkat rendah karena meskipun tubuhnya sudah jelas memiliki kormus serta memiliki sistem pembuluh tetapi belum menghasilkan biji dan alat perkembangbiaknya yang utama adalah spora. Tumbuhan paku meskipun telah memiliki akar, batang dan daun tetapi untuk yang masih primitive daunnya masih sangat sederhana, belum mempunyai lamina dan masih dinamakan mikrofil ( Sulisetijono,2011).

Tumbuhan ini benar-benar telah berupa kormus, jadi telah jelas adanya akar, batang dan daun. Ada yang hidup sebagai saprofit dan ada pula sebagi epifit. Paku menyukai tempat lembab (higrofit), tumbuhnya mulai dari pantai (paku laut) sampai sekitar kawah-kawah (paku kawah). Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna dengan rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku.Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain(Firman,2009).

Tumbuhan paku memiliki jumlah anggota yang banyak dan tersebar diseluruh dunia tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia memiliki berbagai jenis tumbuhan paku yang tersebar  di daerah-daerah di Indonesia, jenis tumbuhan tersebut tergantung pada daerah dan keadaan habitatnya, sehingga untuk mengetahui jenis tumbuhan paku dan ciri-cirinya berdasar tempat hidupnya dilakukan pengamatan tumbuhan paku di salah satu daerah Jawa yaitu Malang tepatnya di air terjun Coban Rondo Pujon kabupaten Malang. Diharapkan setelah pengamatan tumbuhan paku di Coban Rondo mahasiawa mampu mengenal tumbuhan paku dan dapat membedakannya.

1.2   Tujuan

Tujuan yang terdapat dalam laporan pengamatan ini adalah:

Mengetahui ciri-ciri beberapa tumbuhan paku yang ada di kawasan air terjun Coban Rondo Pujon Kabupaten Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Semanggi ( Marsilea crenata Presl)

(Eva Lestari Nim: 10620078)

 

  1. 1.    Gambar

Foto Asli Spesimen

Literatur

       ( Pujon, 18 Maret 2012)  

( Cakmus, 2012)

  1. 2.    Lokasi Pengamatan

Pengamatan tumbuhan paku ini dilaksanakan di air terjun Coban Rondo yang terletak di desa Pandesari kecamatan Pujon kabupaten Malang dan menurut administrasi pengelolaan hutan Cobanrondo masuk wilayah KPH ( Kesatuan Pemangkuan Hutan ) Perum Perhutani Malang. Coban Rondo merupakan tempat wisata air terjun yang pertama kali digunakan sebagai objek wisata pada tahun 1980. Air Terjun ini memiliki ketinggian yaitu 84 meter, ketinggian dari permukaan air laut yaitu 1.135 meter. Suhu rata-rata ± 220C dan curah hujan rata-rata mencapai 1721 mm pertahun. Sumber air di air terjun ini berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo. Debit air di air terjun pada musim hujan mencapai 150 liter/ detik dan pada musim kemarau mencapai 90 liter/detik. Air terjun Coban Rondo ini juga digunakan sebagai sumber PDAM dan digunakan  masyarakat kecamatan Pujon sebagai sumber air bersih.

Pengamatan tanaman paku ini salah satunya menemukan tanaman paku air yaitu semanggi ( Marsilea crenata ) yang ditemukan di sekitar batu yang terletak di tepi sungai. Keadaan tanah tempat semanggi ditemukan lembab.

  1. 3.    Sistematika Takson

Sistematika takson dari semanggi yaitu ( Cakmus, 2008):

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Ordo: Salviniales
Famili: Marsileaceae
Genus: Marsilea
Spesies: Marsilea crenata Presl

Nama umum : Semanggi, Semanggen, Paku Tapak Itik.

  1. 4.    Deskripsi

4.1   Habitus

Semanggi merupakan tanaman semak, menjalar, panjang ± 25 cm. Marga Marsilea ini merupakan tanaman paku air, mempunyai struktur yang berbeda dengan paku jenis lainnya. Anggotanya semuanya heterospor. Marga ini beranggotakan 50 jenis. Tumbuhan ini hidup di lingkungan berlumpur, tanah lembab atau tempat berair. Daunnya terdiri dari 4 anak daun dan tahan terhadap kekeringan. Sporokarpnya yang berbentuk seperti kacang merah akan tetap mampu tumbuh setelah penyimpanan kering selama 100 tahun. Biasanya semanggi dapat di temukan di sawah,selokan dan genangan air dangkal ( Sudarsono, 2005).

4.2   Rhizoma

Rhizoma pada Semanggi berupa akar dalam tanah jika berada di darat terbentuklah seperti umbi. Akar semanggi berupa akar serabut,berwarna  putih buram atau abu-abu ( Tjitrosoepomo, 2009).

Setelah melakukan pengamatan terhadap penampakan rhizome semanggi didapat bahwa rhizomanya berupa akar serabut yang berada dalam tanah berwarna kecoklatan.

Anatomi akarnya  terdiri dari jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan jaringan pengangkut. Bentuk jaringan epidermis pada akar cenderung tidak beraturan, yang disebabkan bentuk akar yang serabut. Jaringan pengangkut tersusun atas floem yang mengelilingi xilem, dengan ukuran xilem yang lebih besar(Sulistiono, 2009).

4.3   Stipe

Batangnya menyerupai rimpang yang merayap ke atas berupa stolon membentuk daun-daun ke bawah akar-akar. Batangnya lunak,dan berwarna hijau kecoklatan ( Tjitrosoepomo, 2009).

Pengamatan batang semanggi yang ditemukan lunak, menjalar, dan ujung batang berwarna hijau muda dan pangkal batang berwarna hijau kemerahan.

Secara histologi batang terdiri dari jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan jaringan pengangkut. Jaringan parenkim yang menyusun korteks pada batang banyak terdapat pati (Sulistiono, 2009).

4.4   Fond

Daun bertangkai panjang berdaun majemuk dan tegak  panjangnya mencapai  2-30 cm. Daun pada jenis-jenis tertentu bersifat polimorf ( Tjitrosoepomo, 2009).

Bagian tangkai terdiri dari jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan jaringan pengangkut. Jaringan epidermis tersusun lebih rapih dibandingkan pada daun. Ruang interseluler banyak terdapat pada tangkai. Rongga-rongga ini membut tangkai dapat mengapung di permukaan. Jaringan pengangkut tersusun atas floem yang mengelilingi xilem di tengah (Sulistiono, 2009).

4.5   Lamina

Anak daun menjari berbilang 4, tangkai daun panjang dan tegak, panjang 2-30 cm dan  menyilang, berhadapan, berbentuk baji bulat telur, gundul atau hampir gundul, dengan panjang 3-22 cm dan lebar 2-18 cm, urat daun rapat berbentuk kipas, pada air yang tidak dalam muncul diatas air (Purwanti, 2011).

Setiap tangkai daun terdiri dari empat helai daun, yang berbentuk lonjong,memiliki tepi yang rata, ujungnya melengkung ke dalam dan berpangkal runcing, panjang ± 2 cm,lebar ± 1 cm, dan warna daunnya hijau (Sulistiono, 2009).

Secara histologis daunnya tersusun atas jaringan epidermis, palisade, bunga karang,parenkim, dan jaringan pengangkut. Jaringan epidermis pada daun bentuknya cenderung tidak beraturan dan terdiri dari satu lapis sel yang terletak di bagian terluar. Jaringan epidermis terdapat di kedua sisi. Stomata ditemukan pada epidermis atas. Jaringan pengangkut tersusun atas floem yang terletak di luar xilem dan mengelilingi kedua sisinya(Sulistiono, 2009).

Komposisi kimia dari daun dan tangkai semanggi meliputi kadar air, abu, protein, lemak, dan serat. Kadar air pada saat segar sebesar 89,02% setelah dikukus berubah menjadi 87,92%. Kadar abu pada saat segar 14,2% berubah menjadi 4,38% setelah pengukusan. Kadar protein sebesar 39,63% berubah menjadi 26,74% setelah pengukusan. Kadar lemak pada daun segar sebesar 2,62% berubah menjadi 2,48% setelah pengukusan. Kandungan serat saat segar sebesar 20,77% berubah menjadi 9,27% setelah proses pengukusan. Seperti halnya kadar protein, air, abu, lemak dan serat, proses pengukusan juga mengakibatkan perubahan kandungan vitamin daun dan tangkai semanggi air. Kandungan Vitamin C daun dan tangkai semanggi air segar sebesar 66,58 mg/100g berubah menjadi 55,29 mg/100g setelah proses pengukusan. β karoten daun dan tangkai semanggi air segar sebesar 3,3 μg/g berubah menjadi 2,08 μg/g, sedangkan total karoten semanggi air segar sebesar 73,78 μg/g berubah menjadi 42,10 μg/g setelah proses pengukusan. Adapun untuk vitamin A, B, D, E, K tidak terdeteksi pada semanggi air (Sulistiono, 2009).

4.6   Sori

Sporangium pada pangkal tangkai daun, keluar sejumlah atau sepasang sporokarpium yang berbentuk bangun ginjal, bulat atau jorong dengan dinding yang kuat. Di dalam sporangium atau sporokarp terdapat banyak sorus yang mempunyai indusium dan di dalamnya terdapat spora mikro dan makrosporangium. Sporokarp yang masak pecah dengan dua katup  ( Tjitrosoepomo, 2009).

Menurut Sulistiono ( 2009), Sporocarpia terletak dekat pangkal tangkai daun,dalam keadaan  lepas atau berdiri sendiri,mempunyai  kelopak dua, memilki panjang 3-5 cm, berbentuk lonjong,dan dapat berwarna hijau atau ungu.

 

  1. 5.    Manfaat

Semanggi (Marsilea crenata), merupakan salah satu tumbuhan paku yang banyak dimanfaatkan sebagai sayur (Sulistiono, 2009).

Marsilea crenata Presl. yang dikenal oleh masyarakat sebagai semanggi masih belum banyak dikenal sebagai tanaman obat, tetapi semanggiadalah tanaman  yang memiliki khasiat sebagai peluruh air seni. Kandungan yang terdapat dalam semanggi antara lain saponin dan polifenol (Marlena,2004).

2.2 Asplenium adiantum-ningrum

(Eva Lestari Nim: 10620078)

  1. 1.    Gambar

Foto Asli Spesimen

Literatur

( Pujon, 18 Maret 2012)

 

               ( Cakmus,2012)

  1. 2.    Sistematika Takson

Sistem takson tanaman paku ini adalah ( ITB,2012):

Kerajaan     Plantae

Divisi           Pteridophyta

Kelas            Filicopsida

Bangsa          Polypodiales

Suku               Aspleniaceae

Marga             Asplenium

Jenis                Asplenium adiantum-ningrum

  1. 3.    Lokasi Pengamatan

Pengamatan tumbuhan paku ini dilaksanakan di air terjun Coban Rondo yang terletak di desa Pandesari kecamatan Pujon kabupaten Malang dan menurut administrasi pengelolaan hutan Cobanrondo masuk wilayah KPH ( Kesatuan Pemangkuan Hutan ) Perum Perhutani Malang.

Saat pengamatan tanaman paku, Asplenium adiantum-ningrum ini ditemukan menempel atau epift pada batu yang terletak di sekitar sungai dekat dengan pintu masuk ke air terjun Coban Rondo.

  1. 4.    Deskripsi

4.1  Habitus

Tanaman paku ini merupakan tanaman semak.

Pengamatan ini mendapat Asplenium Adiantum-ningrum yang menempel atau epifit ke batu-batuan.

Spleenwort ini memiliki tebal, pisau daun segitiga hingga 10 sentimeter panjang yang dibagi menjadi segmen-segmen dibagi beberapa. Hal ini ditanggung pada tangkai daun hijau kemerahan dan malai yang mengkilap dan sedikit berbulu.

4.2  Rhizoma

Pengamatan pada Asplenium adiantum-ningrum didapat bahwa rizhom atau batang bawah tanah tidak ada yang ada berupa akar serabut yang terbenam dalam tanah atau sebagai pelekat di batuan jika menempel atau epifit di batu.

Menurut Steenis (2006), tumbuhan ini memiliki akar rimpang yang pendek dan bersisik.

4.3  Stipe

Warga Asplenium umumnya  memilki stipe yang pendek bahkan tidak terlihat. Menurut Steenis (2006), daun duduk dan bertangkai sangat pendek. Tetapi tangkai daun memiliki ciri bewarna hijau kemerahan dan malai yang mengkilap dan sedikit berbulu.

4.4  Fond

Daun pada tanaman ini majemuk menyirip tunggal. Sedangkan menurut Steenis (2006), warga Asplenium ini memiliki daun tunggal, bertulang daun menyirip, tidak beruas dengan dengan akar rimpang, rapat berjejal, setelah mengering menggantung lemah.

4.5  Lamina

Helaian daun menurut Tjitrosoepomo (2009), tidak dapat lepas dari rimpang, menyirip, atau menyirip ganda, urat-urat daun bebas atau bersambungan dengan tulang tepi.

4.6  Sori

Sisi bawah daun setiap segmen memiliki satu atau lebih sori diatur dalam rantai, sedang menurut Tjitrosoeomo (2009), sorus pada warga Asplenium terletak di samping pada taju-taju daun serta memanjang dan memilkiki indusium. Sorus bangun garis atau sempit memanjang, terletak di samping tulang cabang, serong atau hamper tegak dengan ibu cabang. Indusium sesuai dengan sorusnya.

  1. Manfaat

Warga pada tanaman ini sering digunakan sebagai hiasan yang dapat ditempatkan di atas pohon, di  pot atau dapat ditempel ke batuan.

2.3  Belvisia spicata

( Ikke Lutfi Mailina Nim : 10620080)

  1. Gambar

  1. 1.   Lokasi Dan Waktu

Pengamatan Belvisia spicata di laksanakan di Air terjun Coban rondo –Batu. Pada hari minggu 18 Maret 2012 pada pukul 08.00 pagi.

Tepatnya di sekeliling Air terjun coban rondo, karena di sekeliling air terjun coban rondo terdapat hutan. Hutan disekeliling air terjun coban rondo itu banyak di temukan tumbuhan paku. Dalam pengamatan tanaman paku ini dilaksanakan oleh dua kelompok yang saling berkerja sama  dan pada akhirnya menemukan 14 spesies tumbuhan paku yang kemudian di bagi oleh banyak nya anggota dari dua kelompok tersebut.

  1. 2.      Sistematika

Kingdom : plantae
Phylum : pteridophyta

Class : filicopsida

Sub class : polypodiidae

Order: polypodiales

Family : polypodiaceae

Sub family : pleopeltoideae

Spesies : Belvisia  spicata

  1. Diskripsi
                            Habitus berupa tanaman herba, saat di temukan dalam   keadaan epifit yakni menempel pada batang tanaman lain. Entalnya berbentuk lonjong dann agak panjang, sedangkang lamina nya berupa lembaran. Tangkai daunnya sangat kecil sekali dan pendek.

Anggota dari jenis ini berukuran kecil, dan ukuran medium. Pakis epiphytic dengan sepenuhnya. Membatasi daun palem yang tegas merupakan paku yang subur dan tumbuhnya diujung. Mereka jarang di tanam tetapi biasanya tumbuh di rumah kaca atau dalam wilayah tropis, sedang untuk di luar rumah biasanya di keranjang pot. (Hoshizaki,2009: 214)

Karakteristik yang paling membedakan belvisia adalah daun-            daun sederhana dengan pembatas, sobekan subur seperti ekor. Rhizomanya pendek, merambat panjang, tidak bercabang dan ditutupi oleh warna hitam dan coklat kemerahan. Terdapat sori yang tersebar diatas permukaan yang lebih rendah seperti di ujungnya. Pada umumnya secara keseluruhan yang ditutup oleh sporangia pada atas permukaan yang lebih rendah kadang-kadang bagian dari vegetative dengan konstruksi (Smitinand,1989:519)

System reproduksi:

1.    Spora

Menurut Sulisetjono (2009) divisi pterophyta, generasi sporofitnya lebih dominan dibandingkan dengan generasi gamet -ofitnya. Spora dihasilkan oleh sporangia yang berkembang diatas maupun dibawah permukaan atau dapat pula di tepi daun-daun yang melipat.Tidak semua daun fertile.Kumpulan dari sporangia disebut sori, dan strukturnya disebut indusium.Sporangium terbentuk dalam jumlah yang besar pada sisi bawah daun. Biasanya sporofil mempunyai bentuk yang sama dengan daun-daun yang steril, hanya pada beberapa jenis saja sporofil berbeda dengan trofofil. Pada dinding sporangium seringkali terdapat suatu cincin (anulus) , yang berfungsi untuk mengeluarkan spora dewasa.

2.    Gamet

Gametofit atau protalia.Pada Polidiaceae berukuran kecil, datar, hijau, berbentuk hati.Dengan akar pada permukaan bawahnya. Antheridia dan archegonia sama – sama tumbuh pada prothalus. Antheridia dibentuk ketika prothallus sangat muda dan disebarkan pada permukaan bawah, normalnya 32 sperma berkembang di setiap antheridium (Mclean. 1952).

Fertilisasi terjadi ketika terdapat air dan sperma berenang    menuju archegonium.Menghasilkan zigot (diploid) dan berkembang dengan cepat menjadi embrio sporofit yang terdiri atas, akar, batang dan daun.Embrio berkembang langsung menjadi sporofit muda tanpa masa dorman (Sulisetjono, 2009).

Siklus hidup:

1.    Rhizome-scales concolorous, clatharate, bergigi pada garis tepi

2.    Daun palem yang atas lebar 2,5 cm, constricted pada dasar bagian            apical   yang subur

3.    Rhizome-scales oblong-ovate, atas panjang 2 mm, panjang stipes lebih      dari 3 cm. daun palem secara berangsur-angsur membatasi bagian             apikal yang subur dengan bagian yang steril.

4.    Rhizome-scales bi-coloured, dengan bagian pusat yang gelap dan pucat ferrugineous bagian marginal tanpa gigi.

Rhizome yang merambat, sekitar 3 mm diam., daun palem tegas melainkan lekat, bersisik; timbangan membatasi, secara berangsur-angsur membatasi dari dasar ke arah long-attenuate puncak kulminasi, diatas 5 sampai 1 mm, paling luas pada bagian fundamental, warna coklat gelap, clathrate, bergigi pada garis tepi. stipes pendek, tidak beda dari bagian midribs daun palem, sedikit bersayap, castaneous gelap, yang bersisik pada dasar. daun palem linear-lanceolate, secara berangsur-angsur membatasi ke arah akhir kedua-duanya, menipis pada puncak kulminasi kedua-duanya dan mendasar, keseluruhan atau suatu revoluted sedikit pada garis tepi, mulai 30 sampai 2,5 cm; subcoriaceous pembuluh yang susah kelihatan, secara berlimpah anastomosing; bagian daun palem yang subur pada puncak kulminasi, pada umumnya constricted pada simpangan dengan bagian steril, linier, mulai 7 sampai 0,3 cm, secara keseluruhan yang ditutup oleh sporangia kecuali seluruh garis tepi yang didaftar untuk melindungi sori yang muda  (smitinand,1989: 520)

Manfaat dari belvisia yaitu sebagai tanaman hias (Piggot.1988)

2.4   Equisetum scirpoides

( Ikke Lutfi Mailina Nim : 10620080)

  1. 1.    Gambar Asli

 

  1. 2.   Lokasi Dan Waktu

Pengamatan Equisetum scirpoides di laksanakan di Air terjun Coban rondo –Batu. Pada hari minggu 18 Maret 2012 pada pukul 08.00 pagi.Tepatnya di sekeliling Air terjun coban rondo, karena di sekeliling air terjun coban rondo terdapat hutan. Hutan disekeliling air terjun coban rondo itu banyak di temukan tumbuhan paku. Dalam pengamatan tanaman paku ini dilaksanakan oleh dua kelompok yang saling berkerja sama  dan pada akhirnya menemukan 14 spesies tumbuhan paku yang kemudian di bagi oleh banyak nya anggota dari dua kelompok tersebut.

  1. 3.            Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Equisetopsida
Ordo:  Equisetales
Famili:  Eqisetaceae
Genus:  Equisetum

Spesies :     Equisetum scirpoides

  1. 4.            Diskripsi

Paku Equisetum atau paku ekor kuda merupakan anggota dari divisi Sphenophyta. Paku ekor kuda adalah garis keturunan tumbuhan tak berbiji kuno lainnya yang beralih sampai ke radiasi tumbuhan vaskuler awal pada masa Devon. Kelompok tersebut mencapai masa kejayaannya selam masa Karboniferus, Ketika banyak spesiesnya tumbuh hingga setinggi 15 cm. Yang bertahan hidup dari divisi tumbuhan ini hanyalah sekitar 15 spesies dari genus tunggal yang tersebar sangat luas. Equisetum adalah yang paling umum ditemukan di Bumi Belahan Utara. Kata Equisetum berasal dari kata equus yang berarti kuda dan saeta yang berarti rambut tebal dalam bahasa Latin. Sehingga tumbuhan yang termasuk genus ini disebut juga paku ekor kuda. Spesies dari genus ini umumnya tumbuh di lingkungan yang basah seperti kolam dangkal, daerah pinggiran sungai, atau daerah rawa (Campbell, 2003:165).

Menurut Stern (2003: 405) Eqiusetum biasanya tumbuh dengan tinggi kurang dari 1,3 meter (4 kaki), tetapi pada beberapa di daerah tropis dan pantai hutan tropis di California tingginya dapat melebihi 4,6 meter (15 kaki). Terdapat cabang, mereka biasanya di tumbuh secara berkala sepanjang mereka berhubungan dengan batang. Kedua cabang dan spesies yang tidak bercabang memiliki daun yang sangat kecil (mikroskopis). Daun ini melebur bersama di pangkalan mereka, membentuk leher. Warnanya hijau ketika mereka pertama kali muncul, tapi mereka akan segera layu dan memutih, dan hampir semua proses fotosintesis terjadi di batang.

Menurut Holttum (1959: 581) menyatakan bahwa “marga Equisetum menuat kira-kira 25 jenis yang sebagiannya hidup di darat dan sebagian hidup di rawa-rawa”.

Batang:

Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak, biasanya bercabang-cabang yang tegak itu berumur satu tahun saja. Di dalam       batang terdapat tiga macam saluran, yaitu (Dasuki, 1991: 170):

  1. Saluran pusat, merupakan saluran yang terletak di tengah-  tengah batang. Tetapi pada batang yang masih muda saluran ini          belum terdapat salurtan pusatnya, demikian juga pada batang         yang ada di dalam tanah.
  2. Saluran karnial, terletak di sebelah dalam dari ikatan pembuluh.      Saluran ini merupakn lingkaran dan pada tiap-tiap saluran           letaknya bertepatan denagn rigi-rigi pada permukaan batang.
  3. Saluran valekular, saluran ini letaknya di dalam korteks yaitu di       sebelah luar dan berseling dengan saluran karnial. Saluran          pusat dan karnial berfungsi untuk penyimpanan air, sedang             saluran valekuler berfungsi untuk menyimpan udara.

Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya    menyerupai sisik saja.

Daun:

Daunnya meruncing pada bagian ujungnya dengan satu berkas pengangkut yang kecil. Karangan daun kebawah berlekatan dengan suatu sarung yang menyelubungi batang. Banyaknya daun tergantung dari pada besarnya batang, tetapi karena daun-daun tersebut amat kecil maka yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis adalah batangnya yang berwarna hijau. Cabang-cabang batang tidak keluar dari ketiak daun melainkan keluar dari antara dun-daun. Ada jenis yang batangnya tidak bercabang dan baru bercabang apabila ujungnya dihilangkan. Jenis yang mempunyai percabangan banyak adalah jenis yang paling primitif, misalnya E.arvense, sebaliknya jenis yang tidak bercabang dianggap jenis yang sudah agak maju (Dasuki, 1991: 171).

Akar:

Akar dari Equisetum sangat kecil dan halus terdapat pada buku-buku dari rizome atau pada pangkal batang. Diantara anggota Equisetum terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kondisi yang buruk.

Sistem reproduksi pada Equisetum ialah sporangiumnya terdapat pada sporangiosfor yang tidak lain adalah sporofil. Karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian tersebut menyerupai suatu kerucut di ujung batang. Sporofil atau sporangiosfor berbentuk perisai dengan satu kaki di tengah dan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawah. Spoeangium berasal dari sebuah sel pada permukaan, karena pertumbuhan dari jaringan tengah sporangia terdesak ke bawah sehingga akhirnya terdapat pada sisi bawah dan mengelilingi tangkai (Mader, 2001: 565).

Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosoprangium, dan disamping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar meperti lidah. Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetapi di tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita atau yang dinamakan kepala kaptera yang memperlihatkan gerakan higioskopik itu (Dasuki, 1991:172).

Strobili biasanya panjangnya sekitar 2 sampai 4 cm (0,75 sampai 1,5 inci). Berbentuk heksagonal, seperti piring dovetailing pada permukaan srobilus yang memberikan tampilan dari permukaan berbentuk elips. Segi enam masing-masing menandai puncak sporangiospore yang memiliki pemanjangan 5 sampai 10 sporangia yang saling terhubung. Batang dari sporangiophores melekat pada poros tengah dari strobilus. Sporangia mengelilingi tangkai sporangiophore dan berada titik ke dalam. sporangia ini tersembunyi tidak terlihat sampai jatuh apabila sporangiophores terpisah sedikit. Spora ini akan dilepaskan (Stern, 2003: 407).

Siklus hidup dari Equisetum terdiri dari tahap sporofit dan gametofit. Pada tahap sporofit, tunas fertil yang didalamnya terdapat strobilus dan si dalam strobilus terdapat kantung-kantung sporangiospore yang nantinya akan mengeluarkan spora dari sporangium. Selanjutnya terjadi tahap meiosis untuk memproduksi spora dan berkembang menjadi Rhizoid. Pada Rhizoid nanti akan menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan (sperm) dihasilkan oleh Antheridium, sedangkan gamet betina (sel telur) dihasilkan oleh Archegonium. Pada tempat yang cocok keduanya akan bersatu ( fertilisasi) dan tumbuh menjadi zigot yang merupakan gametofit dan berkembang menjadi tunas yang vegetatif. Gambar dari silkus hidup Equisetum ialah sebagai berikut :

 

  1. 5.    Manfaat

Daun-daun paku laut yang dikeringkan dipergunakan sebagai atap rumah. Pucuknya yang muda juga dimanfaatkan sebagai sayuran di beberapa daerah. Daun-daun yang tua dan juga akarnya digunakan sebagai bahan obat tradisional. Selain itu juga banyak digunakan sebagai tanaman hias (Mclean. 1952).

2.5  Davallia solida

( Lailatus syafi’ah Nim: 10620089)

1. Gambar spesies

(  Cak mus, 2012)

  1. 1.   Lokasi

Pengamatan tentang paku kali ini dilaksakan di air terjun Coban Rondo. Air terjun Coban Rondo menurut  administrasi pemerintah terletak di desa Pandesari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Coban Rondo digunakan pertama kali untuk obyek wisata pada tahun 1980. Air tejun berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo. Ketinggian air terjun sekitar 84 meter, ketinggian 1.135 M diatas permukaan air laut. Suhu rata-rata 22 C, curah hujan rata-rata 1721 mm pertahun. Debit air terjun pada musim hujan sekitar 150 liter perdetik dan debit air pada musim kemarau sekitar 90 liter perdetik.

  1. 2.   Sistematika takson:

Kingdom:        Plantae

Division:          Pteridophyta

Class:               Filicinae

Order:              Davalliales

Family:            Polypodiceae

Genus:             Davallia

Spesies: Davallia solida (cak mus, 2012)

Nama umum:

Indonesia: paku sepat atau paku kalici

  1. 3.    Deskripsi:

Pada Pengamatan yang dilakukan di air tejun Coban Rondo kali ini, mahasiswa banyak sekali menemukan jenis tumbuhan paku diantaranya yang berasal dari family Polypodiceae yaitu Davallia solida dan Cheilanthes sp. Davallia yang diamati mempunyai cirri-ciri hidupnya di daerah dataran rendah, batangnya kecil tetapi keras, letak cabang berhadapan, termasuk daun majemuk menyirip ganda dua,  daun berbentuk segitiga dan kaku, tepinya bergerigi, permukaan daun mengkilat. Terdapat sorus yang terletak di tepi daun. Rimpangnya merayap dengan ruas panjang.

Suku polypodiaceae habitatnya macam-macam sekali, daun tunggal atau majemuk dengaan bentuk daan ukuran yang bermacam-macam pula. Tetapi yag banyak dijumpai ialah susunan daun yang majemuk menyirip. Rizom merayap mempunyai ruas-ruas yang panjang, jarang memperlihatkan batang yang nyata. Akar dan daun-daunnya sering kali bersisik atau berambut. Kebanyakan daun fertile sama dengan daun steril, tetapi juga dijumpai adanya dimorfisme. Sori bentuknya bermacam-macam. Letak sorus pada tepi atau dekat tepi daun, dapat pula pada urat-urat, berbentuk garis, memanjang, bulat. Sporangium kadang-kadang sampai menutupi seluruh permukaan bawah daun yang fertil. Sporangium bertangkai dengan annulus vertikal, tidak sempurna; jika masak, pecah dengan celah melintang. Indusium ada atau tidak, melekat pada satu sisi saja, kadang-kadang berbentuk ginjal atau perisai dengan tepi rata atau bertoreh. Rimpang merayap atau berdiri, mempunyai ruas-ruas yang panjang, jarang memperlihatkan batang yang nyata. Daun bermacam-macam, tunggal atau majemuk, dengan urat-urat yang bebas atau saling berdekatan. Akar dan daun seringkali bersisik (Sulisetjono, 2011: 188).

 

Habitat:

Davallia sp termasuk jenis paku yang umumnya menumpang pada tumbuhan lain. Paku ini dapat pula tumbuh pada tanah-tanah cadas, karang atau batu-batu. Biasanya banyak dijumpai tumbuh pada batang jenis palem. Tumbuh bersama-sama dengan paku cecerenean, paku sarang burung atau jenis-jenis paku lainnya. Penyebaran meliputi Asia tropika, Polinesia dan Australia. Tumbuh pada dataran rendah terutama pada daerah-daerah disekitar pantai (Imam.  2009).

Habitus

Davallia solida  memiliki perawakan herba. Tumbuhnya merumpun tetapi ukurannya kecil.

Ciri spesifik

Paku davallia solida mempunya ciri spesifik yaitu ciri-ciri yang tidak di miliki oleh paku lain cirinya stolen yang berambut coklat kemerahan merambat di pepohonan dan sori yang berupa cup di tepi daun , rimpangnya kuat,dan ketika masih muda tertutupi oleh sisik, serta daunnya berbentuk segitiga dan kaku, tepinya bergerigi, dan permukaanya mengkilat sehingga mudah dilihat. Daunnya berwarna hijau muda sampai hijau tua daun menyirip ganda dua atau lebih dengan urat-urat yang bebas. Rimpang merayap dengan ruas-ruas yang panjang, bersisik rapat. Sisik berwarna pirang ( Tjitrosoepomo, 2009:279).

Stipe

Stipe berwarna coklat, dengan panjang sekitar 15 cm. mempunyai ukuran daun yang berbentuk sub delta dengan panjang dan lebar kurang lebig 30 cm. daun mempunyai urat yang cukup jelas. Sori bearda di bagian ahir veinlets, pada segmen pinggir. indusial berbentuk cangkir, mempunyai panjang dua kali lebarnya dengan panjang mencapai15 cm (Sudarsono, 2005).

Frond ( daun )

Daun berbentuk segitiga 60 – 100 kali 40 – 70, seperti kulit, menyirip rangkap, tangkai 15 – 60 cm, anak daun bulat telur memanjang, beringgit, bergerigi dengan urat-urat yang bebas. Helaian daun berbentuk segitiga dan tepi yang bergerigi atau beringgit serta daun yang kaku. Daun-daun ini kaku dan kuat. Permukaan daunnya licin mengkilat, sehingga mudah sekali terlihat dengan jelas. Warna daun hijau sampai hijau tua (Mustofa, 2009).

Batang

Davallia  solida  mempunyai batang yang berbentuk rimpang. Tangkai atau batangnya berwarna coklat kehitaman taruntai halus dengan ukuran ± 0.2 cm dengan percabangan monopodial. Rimpangnya merayap dan memperlihatkan batang yang nyata. Spesiens ini merupakan epifit dan termasuk paku tanah yang isospor Rimpangnya kuat, berdaging kuat, berdaging dan agak menjalar. Bila tumbuhan ini masih muda, rimpang-rimpangnya ditutupi oleh sisik-sisik yang padat, warnanya coklat terang. Bila tumbuhan ini masi muda rimpangnya ditutupi sisik-sisik padat (Tjitrosoepomo, 2009).

Akar ( Rhizoma )

Davallia solida mempunyai ciri rimpang panjang – merayap, berdiameter 6-12 mm. seluruh permukaanya bersisik. Secara bertahap mengalami penyempitan menuju puncak dengan ukuran panjang 4-5 mm. Bagian apikal tipis, berwarna coklat muda, dengan sisik  padat sekitar 1 mm, caducous, pada bagian dasar berwarna coklat gelap hampir hitam. Pada rimpang yang sudah tua mempunyai ukuran kurang lebih 3 mm (Mustofa, 2009).

Menurut Sastrapradja ( 1980 ) Davallia  ini merupakan tumbuhan epifit yang memilki nilai kerapatan relative terbesar diabanding tumbuhan paku lainnya yaitu 52,521 %. Banyaknya tumbuhan Davallia ini diebabkan Karena rhizome yang dimiliki jenis ini panjang dan menjalar pada tumbuhan yang ditumpanginya.

Ental

Selain batang dan daun, yang dapat dilihat secara nyata yaitu, tumbuhan ini mempunytai entalpi. Entalpi berbentuk panjang dan berjumbai serta menyirip. Pada tangkai entalpi ini berwarna coklat gelap dan mengkilap. Mempunyai indusial berbentuk corong, Panjang dan lebarnya ± 1 mm. Smith (1793:157) menyebutnya dengan indusial. Indusial ini berada pada bagian dasar dan berbentuk eperti cagkir. Perbanyakan melalui rimpang. Secara seksual spora dapat digunakan untuk memperbanyak diri. (Widhiastuti. 2006).

Spora

Davallia sp. memiliki sorus yang  bulat atau memanjang, dimana sorus ini  terletak pada sisi bawah daun, atau disepanjang tepi daun,  dan terpisah-pisah. Indisium dari Davallia ini terdapat pada pangkal dan kanan kiri spesies ini. Dimana indusium  berlekatan pada permukaan daun  sehingga bentuknya kurang lebih seperti piala dan terbuka pada arah ketepi daun (Mustofa, 2009).

SISTEM REPRODUKSI

Tumbuhan paku terdiri dari dua generasi, yaitu generasi sporofit dan generasi gametofit. Generasi sporofit dan generasi gametofit ini tumbuh bergantian dalam siklus tumbuahan paku. Generasi sporofit adalah tumbuhan yang menghasilkan spora sedangkan generasi gametofit adalah tumbuhan yang menghasilkan sel gamet (sel kelamin). Pada tumbuhan paku, sporofit berukuran lebih besar dan generasi hidupnya lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Oleh karena itu, generasi sporofit tumbuhan paku disebut generasi dominan. Generasi sporofit inilah yang umumnya kita lihat sebagai tumbuhan paku (Tjitrosoepomo. 2009).

SIKLUS  HIDUP

Davallia merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan baru (Sudarsono, 2005).

  1. Manfaat

Davallia mempunyai bentuk yang cukup menarik sehingga banyak diamnfaatkan sebagai tanaman hias, dapat digunakan sebagai unsur pendukung dalam karangan bunga. Selain itu tumbuhan ini dapat ditanam ditempat-tempat yang terlindung maupun tempat-tempat yang terbuka. Dalam suatu penelitian, telah diketahui bahwa tanaman ini mengandung asam hidrosianik.

2.6  Pteris vittata

( Lailatus Syafi’ah Nim : 10620089)

  1. 1.    Gambar

       

( cak mus, 2012)

  1. 2.    Lokasi:

Lokasi penelitian paku Pteris vittata juga dilakukan di air terjun Coban Rondo malang. Secara geografis letaknya sama dengan paku Davallia solida di atas tadi.

  1. 3.    Sistematika takson:

Kingdom  Plantae

Devisi  Pteridophyta

Class  Filicopsida

Orders  Polipodiales

Family  Pteridaceae

Genus  Pteris

Spesies  Pteris vittata (cak mus, 2012)

  1. 4.    Deskripsi

Tanaman paku yang di ketahui pada saat pengamatan di Coban Rondo yaitu tanaman paku dengan ciri-ciri memiliki perakaran serabut, dan perawakan dari tanaman paku ini adalah herba, hidupnya di tanah, bentuk daunnya memanjang, termasuk daun majemuk menyirip warnanya hijau tua, batangnya panjang pada permukaanya terdapat rambut-rambut halus yang berwarna coklat. Sporanya terdapat pada sepanjang daun, dengan seperti seperti ini maka paku yang di temukan termasuk kedalam genus pteris dengan nama spesiesnya yaitu Pteris vittata.

 

Ciri spesifik :

Pteris sp. termasuk dimorfisme yaitu, antara sporofil dan tropofil dalam satu individu berbeda bentuk atau ukuranya. Daun tropofil adalah daun yang berfungsi untuk proses fotosintesis sedangkan daun sporofil merupakan penghasil spora. akar berwarna coklat dan memiliki ciri pada saat masih muda kuncup daunnya menggulung.

Habitat

Pteris vittata termasuk paku tanah yaitu  paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok, dan tebing terjal. Kebanyakan jenis paku ini banyak tumbuh pada batu-batu atau pada tebing sungai, yang menyukai kelembapan. Rimpangnya menjalar pada pemukaan batuan dan akar-akarnya masuk ke celah-celah batu. Tumbuh paku ini banyak ditemukan liar di bagian-bagian dari dunia, seperti Amerika tropis, Asia tropis, India, Negeri China, Jepang, Barat Indies, Afrika selatan, Australia Austria, Selandia Baru dan Eropa.

Habitus

Tumbuhan paku, hampir semunya berupa herba atau agak berkayu. Akan tetapi ada pula yang berupa pohon, misalnya anggota Cyatheaceae. Pteris vittata merupakan jenis herba. Daun tumbuhan paku mempunyai bentuk khas yaitu berupa ental (frond).

Daun

Daunnya sporofil (daun fertile) yaitu daun yang berfungsi menghasilkan spora. Biasanya hampir semua sporofil berfungsi sebagai organ fotosintesis. Venansi tumbuhan paku ini bergulung atau daun muda yang menggulung dan akan membuka jika telah dewasa. Pada umumnya daun tumbuhan paku berwarna hijau. Bentuk daunnya mememanjang, tepinya rata, ujung daunnya setengah meruncing, daunnya berhadapan bersilang, teksturnya selaput berupa helaian, dan permukaan daunnya kasar.

Jenis daunPteris  vittata adalah majemuk menyirip, tepi daunya halus atau tidak bergerigi, tepi daunnya rata. Terdapat ental, pada kelompok paku-pakuan mempunyai bentuk yang khas yang berbeda dengan daun tumbuh-tumbuhan lainya, sehingga biasa disebut ental (frond). Bentuk daunya memanjang, berukuran ±3,5 cm, daun paku-pakuan sangat bervariasi ukurannya dari yang berukuran beberapa milimeter (mm) sampai berukuran centimeter (cm). Daun Pteris sp. tergolong anisofil yaitu daunya terdiri dari dua ukuran yaitu yang satu lebih besar dari yang lainnya (Moertolo,  2004).

Warna daun pada Pteris sp. adalah hijau tua, peruratan (vernasi) menyirip, ujung-ujungnya bergabung dengan urat lain sehingga memperlihatkan garis yang dekat dengan tepi. Tekstur daun adalah helaian atau seperti selaput (tekstur daun tumbuhan paku bervariasi seperti selaput atau helaian atau seperti selaput tebal atau kulit). Permukaan daunnya halus atau gundul. Tangkai daun berukuran ±28cm.

Batang

Semua batang paku-pakuan berupa rimpang karena pada umumnya arah tumbuhnya menjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak. Bentuk batang tumbuhan paku ini panjang, ramping, dan sirkuler linier. Permukaannya kasar dan ditumbuhi rambut-rambut halus. Berwarana coklat sampai coklat kehitaman dan bercabang. Mempunyai ramenta yang berbentuk lanset atau bercabang seperti bintang. Ramentanya mudah lepas sehingga pada massa tua tidak terdapat sama sekali.

Batang Pteris vittata berbentuk bulat beralur secara longitudinal, beruas-ruas panjang dan kaku, permukaan pada batangnya halus tetapi perlu diketahui bahwa batang paku-pakuan tidak selalu halus, tetapi kadang-kadang dihiasi dengan bentukan seperti rambut atau sisik berwarna hitam atau coklat, lapisan lilin dan sisa-sisa tangkai. Pada batangnya tidak di terdapat rambut, ukuran batangnya biasanya sekitar  ± 40 cm, dan diameternya adalah  ± 25cm. Ukurang batang pada paku-pakuan sangat bervariasi dari beberapa millimeter (mm) sampai beberapa centimeter (cm), warna batang Pteris vittata hijau kecoklatan. Dan bentuk percabangannya adalah percabangan

Akar

Pada umumnya akar paku-pakuan adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom, tetapi ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Namun tidak semua paku-pakuan mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales fungsi akarnya digantikan oleh rhizoid. Letak akar Pteris vittata yaitu pada pangkal rimpang yang tegak dan bentuk akarnya tipis, kasar, dan warnanya coklat tua.

Spora

Sporangium umumnya dibentuk pada permukaan bawah atau tepi daun fertile (sporofil), yang berwarna coklat. Sorusnya dilindungi oleh indusium dengan bentuk ginjal dan dilindungi oleh indisium palsu yaitu pelindung yang terjadi karena pelipatan tepi daun. Permukaan bawah daun Pteris vittata terdapat sori (bentuk tunggal dari sorus), setiap sori berisi kelompok sporangia (penghasil spora). Sori tidak selalu di bagian bawah daun paku yang mempertunjukkan sori, sori ini berisi suatu kelompok sporangia ( penghasil spora)

Siklus Hidup

Tumbuhan paku ini berkembang biak dengan cara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan generative dimulai dengan pembentukan spora yang dihasilkan oleh sporangium. Spora yang dihasilkan oleh sporangium merupakan hasil meiosis meiospora. Jika spora tersebut jatuh di tempat yang sesuai, maka spora akan tumbuh dan berkembang menjadi protalus (protalium).

SISTEM REPRODUKSI


Sporofil

Susunan sporofil pada sporofit bervariasi, mulai dari yang tidak berkelompok sampai yang berkelompok. Sporofil yang berkelompok ada yang tersusun antara lain longgar dan tidak longgar.

Kumpulan sporangium (sorus) berada pada bagian tepi bawah daun, sorus berwarna coklat dan terletak berjejer. Sporangium merupakan kapsul yang berbentuk kanta dwicembung. Dinding sporangium terdiri satu atau beberapa lapisan sel , kecuali pada bagian tepinya terdapat suatu lapisan sel berdinding tebal yang mengelilingi sebagian kapsul yang dinamakan anulus. Pada bagian ujung lingkaran terdapat satu kumpulan sel yang pipih yang dikenali sebagai stomium. Apabila sporangium masak sel stomium akan pecah dan membebaskan spora yang terdapat didalamnya. Sporangium pada Pteris vittata  berbentuk seperti jantung atau agak bulat atau oval. Indisiumnya berbentuk menyerupai cangkir.

Sorus merupakan satu untaian (nama khasnya spika) seperti yang ditemui pada Ophioglossum, atau berbentuk garis panjang seperti pada genus Pteris atau yang bulat seperti genus Phymatodes. Kedudukan dan susunan sorus amat penting karena ia akan menentukan genus dan spesis paku – pakis.

Pteris merupakan pakis homospor yang mempunyai tipe gametofit yaitu tipe jantung, tipe gametofit ini yang paling umum. Protaliumnya berbentuk pipih, alat kelamin (gametangium) terletak pada permukaan ventral (bawah), arkegonium biasanya terletak didekat takik, anteridium umumnya terletak di antara rizoid.
Tidak semua daun pada Pteris memiliki sorus (sori), daun paku yang memiliki sorus merupakan daun fertil yang disebut daun sporofil, jika daun sporofil (daun fertil) diletakkan di atas permukaan kertas polos, maka bentuk spora akan terlihat seperti serbuk bedak berwarna hitam, ciklat, kemerahan, kuning atau hijau tergantung jenis tumbuhan pakunya. Masing-masing spora akan tumbuh menjadi paku dewasa melalui proses yang kompleks, dan daun paku yang tidak memiliki sorus disebut daun steril.

Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis dan merupakan daun monomorfik, berkumpul atau berdekatan, berukuran 1-20 dm.Sorus dilindungi oleh indusium palsu yaitu pelindung yang terjadi karena pelipatan tepi daun. Sorinya tersebar dipermukaan daunnya, sepanjang uratnya dan membentuk barisan yang tidak tertutup. Pada jenis Pteris tertentu sorinya berwarna kuning emas, dan karena hampir seluruh permukaan bawah tertutup oleh sori, maka warnannya menjadi kuning emas. Warna dari sporanya bermacam-macam tergantung jenisnya diantaranya yaitu cokelat, trilete, tetrahedral, rugate dan tuberculate, biasanya dengan tonjolan yang mengarah ke pinggir. Sporangia intramarginal, sori biasanya saling bersinambungan atau saling melekat satu sama lain kecuali pada segmen pinna atau puncak dan sinus, terdapat paraphyses.

  1. MANFAAT

Dari segi keindahan jenis ini cukup berpotensi untuk tanaman hias. Pemeliharaannya pun tidak terlalu sukar. Sebenarnya jenis ini berasal dari Amerika tropis, dan didatangkan untuk tanaman hias. Jenis paku ini pun lebih banyak digunakan sebagai tanaman ground cover apabila ditanam secara bergerombol, karena mempunyai perawakan yang kecil dan pendek.

2.7  Adiantum hispidulum

( Luluk Lugiati Sholihah Nim: 10620093)

  1. 1.      Gambar

                       (Gambar pengamatan)          (Cakmus, 2012)

  1. 2.      Lokasi

Identifikasi terhadap tumbuhan paku ini dilaksanakan di Coban Rondo. Pada hari Minggu, tanggal 18 Maret 2012.

  1. 3.      Sistematika

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Pteridopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Pteridaceae

Genus : Adiantum

Spesies : Adiantum hispidulum (Cakmus, 2012)

 

 

  1. 4.      Deskripsi

Dari hasil pengamatan terhadap Adiantum hispidulum dapat diketahui bahwa paku ini dapat ditemukan ditempa-tempat yang lembab diantara batu-batuan. Habitus dari paku ini adalah perdu. Akar berupa rimpang pendek mengelompok  berwarna gelap. Stipe halus, tanpa rambut, berbentuk bulat silindris dengan diameter ± 0,1 berwarna  hitan gelap pnjangnya sekitar 15 cm. Percabangan dikotomis terbagi.Daun berbentuk bulat panjang yang sempit, yang masing-masing terbagi lagi menjadi lebih kecil sekitar empat persegi panjang, seperti berlian, atau berbentuk kipas. peruratanya jelas dan teksturnya kasar. Daun berwarna hiaju tua dengan tepi berombak. Pada masing-masing ental memiliki 1 hingga 20 sori yang berada dibawah permukaan bawah daun sebalah pinggir. Sori berwana coklat tua.

Hasil ini sesuai dengan literatur, dalam jurnal botani dijelaskan bahwa Rimpang pendek merayap, tertutup oleh sisik coklat tua; rootlets kurang bulbils. Daun 5-70 cm, palmately atau dikotomus dibagi, segmen utama untuk asimetris dan simetris sangat lama mengintai; segmen 5-13 mm, tangguh, pucat sampai hijau tua; segmen utama dari daun puber atau jarang gundul; hitam Stipe, gemuk, agak kasar untuk scabrous; Stipe dan rachises jarang berbulu. Sori kecil, 1-20 per segmen, berdekatan bersama margin luar dan bagian atas. Spora menjadi 32 per sporangium, coklat, garis besar dalam pandangan kutub segitiga untuk cembung-segitiga; spora dibatalkan biasanya banyak, menyerpihkan halus perine, longgar mengikuti exine (Large, 1993).

  1. 5.      Manfaat

Adiantum hispidulum biasanya digunakan sebagai tanaman hias. Selain itu paku ini juga mengandung bhan organi yang baik untuk menjaga kelembaban tanah. Dapat juga mencegah kekeringan (Latifah, 2004).

2.8  Nephrolepis falcata

( Luluk Lugiati Sholihah Nim: 10620093)

  1. 1.    Gambar

 

 

 

 

  1. 2.    Lokasi

Identifikasi terhadap tumbuhan paku ini dilaksanakan di Coban Rondo. Pada hari Minggu, tanggal 18 Maret 2012.

 

  1. 3.    Sistematika

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Dryopteridaceae
Genus: Nephrolepis
Spesies: Nephrolepis falcata (Cakmus,2012).

 

  1. 4.      Deskripsi

Berdasarkan pengamatan terhadap Tanaman paku dapat diketahui bahwa paku ini merupakan tanaman herba.  stipes berbentuk bulat, silindris panjang 10-25 cm. Daun tunggal,menyirip yang luas berbentuk  lanset panjang 35-120 cm dan 9-11 cm lebar dan kemiringan ke arah atas tapi sedikit menuju pangkal. Daun berwarna hijau dengan ujung meruncing, tepi daun bergerigi. Memiliki rimpang tegak pendek yang ditutupi dengan sisik coklat tua, memproduksi stolons benang panjang dari tanaman muda yang muncul sepanjang panjangnya. Sori, berbentuk bulat, terletak di permukaan bawah dau.

Hasil pengamatan ini sesuai dengan literatur. Dalam jurnal biologi  dijelaskan bahwa Nephrolepis falcata (Cav.) C.Chr. Enthal tunggal, tersusun menyirip, warna hijau; ujung runcing; tepi bergerigi. Sori berbentuk bulat, berupa bintik-bintik kecil di tepi enthal, terdapat di permukaan bawah enthal (Aththorick,2007).

Umumnya hidup di tanah tetapi ada juga yang hidup epifit. Disebut sebagai paku pedang karena entalnya memanjang berbentuk pedang. Mudah beradaptasi karena bersifat epipit dan memiliki kumpang yang tahan kering yang menjalar kemana-mana (Muspiroh,2010).

Tergolong kromofita sejati karena sudah menyerupai tumbuhan tinggi. Batang berbentuik bulat, berwarna kecoklatan.Memiliki akar serabut, memiliki akar yang dibawah permukaan tanah. berfungsi menyerap air dan nutrisi dari tanah.Terdapat percabangan pada tulang daun, pada ujung urat daun terdapat sporangium yng tertata dengan rapi disepanjang tepi daun (Muspiroh,2010).

Sedangkan secara anatomi mengandung pigmen klorofil untuk fotosintesis.Sorus merupakan kumpulan dari spora.Indusium adalah suatu lapisan pelindung untuk melindungi sporangium terutama yang masih muda. Spora adalah struktur pembiakan halus yang dihasilkan oleh paku – pakis. Spora berbentuk bulat, menempel pada permukaan bawah daun. Silinder pusat terdiri dari xilem dan floem. Fase sporofit menghasilkan spora haploid melalui pembelahan meiosi. Spora tumbuh melalui bagian selnya menjadi gametofit. Gametofit menghasilkan gamet melalui pembelahan mitosis (Prawiro,2007).

 

  1. 5.    Manfaat

Nephrolepis falcata memiliki penggunaan gizi di mana daun tersebut direbus dan dimakan sebagai sayuran dan akar ditumbuk untuk tepung. Selain itu, beberapa bagian pakis dimanfaatkan sebagai obat tradisional di daerah tertentu untuk pengobatan bisul, luka, luka dan luka. Tanaman penyerap paling efektif untuk formaldehid. Sebagai bahan pembuat obat cacing. Dapat mengobati kanker perut (Muspiroh,2010).

2.9  Asplenium nidus

( Riftin Mazidah Nim: 10620106)

  1. 1.    Gambar:

 

                        Http://www.sci.muni.cz

  1. 2.    Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Aspleniaceae
Genus: Asplenium
Spesies: Asplenium nidus Linn.   (http://www.plantamor.com)

  1. 3.    Deskripsi

Habitus :

Termasuk tumbuhan herba.

Habitat:

Terestrial, paku epifit pada pohon tinggi, Tumbuh tersebar di seluruh kawasan yang diamati mulai 1.060-1.240 m dpl. Tumbuh epifit di batang pohon yang telah ditebang sampai di ranting pohon besar. Secara umum tumbuhan ini banyak ditemukan baik di dataran rendah maupun daerah pegunungan sampai ketinggian 2.500 m dpl., sering menumpang di batang pohon tinggi, dan menyukai daerah yang agak lembab dan tahan terhadap sinar matahari langsung. Tanaman ini tersebar di seluruh daerah tropis.Paku Sarang Burung atau nama saintifiknya Asplenium nidus adalah spesies epifit yang biasanya ditemui di kawasan tanah pamah, kawasan pergunungan dan kawasan hutan sekunder. Bahagian tengah spesies ini mampu mengumpul daun-daun kering daripada pokok sokongan melalui struktur berbentuk bakul dan mereputkannya untuk mendapatkan nutrien dan bahagian ini juga menyerap air hujan dan menyimpannya sehingga hujan yang seterusnya. Paku sarang burung merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias halaman. Orang Sunda menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan kedakah. Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik.Di daerah Pasundan paku ini dikenal dengan nama kadaka. Orang Jawa menyebutnya simbar merah, di Kalimantan disebut lokot dan di Maluku disebut tato hukung. Di ujung Pandang oleh orang Bugis menyebut bunga minta doa. Umumnya masyarakat menyebut paku sarang burungPakis Sarang burung berasal dari Malaya, kini tersebar luas di seluruh daerah tropika. Dapat tumbuh dari dataran rendah sampai ketinggian 2.500 m dpl. Orang bugis mempercayai bila tanaman ini tumbuh subur bertanda kehidupan dalam keluarga rukun dan makmur begitu pula sebaliknya bila merana mendapat kesulitan (Sastrapraja, dkk. 1979). Asplenium nidus L. di Bali sering digunakan sebagai tanaman hias untuk menata taman, merangkai bunga dan akarnya dicincang alus dapat digunakan untuk media mencangkok tanaman (Darma, 2006). Di Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Asplenium nidus. L tumbuh pada pohon-pohon yang besar terutama pada pohon di tepi sungai.

Daun:

Daun tunggal tersusun pada batang sangat pendek melingkar membentuk keranjang. Daun yang kecil berukuran panjang 7 -150 cm, lebar 3 – 30 cm. perlahan-lahan menyempit sampai bagian ujung. Ujung meruncing atau membulat, tepi rata dengan permukaan yang berombak dan mengkilat. Daun bagian bawah warnanya lebih pucat dengan garis-garis coklat sepanjang anak tulang, daun bentuk lanset, tersusun melingkar, ujung meruncing, warna daun bagian atas hijau terang, bagian bawah hijau pucat. Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung..Tangkai daun kokoh, hitam, panjang sekitar 5 cm. Tulang daun menonjol di permukaan atas daun, biasanya hampir rata ke bawah, berwarna coklat tua pada daun tua. Urat daun bercabang tunggal, kadang bercabang dua, cabang pertama dekat bagian tengah sampai ±0, 5 mm dari tepi daun. Tekstur daun seperti kertas.Daun-daun terbentuk dari tengah pokok dan kemudian bersusun-susun membentuk roset yang diselaputi sisik berwarna coklat tua di pangkalnya.Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang. Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung.Dikenal juga sebagai paku sarang burung. Bentuk daunnya lebar secara visual serupa dengan daun pisang, panjangnya bisa mencapai 50-150cm dan lebar 10-20 cm. Warna daun hijau muda, berkerut, dan pelepah berwarna hitam.

Batang:

Rhizome yang pendek ditutupi oleh sisik yang halus dan lebat, sisik berwarna coklat.

Akar:

Paku epifit dengan akar rimpang kokoh, tegak, bagian ujung mendukung daun-daun yang tersusun roset, di bagian bawahnya terdapat kumpulan akar yang besar dan rambut berwarna coklat, bagian ujung ditutupi sisik-sisik sepanjang sampai 2 cm, berwarna coklat hitam. Akar tumbuh di sepanjang batang pendek untuk mengukuhkan struktur Paku Sarang Burung ini.

Sorus/sori:

Sorus terletak di permukaan bawah daun, tersusun mengikuti venasi atau tulang daun, bentuk garis, warna coklat tua. Sori sempit, terdapat di atas tiap urat daun dan cabang-cabangnya mulai dari dekat bagian tengah daun sampai bagian tepi, hanya sampai bagian tengah lebar daun. dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae). Sorus berbentuk garis, tersusun rapat di permukaan bawah daun fertil dekat ibu tulang daun, berwarna coklat. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang. Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya. . Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).

Siklus hidup:

  1. 4.    Manfaat:

Manfaat Obat penyubur rambut (Boon, 1999), demam, sakit kepala (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000), kontrasepsi, gigitan atau sengatan hewan berbisa (Baltrushes, 2006). Daunnya ditumbuk dan dicampur dengan parutan kelapa kemudian dioleskan pada rambut (Boon, 1999). Anti radang dan pelancar peredaran darah.Jenis ini sudah umum untuk tanaman hias, selain itu juga dapat digunakan sebagai obat tradisional seperti sebagai penyubur rambut, obat demam, obat kontrasepsi, depuratif, dan sedative,obat bengkak; daun paku sarang burung segar sebanyak segar sebanyak 15 gram, dicuci, ditumbuk halus dan ditambah sedikit anggur kemudian diborehkan ke bagian yang sakit,obat luka memar: daun paku sarang burung segar sebanyak 15 gram, dicuci dan direbus dengan 200 nil air sanipai mendidih selama 15 menit, dinginkan dan saring. Hasil saringan diminum sekaligus dan lakukan pengobatan sebanyak 2 kali sehari, pagi dan sore.

2.10      Cyathea cooperi

( Riftin Mazidah Nim: 10620106)

  1. 1.    Gambar:

   

www.taxateca.com/ordencyatheales.html

  1. 2.    Sistematika Takson

Kingdom: Plantae

Division: Pteridophyta

Class: Pteridopsida

Order: Cyatheales

Family: Cyatheaceae

Genus: Cyathea

Species: Cyathea cooperi  (Braggins, 2004).

  1. 3.    Deskripsi:

Habitus:

Termasuk tumbuhan paku pohon.

Habitat:

Anggota dari suku ini, banyak dijumpai didaerah tropika dan sub tropika. Cyathea cooperi sering ditemukan tumbuh di Australia juga dan tampaknya diimpor ke negara itu. Spesies ini tumbuh di kondisi pertumbuhan sangat basah di Selandia Baru termasuk rawa dan Boggs. Ini biasanya tumbuh di sepanjang pantai Queensland dan New South Wales di negara Australia. Pohon pakis bisa mencapai 30 kaki (hampir 10 meter) di habitat aslinya, tapi jarang terlihat dalam budidaya lebih besar dari 8 (2,5 meter) kaki. Para daun dari Cyathea cooperi juga bisa menjadi 8 kaki (2,5 meter) tapi selalu akan lebih kecil bila ditanam dalam sebuah wadah. C. cooperi membutuhkan tanah yang sangat baik dikeringkan dan dalam kebanyakan kasus cahaya disaring cerah. Australia pohon juga dikenal sebagai Cyathea cooperi, Cooper pohon pakis, pakis pohon bersisik dan berenda pohon pakis. Ini adalah pilihan populer pemilik rumah sebagai tanaman hias. Meskipun asli Australia, itu adalah ditemukan di seluruh dunia, khususnya di daerah tropis dan subtropis. Bentuk mahkota yang dibentuk oleh susunan daun daun, memberikan pohon menyenangkan. Hutan hujan dan selokan adalah habitat alami yang asli untuk Australia pohon pakis. Oleh karena itu, iklim yang paling cocok untuk Australia pohon pakis adalah lingkungan yang lembab. Bahkan kering iklim ini cocok untuk pohon, asalkan tanah tetap basah sepanjang waktu. Mereka tidak bisa mentolerir terlalu banyak sinar matahari dan karenanya harus ditempatkan di daerah-daerah teduh atau sebagian berbayang. Pohon adalah cepat tumbuh dan tanaman asli uproots pohon dengan membentuk tebal berdiri. Hal ini karena pohon menyebar spora dengan kecepatan sangat cepat dengan bantuan dari angin dan pohon-pohon tumbuh segera dalam seminggu atau lebih.

Daun:

Daun besar dan panjangnya dapat sampai beberapa meter, biasanya berupa daun majemuk menyirip ganda. Merupakan paku tiang dengan bekas daun yang jelas di batang.  Daun tersusun sebagai roset batang, menyirip ganda (Bepinnate),  daun yang masih muda tegak atau serong, akhirnya mendatar dan  yang telah kering menggantung . Bentuk mahkota yang dibentuk oleh susunan daun daun, memberikan pohon menyenangkan. Susunan spiral daunnya memberikan tampilan yang elegan. Dedaunan pohon cemara di semua musim dan tidak mengubah di falls.

Batang:

Paku ini mempunyai batang yang kuat. Tinggi batang dapat mencapai 15 meter dengan diameter antara 25-50 cm. Pohon tumbuh hingga ketinggian hampir 15 kaki. Pohon memiliki tinggi satu batang yang sekitar satu kaki dalam diameter. Pohon diliputi dengan pola bersisik oval dipangkas. Mereka sebagian besar pakis terestrial, biasanya dengan batang tinggi tunggal. Jarang, bagasi dapat bercabang atau merayap. Bagian tengah batang (anatomi batang )dikelilingi oleh bagian yang  berkayu, merupakan berkas-berkas pengangkut yang dikelilingi  oleh lapisan-lapisan sklerenkim . Batang pada sebagian besar paku tidak terlihat karena berada di dalam tanah dalam bentuk rimpang. Akan tetapi, ada pula yang memiliki batang di permukaan tanah yang bercabang, seperti pada Cyathea.

Akar:

Banyak spesies juga mengembangkan massa fibrosa akar di dasar bagasi. Akar pada paku bersifat seperti serabut yang ujungnya dilindungi oleh kaliptra (tudung akar).

Sorus/sori:

Sori cangkir berbentuk pada bagian bawah daun. Sorus mengandung banyak sporangium yang terletak di bagian bawah daun, sorus bentuk bola. Indusium bisa ada atau tidak, jika ada berbentuk bola, piala atau  mangkok. Sorus agak jauh dari tepi daun, yang muda diliputi oleh indusium berbentuk bola,. Indusium akhirnya robek, hingga bentuk seperti piala atau cawan, daun menyirip ganda. Spora ini tumbuh di bawah daun pohon.

Siklus hidup:

  1. 4.    Manfaat:

Cyathea cooperi adalah pilihan populer pemilik rumah sebagai tanaman hias. Pohon tumbuh hingga ketinggian hampir 15 kaki dan digunakan sebagai indoor houseplant maupun outdoor tanaman untuk berkebun.

2.11      Adiantum  sp.

( Ni’matur Rochmah Nim: 10620109)

  1. 1.    Gambar

(Cakmus, 2012)

  1. 2.    Sistematika Takson (Cakmus, 2012):

Kingdom   Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi   Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas  Pteridopsida
Sub Kelas  Polypoditae
Ordo  Polypodiales
Famili   Adiantaceae
Genus  Adiantum
Spesies  Adiantum sp.

  1. 3.    Lokasi

Pengamatan tumbuhan paku ini dilaksanakan di air terjun Coban Rondo yang terletak di desa Pandesari kecamatan Pujon kabupaten Malang dan menurut administrasi pengelolaan hutan Cobanrondo masuk wilayah KPH ( Kesatuan Pemangkuan Hutan ) Perum Perhutani Malang. Coban Rondo merupakan tempat wisata air terjun yang pertama kali digunakan sebagai objek wisata pada tahun 1980. Air Terjun ini memiliki ketinggian yaitu 84 meter, ketinggian dari permukaan air laut yaitu 1.135 meter. Suhu rata-rata ± 220C dan curah hujan rata-rata mencapai 1721 mm pertahun. Sumber air di air terjun ini berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo.

  1. 4.    Deskripsi

Suplir adalah sebutan awam bagi segolongan tumbuhan yang termasuk dalam genus Adiantum, famili Adiantaceae. Sebagai tumbuhan paku-pakuan, suplir tidak menghasilkan bunga dalam daur hidupnya. Perbanyakan generatif suplir dilakukan dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun bagian tepi tanaman yang sudah dewasa.

Genus Adiantum memiliki penampilan yang jelas berbeda dari jenis paku-pakuan lain. Daunnya tidak berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat. Sorus merupakan kluster-kluster di sisi bawah daun pada bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium yang dilindungi oleh indusium. Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain, daun tumbuh dari rizoma dalam bentuk melingkar ke dalam (bahasa Jawa mlungker) seperti tangkai biola (disebut circinate vernation) dan perlahan-lahan membuka. Akarnya serabut dan tumbuh dari rizoma.

Adiantum Sp hidup di tanah, hampir  semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Letak akar tumbuhan paku bermacam-macam, pada Adiantum Sp akarnya serabut, tumbuh dari rizoma yang pakalnya rimpang, tegak dan berwarna coklat. Semua batang paku-pakuan kerap berupa rimpang karena umumnya arah tumbuhnya menjalau atau memanjat, bentuk batangnya bulat panjang, permukaan batangya halus, ukuraya berdiameter 1 mm, warna coklat dan percabangan monopodial.

Jenis daun pada Adiantum Sp ini adalah majemuk, tulang daunnya menyirip atau sporofil (daun fertil) yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis.

Adiantum memiliki penampilan yang jelas berbeda dari jenis paku-pakuan lain. daunnya tidak berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat. Sorus merupakan kluster-kluster di sisi bawah daun pada bagian tepi. Spora. terlindungi oleh sporangium yang dilindungi oleh indisium. Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain.

Daun paku-pakuan mempunyai bentuk yang khas yang bebeda dengan daun tumbuh-tumbuhan lain sehingga biasa disebut ental. Ental pada Adiantum Sp bergulung melingkar, dimana pinula (anak daun) terdapat sorus dan pinna (menyirip) bergerigi, bentuk bangun memanjang, bentuk ujungnya tumpul dan tepinya bergerigi.

Pada beberapa paku-pakuan Adiantum Sp selain ciri-ciri umum juga mempunyai cirri-ciri khusus, antara lain:

a.   Terdapat vernasi bergelung

b.   Tidak ada dimorfisme

c.   Tidak ada daun tereduksi

d.   Tidak ada daun sarang

e.   Tidak ada ligula

f.    Tidak ada daun daun penumpu (stipula)

Sporangium pada Adiantum Sp terletak dibawah permukaan daun (dipinggir) teratur. Sorus berada dibawah permukaan daun letaknya tersebar atau teratur dimana dalam satu daun terdapat 4-6 sorus. Warna sporangiumnya yang muda berwarna putih dan yang tua berwarna coklat. Indisium yaitu membran penutup yang merupakan perkembangan dari epidermis bawah daun. Pada daun Adiantum Sp bentuk indisiumnya memanjang.

2.12      Asplenium scandicinum

( Ni’matur Rochmah Nim: 10620109)

  1. 1.    Gambar

( Cakmus, 2012)

  1. 2.    Sistematika Takson (Cakmus, 2012):

Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi  Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas  Pteridopsida
Sub Kelas  Polypoditae
Ordo  Polypodiales
Famili  Aspleniaceae
Genus  Asplenium sp.

 3.  Deskripsi Morfologi

 

Jenis paku ini sering disebut dengan nama paku kenying, dan sekarang masih banyak ditemukan dimana-mana di hutan yang masih lebat. Tumbuhnya bias secara epifit, tetapi juga dapat tumbuh di batu-batuan atau tanah liat yang keras. Tumbuh di dataran tinggi dengan ketinggian mencapai antara 1.000-2.200 m dpl, terutama di tempat-tempat yang terlindung dan agak basah atau lembab.

Family Aspleniaceae memiliki ciri-ciri morfologi Akar rizoma yang pendek, kebanyakan batang merunduk, terdapat tangkai majemuk yang sederhana, tulang daun yang menyebar, tulang daunnya bebas, dari ujung akan menyatu membentuk suatu submarginal tulang daun. Sori memanjang sepanjang tulang daun, dangkal (superficial), indusial yang sama panjang, spora bilateral dengan perispora (Tagawa, 1988).

Daun tunggal tersusun pada batang sangat pendek melingkar membentuk keranjang. Daun yang kecil berukuran panjang 7 – 150 cm, lebar 3 – 30 cm. Ujung meruncing atau membulat, tepi rata dengan permukaan yang berombak dan mengkilat. Daun bagian bawah warnanya lebih pucat dengan garis-garis coklat sepanjang anak tulang daun. Hidup didaerah tropika. Dapat tumbuh dari dataran rendah sampai ketinggian 2.500 m dpl.

Daun  Family ini mempunyai bentuk yang disebut ental. Tangkai entalnya untuk ml membedakan dari tangkai yang lain. Bagian pipih ental sering disebut lamina yang bisa berbentuk tunggal atau terbagi-bagi menjadi beberapa atau banyak anak daun yang menyirip. Tiap anak daun dari daun yang menyirip disebut sirip (pinna) dan poros tempat sirip berada disebut rakis, jika tiap sirip bersirip lagi, seluruh ental disebut bersirip ganda dan setiap anak daun terkecil disebut pinulla. Tepi anak daun yang terbagi oleh tulang daun di sisi yang menuju ental disebut akroskopi, yang menuju pangkal ental disebut basiskopi.

Batang : berupa rimpang karena arah tumbuhnya menjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak. Disamping itu juga mempunyai cabang dengan arah tumbuh tegak atau menggantung. Permukaan batang tidak selalu halus.Ukuran batang sangat bervariasi dari beberapa millimeter sampai beberapa meter, diameter juga bervariasi dari beberapa millimeter sampai sentimeter.

Akar : serabut yang bercabang-cabang secara dikotom, letak akar di sepanjang bagian bawah rimpang yang menjalar pada seluruh permukaan rimpang. Bersifat seperti akar serabut, ujungnya dilindungi kaliptra yang terdiri atas sel – sel yang dapat dibedakan dengan sel – sel akarnya sendiri.

Menurut Abdurrahim (2006) Ciri-ciri dari paku ini, sebagai berikut: berlimpang pendek, ujung tunasnya bersisik, berwarna coklat dan sisik tersebut dapat mencapai panjang 1 cm. jumlah entalnya dalam tiap pohon cukup banyak. Ental-ental tersebut menyirip dan tumbuhnya tegak, panjang tiap ental mencapai 100 cm lebih dan tiap ental terdiri atas anak-anak daun yang letaknya berpasangan. Anak daunnya tidak bertangkai, bercuping dangkal dan tipenya bergigi. Pangkal anak daunnya besar sebelah, sedangkan ujungnya lancip di permukaan atas daunnya berwarna hijau gelap, mengkilap.

2.13 Adiantum tenerum

(Izzatul Muhimmah Nim:10620111)

1. Gambar

 

       (  Foto sendiri.2012)                                  (Cakmus. 2010)

2. Sistematika Taksonomi

 

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Adiantaceae
Genus: Adiantum
Spesies: Adiantum tenerum Sw.(Cakmus.2010)

3. Deskripsi

Suplir( Adiantum Tenerum)  adalah sebutan awam bagi segolongantumbuhanyang termasuk dalam genus   Adiantum   famili Polipodiaceae.  Sebagai tumbuhan paku-pakuan,suplir tidak menghasilkan bunga dalamdaur hidupnya. Perbanyakan generatif  suplir dilakukan dengan spora yang terletak pada sisi bawahdaun  bagian tepi tanaman yang sudah dewasa. Suplir memiliki penampilan yang jelas berbeda dari jenis paku-pakuan lain. Daunnya tidak berbentuk memanjang,tetapi cenderung membulat.Sorus  merupakan kluster-kluster di sisi bawah daun pada bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium yang dilindungi oleh indusium. Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang  bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain, daun tumbuh dari rizoma dalam bentuk melingkar ke dalam (bahasa Jawamlungker  ) seperti tangkai biola (disebut circinate vernation ) dan perlahan-lahan membuka.Akarnya serabut dan tumbuh dari rizoma.Tanaman ini tidak memliliki nilai ekonomi penting. Fungsinya yang utama adalah sebagai tanaman hiasyang bisa ditanam di dalam ruang atau di luar ruang. Suplir sangat suka tanah yang gembur, kaya bahan organik (humus).Pemupukan dengan kadar nitrogenlebih tinggi disukainya. Pembentukan spora memerlukan tambahan fosfor  dan kalium.

Paku tanah, tinggi 0,25 -1,30 m. Akar rimpang tegak semakin menaik, atau memanjat, berdaun rapat dan pendek. Tangkai daun gundul,   10-40 cm. Daun majemuk, yang   besar menyirip ranngkap 3-4 tegak atau melengkung menggantung, panjang 15-90 cm.  Anak daun penempatannya berseling sepanjang poros sirip; gundul, sepanjang tepi  atas bercangap, bulat telur, oval atau bulat telur terbalik, dengan pangkal berbentuk baji atau tumpul, 1-3 kali 0,5-2,8 cm. Tangkai anak daun pada  ujungnya menebal dan di  sana berruas  dengan anak daun (sehingga   tangkai daun tertinggal setelah daun rontok), gundul.  Sori pada sisi bawah daun di bawah tepi taju daun yang menggulung tepi daun tersebut juga berfungsi menjadi selaput penutup, melintang memanjang sampai pendek berbentuk garis, lurus atau bengkok.

Berasal dari India Barat.Dari dataran rendah sampai cukup tinggi di pegunungan; sangat banyak dipelihara menjadi tanaman perhiasan.Pada tembok tua dan dinding tanah kadang-kadang menjadi liar.

Tumbuhan suplir merupakan tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak dengan sporaTumbuhan Suplir dimasukkan dalam golongan tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta)Tumbuhan ini masuk kedalam kelaompok Pterudophyta karena sudah dapat dibedakan antara batang, daun, dan akar.Pada umumnya hidup di atas tanah dengan cara bergerombol dan mempunyai akar serabut yang ujung akarnya dilindungi kaliptra.Kebanyakan hidup di tempat-tempat yang terlindung (sahdefern).Paku tanah atau suplir telah memiliki organ tubuh yang sesungguhnya seperti akar, batang dan daun.Daun pada tumbuhan paku suplir beraneka ragam.

Berdasarkan fungsi daun pada tumbuhan paku suplir ini ada dua macam jenis daun yaitu: Daun tropophyl (daun untuk fotosintesis saja / Daun steril )Daun sporophyl (daun penghasil spora/ daun fertil ).dan Berdasarkan ukurannya tumbuhan paku suplir ada dua macam jenis daun yaitu: Daun Makrophyl dan Daun Mikrophyl.

Daun :

Daun Makrophyl berukurannya lebih besar, Menyirip ganda sampai beberapa kali dengan urat-urat yang bebas, rapat, dan pendek, Daun yang makrofil (berdaun besar) dengan posisi yang berseling-seling serta daun yang menyerupai kipas, Bentuk daunnya bulat telur (membulat), persegi panjang, delta, jajar genjang, dan belah ketupat, Susunan daun tumpang tindih ,bersirip tunggal, bersirip ganda, ada juga susunan daunnya pada bagian bawah besar sedang pada bagian ujungnya mengecil sehingga mirip ekor, Tekstur daun biasanya lembut dan tipis, tetapi ada juga yang keras dan kaku, dan umumnya berwarna hijau mengkilap., Pada bagian daun terdapat tulang daun dan telah mempunyai mesofil (daging daun),Tangkai daun gundul sekitar 10-20 cm, Anak daun penempatannya bersaing sepanjang poros sirip, Daun memiliki mesofil (daging buah), jaringan bunga karang, jaringan tiang dan jaringan daun.

Akar :

Akar dari tumbuhan ini merupakan rimpang tegak, yang akar sejatinya semakin menaik atau memanjat,Akar berupa rhizome beruas pendek yang muncul akar-akar berupa serabut.Pada ujung akar dilindungi oleh kaliptra atau tudung akar.Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh berupa sebuah sel yang berbentuk bidang empat, yang kearah luar membentuk sel-sel kaliptra, sedangkan jika menuju kearah dalam membentuk sel-sel akar.

Batang :

Batang tanaman suplir hitam mengkilat berduri tegak atau semi tegak dan dijumpai sisik-sisik yang lunak atau keras.Batang bercabang-cabang dan berupa tongkat (rhizome) yang terdapat banyak daun dengan tingginya sekitar 0,25-1,3 m.Susunan anatomi batang terdiri dari epidermis, korteks dan stele. Pada ujung batang terdapat jaringan meristematik yang membentuk akar dan batang.

 

SPORA:

Terbentuk di dalam kotak spora atau sporangium sebagai alat reproduksinya yang terkumpul dalam sorus.,Sorus yang bentuknya bermacam-macam dan dilindungi selaput yang disebut insidium yang terletak pada tepi daun yang terlipat ke bawah dan mempunyai annulus sebagai mekanisme pengeluaran spora, Sorus yang masih muda terlindung oleh selaput indusium, Paku suplir mempunyai sorus bangun ginjal, jorong atau bangun garis, terletak pada tepi daun yang terlipat ke bawah berfungsi sebagai indisium.

METAGENESIS :

Siklus hidup tanaman suplir dimulai dari tanaman yang sudah dewasa yaitu ditandai dengan jatuhnya spora yang telah matang atau melompat ke luar dari kotak spora.Apabila spora tersebut jatuh di tempat yang cocok (tanah yang subur), maka spora itu akan tumbuh menjadi suatu badan/lembaran hijau yang disebut prothallium (prothallus), Prothallus ini biasanya berklorofil, sehingga bisa berasimilasi, Sedang untuk mengambil makanannya dari dalam tanah prothallus ini akan menggunakan rhizoidnya, Pada prothallus ini akan terbentuk gametangium yakni berupa antheridia yang menghasilkan spermatozoid dan archogenium menghasilkan sel telur, Selanjutnya dengan perantaraan medium air yang ada disekitar prothallus, spermatozoid akan bergerak menuju archogonium, Pertemuan dua sel kelamin ini akan menghasilkan zigot, Kemudian zigot ini akan terus berkembang membelah diri dan akhirnya terbentuklah sporophit muda, Sporophit muda inilah yang akan tumbuh terus menjadi tumbuhan paku yang kemudian akan menghasilkan spora kembali.

3. Manfaat

Tanaman suplir (Adiantum tenerum Sw.) ialah tanaman hias daun yangperlu mendapat perhatian untuk dikembangkan di Indonesia agar tidak punah.Tanaman suplir memiliki nilai ekonomis karena bentuk daunnya yang sangatmenarik dan artistik.Tanaman suplir dapat diperbanyak melalui perbanyakan secarageneratif maupun vegetatif.Perbanyakan secara generatif menggunakan spora,sedangkan perbanyakan vegetatif menggunakan pemisahan rumpun atau anakan.Pada perbanyakan tanaman suplir dengan menggunakan pemisahan rumpun, factor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman suplir ialah media tanam. Permasalahanyang sering terjadi pada media tanam suplir ialah drainase dan aerasi yang tidak baiksehingga rumpun suplir akan mengalami kelayuan daun, akar rusak (membusuk)sehingga akhirnya suplir mati. Media tanam yang ideal bagi tanaman suplir ialahmedia tanam yang cukup lembab (RH 50 % – 80 %), memiliki porositas yang baik,sehingga drainase dan aerasinya bagus (Rukmana, 2003).

2.14 Dryopteris filix-mas

Izzatul Muhimmah (10620111)

1. Gambar

                (foto sendiri.2012)                           (Andik.2010)

2. Sistematika Takson

Kingdom: Plantae

           Division: Pteridophyta

                     Class: Pteridopsida

                           Order: Polypodiales

                                Family: Dryopteridaceae

                                      Genus: Dryopteris

                                          Species: Dryopteris filix-mas.( Cakmus.2010).

3. Deskripsi

Dryopterisfilix-mas (commonFernFernatauMale) adalah salah satu pakis yang paling umum dari belahan bumi utara sedang,terjadi di sebagian besar Eropa, Asia, dan Amerika Utara.Ini nikmat daerah yang diarsir lembab dan umum di under  story dari hutan, tetapi juga ditemukan di tempat-tempat teduh dihedge bank, batu, dan screes. Hal ini jauh lebih berlimpah di Amerika Utara dari pada di Eropa.

Setengah hijau daun memiliki kebiasaan tegak dan mencapai panjang maksimum 1,5 m, dengan mahkota tunggal pada batang bawah masing-masing. Daun bipinnate terdiri dari 20-35 pinnae pada setiap sisi dari malai. Daun lancip pada kedua ujungnya, dengan pinnae basal sekitar setengah panjang pinnae tengah. Para pinules agak tumpul dan sama-sama lobed di sekitar. Batang ditutupi dengan oranye-coklat skala. Di permukaan abaxial dari pisau matang 5 sampai 6 sori berkembang dalam dua baris. Ketika spora matang pada bulan Agustus hingga November, indusium mulai mengerut, menyebabkan pelepasan spora.Jenis ini hybridises mudah dengan Dryopteris affinis (Scaly Fern Laki-laki) dan Dryopteris oreades (Mountain Pria Fern).

Habitat :

 D. filix-mas tumbuh di tempat dapm, berlempung atau berpasir sub-tanah di kanopi dari campuran, pohon gugur. Kebanyakan situs berada di sisi sungai kecil-lembah di ketinggian antara 120 dan 165 juta dan di hutan lebih dari 150 tahun.

Batang, Akar, Daun:

Rimpang: tegak, kokoh, bercabang, ditutupi dengan basis Stipe tua.
Frond: 120 cm tinggi 25 cm dengan lebar daun, monomorfik, tegak untuk agak melengkung rasio, pisau / Stipe: 2:01-3:01.Stipe: beralur, jerami-coklat, sisik pucat coklat, bundel vaskuler: 5 atau 7 dalam pola berbentuk c.Blade: menyirip-pinnatifid, hampir 2-menyirip, jarang lebih, bulat telur-lanset, terluas di herba, menengah agak kasar, pertengahan, sisik hijau tipis di sepanjang malai hijau.Pinnae: 16 sampai 24 pasangan, lanset, lurus ke atas sedikit melengkung; basal pinnae bulat telur-lanset, banyak dikurangi; pinnules pinnules basal ± panjang yang sama dengan pinnules berdekatan, pinnule rendah basal dan pinnule atas dasar sama, melekat pada costa sepanjang dasar ; costae beralur di atas, terus menerus dari malai untuk costae; margin bergerigi; urat bebas, bercabang.
Sori:

Bulat, dalam 1 baris antara pelepah dan margin, pada bagian atas daun palem itu, indusium: reniform, hijau pucat pada awalnya, kemudian keputihan, lalu kelam abu-abu, coklat kemudian berkarat, kemudian mengerut, pada sinus, sporangia: hitam atau coklat gelap.

Tangkai daun: Kurang dari ¼ panjang pisau; ScaleY terutama di pangkalan; sisik coklat, dan tersebar dari dua jenis satu yang luas, satu filamen. Menggunakan Rimpang pakis Pria memiliki tindakan beracun kuat pada cacing pita, yang membunuh dan mengusir. Dalam dosis besar itu adalah racun iritan.

Sori:  Bulat, dalam 1 baris antara pelepah dan margin, pada bagian atas daun palem itu, indusium: reniform, hijau pucat pada awalnya, kemudian keputihan, lalu kelam abu-abu, coklat kemudian berkarat, kemudian mengerut, pada sinus, sporangia: hitam atau coklat tua, jatuh akhir musim panas ke musim gugur pertengahan.

Budaya Habitat: Utara timur berbagai Amerika hanya muncul pada tanah berkapur, yang, Eropa Asia, dan Amerika Utara barat berbagai paling mana saja. Distribusi: Amerika Utara, Eropa, Asia. Hardy ke -30 ° C, USDA Zona 4.

Frond:

120 cm tinggi 25 cm dengan lebar daun, monomorfik, tegak untuk agak melengkung rasio, pisau / Stipe: 2:01-3:01.Stipe: beralur, jerami-coklat, sisik pucat coklat, bundel vaskuler: 5 atau 7 dalam pola berbentuk c.

Blade:

Menyirip-pinnatifid, hampir 2-menyirip, jarang lebih, bulat telur-lanset, terluas di herba, menengah agak kasar, pertengahan, sisik hijau tipis di sepanjang malai hijau.

Pinnae: 16 sampai 24 pasangan, lanset, lurus ke atas sedikit melengkung; basal pinnae bulat telur-lanset, banyak dikurangi; pinnules pinnules basal ± panjang yang sama dengan pinnules berdekatan, pinnule rendah basal dan pinnule atas dasar sama, melekat pada costa sepanjang dasar ; costae beralur di atas, terus menerus dari malai untuk costae; margin bergerigi; urat bebas, bercabang.
Para pakis laki-laki, Dryopteris Filix-mas, Schott (NO Filicineoe), adalah melimpah. Ini menghasilkan seberkas melingkar daun mencapai satu meter dengan tinggi dan timbul dari rimpang gemuk. Lamina ini dibagi pinnately, dan dikenakan pada di bawah permukaan, padahal buah, berbentuk ginjal atau kadang-kadang hampir peltate sori. Tangkai daun ini dikenakan banyak coklat, sisik scarious, terutama di bagian bawah.Meskipun laki-laki adalah pakis pakis Inggris umum, ada beberapa orang lain yang sangat mirip dan mungkin berkumpul di tempatnya. Dari jumlah tersebut yang paling penting adalah A. Filix-foemina, Roth, wanita pakis, dan D. spinulosa, O. Kuntze, perisai pakis.

Rimpang A. Filix-foemina dapat dengan mudah dibedakan dengan jumlah bundel di dasar daun, untuk sementara pakis pria memiliki 7-9 wanita pakis hanya memiliki dua yang besar. Selain itu, wanita pakis tidak menghasilkan sel mensekresi dalam parenkim rimpang atau tangkai daun. Telah memutuskan sifat antelmintik, dan mengandung asam filicic dan mungkin filmarone juga. Hal ini jarang, jika pernah, ditemukan dalam obat komersial.Beberapa ancaman ada untuk kelangsungan hidup Dryopteris-mas filix. Ini termasuk kompetisi spesies, faktor iklim termasuk kekeringan, hilangnya pak salju pelindung selama musim dingin, musim tanam pendek, rusa herbivora, dan perubahan penutupan kanopi atau habitat perubahan (karena kegiatan pemanenan kayu atau blowdowns alam).

Bandingkan dengan affinis Dryopteris yang memiliki bercak gelap di dasar costa, dan kekuningan-hijau, pisau lebih kasar, lebih stipes bersisik, sisik emas, dan ukuran biasanya lebih kecil.Orang tua Dryopteris oreades dan D. caucasica.Ini lebih besar dari orang tua pertama. Hal ini dibedakan dari kedua dengan warna yang lebih gelap untuk margin pisau bergerigi dan hanya-satu segmen daripada margin ganda-bergerigi D. caucasica.

4.  MANFAAT

Akar digunakan, sampai beberapa kali, sebagai obat cacing untuk mengusir cacing pita, tetapi telah diganti dengan obat yang kurang beracun dan lebih efektif. Aktivitas anthelmintik telah diklaim akibat asam flavaspidic, turunan phloroglucinol. Tanaman ini kadang-kadang disebut dalam sastra kuno sebagai Worm Fern. Hal ini juga ditanam sebagai pakis hias di kebun.

 

BAB III

PENUTUP

3.1          Kesimpulan

Setelah melakukan pengamatan dan didukung literatur dapat disimpulkan bahwa beberapa tumbuhan paku yang hidup di Coban Rondo memiliki ciri- ciri yang  khusus sesuai khateristik dari paku tersebut.

Marsilea crenata berciri-ciri yaitu paku air, herba dan berdaun belah empat, sorus berupa sporokarp. Asplenium adiantum-ningrum berciri-ciri paku darat atau epifit, daun majemuk, spora berada di bawah permukaan daun. Belvia spicata berciri-ciri epifit pohon, daun memanjang kecil, spora di bawah permukaan daun dan Equisetum scirpoides memiliki ciri-ciri batang tak berdaun hanya berupa mikrofil, spora terletak di ujung batang sebagai strobilus.

Davallia solida memiliki ciri-ciri memiliki rimpang, entalnya berjumbai, sedangkan batang Pteris sp. berbentuk bulat beralur secara longitudinal, beruas-ruas panjang dan kaku, permukaan pada batangnya halus. Warna daun pada Pteris sp. adalah hijau tua, peruratan (vernasi) menyirip, ujung-ujungnya bergabung dengan urat lain.

Adiantum hispidulum memiliki ciri-ciri habitus perdu,  akar berupa rimpang pendek mengelompok  berwarna gelap daun berbentuk bulat panjang yang sempit, seperti berlian, atau berbentuk kipas. peruratanya jelas dan teksturnya kasar. 20 sori yang berada dibawah permukaan bawah daun sebalah pinggir. Sori berwana coklat tua.  Nephrolepis falcata (Cav.) C.Chr hidup epifit, sori berbentuk bulat, daun enthal panjang meruncing.

Asplenium nidus merupakan tumbuhan herba, terestrial, paku epifit pada pohon tinggi, Sorus terletak di permukaan bawah daun sedang Cyathea cooperi  pohon,  Daun berupa  roset batang, menyirip ganda (Bepinnate),  daun yang masih muda tegak atau serong.

Asplenium scandicinum batang  berupa rimpang,akar serabut bercabang dikotom, entalnya tersusun pada batang sangat pendek melingkar membentuk keranjang sedangkan akar, batang, dan daun, secara anatomi sudah memiliki berkas  pembuluh angkut, yaitu xilem yang berfungsi mengangkut air dan garam mineral dari akar menuju daun untuk proses fotosintesis, dan floem yang berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.

3.2          Saran

Saran yang terdapat dalam adalah:

  1. 1.    Untuk mengetahui manfaat dari tumbuhan paku tersebut perlu penelitian yang harus di lakukan terlebih dahulu.
  2. 2.    Membekali diri dengan pengetahuan dasar sebebelum terjun ke penagamata

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahim, Dudun. 2006. Tugas Tanaman dan Sistem Ruang Terbuka Hijau: Paku-pakuan. Bandung: IPB.

Alvyanto. 2009 (http://alvyanto.blogspot.com davallia_) diakses tanggal 01 April 2012.

Aththorick , Alief. 2007. Kekayaan Jenis Makroepifit di Hutan Telaga Taman Nasional Gunung leuser (tngl) Kabupaten Langkat. Jurnal Biologi Sumatera. Vol. 2, No. 1.

Braggins, John E.2004. Tree Ferns.America. Timber Press

Cakmus, 2008. Dunia Tumbuhan .(http:// www.plantamor.com)

Cakmus, 2012. Dunia Tumbuhan .(http:// www.plantamor.com)

Campbell, 2003. Biologi. UGM:Bandung

Frohne, Dietrich, janji, Hans Juergen (2004), tanaman beracun, Stuttgart: Wissenschaftliche Verlagsgesellschaft

Hertwig (1938), Kesehatan Melalui Herbal, Berlin: Koch

Hoshizaki,Barbara joe.2009. Fern Grower’s. Amsterdam

ITB.2012. Taksonomi Tumbuhan.(http:// www.sithitb.com)

Iwatsuki, dkk. 1985. Flora Of Thailand volume three part two. Bangkok : TEM STIMINAND

Johns. 2005. Asplenium section Thamnopteris (Aspleniaceae) – new information leading to a better taxonomy of the section. Japan: Symposium Abstract

Large.M.F.1993.A Morphological Assessment of Adiantum hispidulum Swartzand A. pubescens Schkuhr (Adiantaceae: Filicales) in New Zealand. New Zealand Journal of Botany.Vol. 31: 403^17.

Latifah, Eva.2004.Biologi 2. Bandung: Remaja Ros Dakarya.

Muspiroh, Noviyanti, dkk.2010.Buku Panduan Praktikum Taksonomi Tumbuhan 1.Cirebon: Pusat Laboratorium IAIN Syakh Nurjati.

Lubis, Siti Rahma. 2009. Keanegaraman dan Pola Distribusi Tumbuhan Paku di    Hutan Wisata Alam Taman Eden Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara. Tesis: Provinsi Utara.

Marlena, Beni.2004. Ringkasan Penetapan Parameter Standar Umum Ekstrak Etanol 96% Daum Semanggi (  Marsilea Crenata Preshl.).Surabaya: Unair University

Mclean, D.C, dkk. 1952. Teks Books Of Practial Botany. Edinburgh:                                              Darien press

Murakami. 2008. Recognition of biological species in Asplenium nidus complex using molecular data and crossing experiments.Jakarta:  Malesiana

Mustofa, Imam.  2009. Petunjuk praktikum Botani Phanerogamae. Bandung: FPMIPA UPI

Piggot, A.G.1988. Botany an Introduction Science. Library of                                              Congress. USA.

Prawiro, Hartono. 2007. Sains Biologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwanti, Maya. 2011.Masilea crenata. Malang: UMM University

Rätsch, Christian (1998), Ensiklopedi Tanaman psikoaktif, Aarau: AT Verlag

Rätsch, Christian (2003), Schamanenpflanze Tabak II, Solothurn: Nightshade penerbit

Sastrapradja, S., J. J. Afriastini, D. Darnaedi dan Elizabeth. 1980. Jenis Paku  Indonesia. Lembaga Biologi Nasional, Bogor. hlm. 7

Schimpfky, Richard (1893), Tanaman Obat dalam gambar dan kata kami, Gera-Untermhaus: Kohler

Small, james. 1954. Quantitative Evolution X1X The Numerical                                           Composition of Copelands Filicales: vol.17, hal 362

Smitinand, Tem. 1989. Flora of Thailand. Bangkok. Vol.3 no.4 hal. 519-                              522

Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sulisetiono, Widi.(2009). Analisis mikroskopis dan vitamin semanggi air (Marsilea crenata presl.) (marsileaceae). Bogor: IPB

Steenis, Van. 2006. Flora Untuk Sekolah Indonesia. Jakarta: PT Pradnya Paramitha

Sulisetjono.2009. Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang : UM

Sulisetjono. 2011. Bahan Kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang:Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tagawa,M. 1988. Flora of  Thailand. Bangkok: Auspices of  Danida at The

Chutima press.

Tjitrosoepomo. 1989. Taksonomi Tumbuhan : Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Jakarta: UGM Press.

Tjitrosoepomo,Gembong. 2009. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta :                                 UGM.

Widhiastuti, retno. Dkk. 2006. Struktur dan komposisi tumbuhan paku-                     pakuan di kawasan gunung sinabung kabupaten karo. Vol. 13 no. 8

Http://neta.wordpress.com/2009/12/13/asplenium-nidus-l

Http://www.sci.muni.cz/bot_zahr/fotografie/skleniky/kapradiny/Asplenium

Http://www.taxateca.com/ordencyatheales.html

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s