Tanaman Menurut Tempat ( Pekarangan)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tanaman adalah tumbuh-tumbuhan yang dibudidayakan karena telah diketahui manfaatnya. Disekitar terdapat berbagai jenis tanaman, jumlahnya bisa mencapai ribuan jenis. Oleh karena itu, beberapa tanaman bisa dibudidayakan di area pekarangan. Dalam menanam tanaman dipengaruhi oleh luas areal pekarangan atau lahannya, jenis tanah, kelembapan, ketersediaan air, dan mudah tidaknya perawatan( Johani, 2002: 4).
Tanaman dibagi menjadi beberapa kategori yaitu tanaman obat, tanaman penghasil buah, tanaman hias dan tanaman sebagai pagar hidup. Tanaman tersebut dapat ditanam di lahan-lahan salah stunya adalah pekarangan. Pekarangan adalah lahan atau tempat penanaman yang berada di daerah sekitar rumah.
Dalam tugas kali ini akan dilakukan pengamatan tanaman berdasarkan tempa,. tempat yang diamati adalah pekarangan. Dalam pengamatan ini diharapkan mampu menjelaskan keadaan dari tempat beberapa jenis tanaman hidup dalam habitat tersebut misalnya keadaan tanahnya. Dengan demikian mahasiswa mengetahui jenis dan keadaan tanaman yang berada pada suatu tempat tertentu.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam laporan pengamatan kali ini adalah :
1. Bagaimana keadaan habitat beberapa jenis tumbuhan di pekarangan ?
2. Bagaimana habitus beberapa tanaman tersebut?
3. Apakah manfaat dari beberapa tanaman tersebut?
1.3 Tujuan
Tujuan dalam laporan pengamatan ini adalah:
1. Mengetahui keadaan habitat beberapa jenis tanaman yang berada di pekarangan
2. Mengetahui habitus beberapa tanaman yang berada di suatu pekarangan
3. Mengetahui manfaat beberapa jenis tanaman di suatu pekarangan tersebut

BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat
Pengamatan tanaman yang berada di pekarangan ini dilaksanakan di beberapa tempat yang berbeda pengamatan yang pertama dan kedua dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Maret 2012 yang bertempat di salah satu pekarangan rumah di jalan Sunan Kalijaga Dalam Malang. Pengamatan yang ketiga di desa Tawang sari RT:03 RW:01 Ngasem Ngajum Malang. Sedang pengamatan keempat di pekarangan UIN Maliki Malang tepatnya di depan perpustakaan UIN Maliki Malang dan di Pekarangan warga Jalan Joyosuko no 42, desa Merjosari kecamata ketawang Gede, kabupaten Malang.
2.1 Alat dan Bahan
A. Alat
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini adalah:
1. Kertas                        4 lembar
2. Pensil                        4 buah
3. Penghapus               4 buah
4. Penggaris                 4 buah
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengamatan ini adalah:
1. Kunyit ( Curcuma domestica)
2. Nangka ( Artocarpus heterophyllus Lam. )
3. Jahe (Zingiber officinalis)
4. Jambu Air (Eugenia aquea Burm.F)
5. Pisang ( Musa paradisiaca)
6. Mangga ( Mangifera indica)
7. Bunga Sepatu ( Hibiscus rosa-sinensis)
8. Jambu Biji ( Psidium guajava)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kunyit ( Curcuma domestica)
1.Gambar

( Cakmus, 2012)

2. Sistem Takson
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Zingiberidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus: Curcuma
Spesies: Curcuma domestica L.
( Cakmus, 2012)
Sinonim : Curcuma longa Val. Curcuma domestica Rumph. Curcuma longa Linn.
Famili : Zingiberaceae
Nama Lokal : Saffron ( Inggris), kurkuma ( Belanda ), Kunyit ( Indonesia), Kunir ( Jawa ), Koneng ( Sunda ), Konyet ( Madura ) ( Arisandi, 2002: 192).
3. Deskripsi
3.1 Habitat
Tanaman kunyit yang diamati tumbuh di pekarangan salah satu rumah di Jalan Sunan Kalijaga Dalam Malang. Pekarangan ini memilki tanah yang lembab dan dekat dengan sawah yang berjarak kurang lebih 4 m dan selokan yang hanya berjarak 2 m. Tanaman ini tumbuh di tanah yang gembur subur. Tanaman ini tumbuh dengan mendapat pencahayaan matahari yang kurang atau redup karena di sekitarnya tumbuh pohon-pohon yang tinggi.
3.2 Habitus
Tanaman kunyit ini merupakan tanaman semak yang berbatang semu dengan tinggi ± 70 cm.
3.3 Bagian-bagian Tanaman
Setelah melakukan pengamatan didapat bahwa, tanaman ini memiliki sistem perakaran serabut. Bebatang semu dengan ukuran ±2.5 cm tidak bercabang. Warna daun kekuningan dengan bangun daun berbentuk lanset, tepi daun rata, ujung daun dan pangkal daun runcing, bertulang daun menyirip, merupakan daun tunggal, lebar daun ± 15 cm, dan panjang ± 40 cm. Buah tanaman ini merupakan rimpang. Saat diamati tidak ditemukan bunga. Tanaman ini tidak memiliki biji.
Tanaman kunyit ( Curcuma domestica Val.) adalah sejenis tanaman yang termasuk familia Zingiberaceae, tempat tumbuhnya terutama di pulau Jawa ( Kartasapoetra, 1996:60). .
Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan ketinggian 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun ( agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur ( lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12.5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk, berambut, dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1.5 cm, serta berwrna putih/ kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing serta tepi daun rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan dan daging buah merah jingga kekuning-kuningan ( Johani, 2002:14).
Menurut Steenis ( 2006), tanaman yang termasuk family Zingiberaceae ini merupakan tanaman herba menahun dengan akar rimpang. Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas pelepah dan helain daun. Bunga zygomorph, berkelamin 2. Kelopak berbentuk tabung dengan ujung yang bertaju kerap kali terbelah serupa pelepah. Daun mahkota 3, pada pangkalnya melekat. Benang sari sempurna 1, penghubung benang sari kerap kali lebar, ruang sari 2. Staminodia hampir selalu 3. Bakal buah tenggelam tenggelam, beruang 3 atau 1. Tangkai putik sangat langsing, dengan ujung terjepit di antara kedua benang sari. Kepala sari melebar. Buah kotak kebanyakan berkatup 3, kadang-kadang tidak pecah.
Menurut Tjitrosoepomo ( 2005), rimpang ( rhizoma ) sesungguhnya adalah batang beserta daunnya yang terdapat di dalam tanah, bercabang-cabang dan tumbuh mendatar dan dari ujungnya dapat tumbuh tunas yang muncul di atas tanah dan dapat merupakan suatu tumbuhan baru. Rimpang disamping digunakan sebagai alat perkembangbiakan juga merupakan tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.
Akar tinggal pada kunyit memiliki ciri-ciri yaitu berbentuk bulat atau jorong, bergaris tengah ±5 cm, panjangnya sekitar 2 cm sampai 6 cm, lebar sekitar 1 cm sampai 3 cm. Bagian tepi akar tersebut berkeriput, bagian luar bewarna coklat muda kemerah-merahan ( Kartasapoetra, 1996:60).
3.4 Manfaat :
Bagian kunyit yang terpenting sebagai bahan obat adalah bagian akar tinggalnya, yang mempunyai bau khas dan rasanya agak pahit. Sedang kandungan dalam akar tinggalmnya yaitu zat kuning kurkumin, minyak atsiri, hidrat arang, dammar, gom dan pati. Dengan dosis antara 8 gram sampai 12 gram bahan-bahan obat ini baik digunakan untuk obat diare, karminativa, kolagoga, dan skabisida ( Kartasapoetra, 1996:60).
Kunyit termasuk salah satu tanaman rempah dan obat. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan ( Johani, 2002:14).
Kunyit telah dikenal sebagai tanaman serbaguna. Selain digunakan untuk ramuan jamu, rimpang atau umbi kunyit juga bermanfaat sebagai anti inflamasi ( paradangan ), antioksidan, dan pembersih darah( Johani, 2002:15).
Kunyit mengandung senyawa kimia yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat manfaat lainnya Kandungan Zat : Kurkumin : R1 = R2 = OCH3 10 % Demetoksikurkumin : R1 = OCH3, R2 = H 1 – 5 % Bisdemetoksikurkumin: R1 = R2 = H sisanya Minyak asiri / Volatil oil (Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil ) Lemak 1 -3 %, Karbohidrat 3 %, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, Garam-garam Mineral (Zat besi, fosfor, dan kalsium) sisanya( IPTEKnet,2005).
Kunyit menurut Arisandi ( 2002), Kunyit dapat digunakan untuk mengobati diabetes mellitus, tifus, usus buntu, disentri, sakit keputihan, haid tidak lancar, perut mulas saat haid, memperlancar ASI, amandel, berak lender, morbili, dan cangkrang ( Waterproken).
Kandungan pada kunyit antara lain kurkumin, desmetoksikumin, bisdesmetoksikurkumin dan lain-lain. Dengan kandungan tersebut kunyit digunakan sebagai obat beberapa penyakit antara lain diabetes mellitus, tifus, usus buntu, disentri, sakit keputihan, menstruasi tidak lancar, perut mulas saat haid, memperlancar ASI, cangkrang, amandel, berak darah ( Ahira, 2012).

3.2 Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.)
1. Gambar

(Cakmus, 2012)

2.2 Sistematika Takson
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Urticales
Famili: Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus: Artocarpus
Spesies: Artocarpus heterophyllus Lam.
( Cakmus,2012)
Sinonim : Artocarpus philippensis Lamk, Artocarpus brasiliensis Gomez, Artocarpus maxima Blanco, Artocarpus integrifolia L.f., Artocarpus integer (Thunb.) Merr.
Nama lokal : Nangka ( Indonesia), Jackfruit ( Inggris ), Nangka ( Melayu), Mit ( Vietnam ), Khanun ( Thailand), Langka ( Filipina)( Cakmus, 2012).
2.3 Deskripsi
3.1 Habitat
Tanaman ini tumbuh di pekarangan yang sama dengan pekarangan rumah tempat tumbuh kunyit. Tanaman ini tumbuh di tanah yang sedikit lembab karena dekat dengan sumber air dari sumur rumah dan sedikit jauh dari sawah dengan jarak sekitar 8 m. Tanaman ini mendapat cahaya yang cukup dari matahari karena tumbuh dipekarangan yang terbuka bersama tanaman yang pendek.
Di daerah aslinya, Nangka tumbuh di hutan-hutan selalu hijau pada ketinggian 400-1200 m. Namun pertumbuhannya dapat berlangsung dengan baik pada daerah beriklim hangat dan lembap pada ketinggian di bawah 1000 m dpl dan dengan curah hujan 1500 mm atau lebih. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah, dan dengan ditanam pada kedalaman yang cukup, memiliki drainase yang baik, pada tanah alluvial, tanah berpasir atau tanah liat, dengan pH tanah 6.0-7.5 ( Wardiyono,2012).
3.2 Habitus
Tanaman nangka ini merupakan tanaman pohon berbatang kayu yang memiliki tinggi kira-kira 7 m.
3.3 Bagian-Bagian Tanaman
Setelah melakukan pengamatan didapat bahwa, tanaman nangka ini memiliki sistem perakaran tunggang. Batang berkayu dengan ukuran kira-kira 8 cm dan bercabang monopodial. Warna daun hijau tua dengan bangun daun berbentuk jorong, tepi daun rata, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, bertulang daun menyirip, berdaun majemuk menyirip, panjang kira-kira 15 cm, lebar kira-kira 7.5 cm. Memiliki bunga majemuk, tetapi saat diamati tanaman sedang tidak berbunga. Buahnya merupakan buah semu majemuk. Memilki biji berkeping dua.
Menurut Steenis (2006), nangka merupakan pohon berumah satu dengan getah yang rekat tinggi 10-25 m. Daun penumpu segitiga bulat telur. Daun biasanya tidak berlekuk hanya daun pada pohon muda dan tunas air dengan lekuk besar 3-5, tangkai 1-4, helaiannya memanjang atau bulat telur terbalik, 10-25 kali 4.5-10 cm, dengan pangkal menyempit demi sedikit, tepi rata, serupa kulit dari atas mengkilat hijau tua. Karangan bunga jantan dan bunga betina. Bulir betina berbentuk gada silindris, anak bunga tenggelam dalam poros, bagian bebas panjangnya 0,5 cm. Bulir jantan berbentuk gada atau spul, kerap kali bengkok, hijau tua, anak bunga sangat kecil dan tenda bunga bertaju 2, dan 1 benangsari. Buah semu menggantung pada ranting yang pendek dari batang atau cabang utama, bentuk telur, memanjang atau ±bentuk ginjal dengan duri tempel pendek yang runcing segi 3-6, berbau manis yang keras, daging ketat dikelilingi biji. Biji 3,5 cm panjangnya. Ditanam untuk diambil buahnya kadang-kadang menjadi liar. Nangka(Ind, S), Nongko ( J).
Menurut Wardiyono (2012) tanaman nangka adalah pohon tinggi 20 – 30 m, permukaan batang kasar, diameter ± 80 cm, bergetah putih, kayunya bagian dalam berwarna kekuningan. Daun bentuknya bulat telur sungsang atau menjorong, berwarna hijau tua cerah di permukaan atas dan hijau pucat di permukaan bawah, meruncing ke ujung dan ke pangkal daun lebih kecil/kurus seperti segitiga dan kaku. Karangan bunga jantan terdapat pada ranting sebelah atas, karangan bunga betina terdapat pada ketiak cabang dan anak cabang bawah. Buah besar 30 – 100 cm x 25 – 50 cm, berbentuk bulat atau melonjong. Tangkai buah 5 – 10 cm panjangnya, tebal 1 – 2 cm, kulit buah berduri pendek, biji bulat panjang (2 – 4 cm x 1,5 – 2,5 cm) terdapat di dalam daging buah yang sebelah luar sedikit bergetah dan berlendir, warna daging buah kuning, berair dan beraroma, menyengat kalau sudah tua.
3.3.1 Deskripsi Akar :
Sistem akar dikatakan tunggang jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang ( radix primaria) ( Tjitrosopoemo, 2005: 92).
3.3.2 Deskripsi Batang :
Batang berkayu ( lignosus ), yaitu batang yang biasa keras dan kuat karena sebagian besar terdiri atas kayu yang terdapat pada pohon-pohon ( arbores) dan semak-semak ( frutisces ) pada umumnya. Sedang yang dimaksud pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan bercabang- cabang dekat permukaan tanah atau malahan di dalam tanah ( Tjitrosopoemo, 2005: 78).
Percabangan monopodial yaitu percabangan dimana batang pokok selalu nampak jelas karena lebih besar dan lebih panjang ( lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabnag-cabangnya .Nangka ( artocarpus integra Merr. ) memiliki permukaan batang yang memperlihatkan banyak lentisel( Tjitrosopoemo, 2005: 85).
3.3.3 Deskripsi Bunga :
Bunga periuk ( hypanthodium ), yang salah satu bentuknya adalah ujung ibu tangkai menebal, berdaging, mempunyai bentuk seperti gada, sedang bung-bunganya meliputi seluruh bagia yang menebal tadi, sehingga tercapai bentuk bulat atau silinder. Daun-daun pembalut tidak ada. Bunga majemuk yang demikian susunannya terdapat pada nangka ( Artocarpus integra Merr.). Ibu tangkai bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi, sehingga bunga-bunga tidak terdapat pada ibu tangkainya ( Tjitrosopoemo, 2005: 135).
3.3.4 Deskripsi Buah :
Buah semu majemuk adalah buah semu yang terjadi dari bunga mejemuk. Buah semu adalah buah yang terbentuk dari bakal buah beserta bagian- bagian lain pada bunga itu, yang malahan menjadi bagian utama dari buah ini ( lebih besar, lebih menarik perhatian, dan seringkali merupakan bagian buah yang bermafaat, dapat dimakan). Sedang buah sesungguhnya terkadang tersembunyi. Pada buah nangka secara keseluruhan tampak dari luar seperti satu buah secara utuh. Hal ini terjadi dari ibu tangkai bunga yang tebal dan berdaging beserta daun-daun tenda bunga yang pada ujungnya berlekatan satu sama lain, hingga merupakan kulit dari buah semu ini ( Tjitrosopoemo, 2005: 223).
3.3.5 Deskripsi Biji :
Tumbuhan berbiji belah ( Dicotyledonae ) merupakan tumbuhan yang bijinya mempunyai lembaga dengan dua daun lembaga. Biji ini jelas kelihatan terdiri atas dua belahan atau dua keping. Daun lembaga yang dimaksud adalah daun pertama tumbuhan yang mempunyai fungsi antara lain sebagai tempat penimbun makanan, sebagai alat asimilasi, dan sebagai alat penghisap makanan( Tjitrosopoemo, 2005: 249).
3.4 Manfaat
Buah muda Nangka dapat dimasak sebagai sayur, sedangkan buah matangnya dapat dimakan segar, dibuat dodol, selai atau pasta, dan permen. Daun mudanya dapat digunakan sebagai pakan ternak. Masyarakat di India dan Sri Lanka, memanfaatkan batang pohon Nangka untuk berbagai keperluan, seperti bahan bangunan. Pohon Nangka dapat juga digunakan sebagai tanaman penghijauan di areal-areal tanah berpasir gembur. Warna hijau sedang di daerah Jawa Barat diperoleh dengan mencelupkan lebih dahulu dalam larutan kayu nangka, diangin-anginkan sampai agak kering kemudian dicelupkan lagi pada larutan tom/tarum dan tawas ( Wardiyono,2012).

2.3 Jahe (Zingiber officinale)
1. Gambar

(Cakmus, 2012)

2. Sistematik Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Zingiberidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus: Zingiber
Spesies: Zingiber officinale Rosc.
(Cakmus, 2012)
Nama umum: Jahe dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan ginger, ada dalam bahasa Bengali, Jeung, Ciang, atau Jiang dalam bahasa Cina, Zenzero dalam bahasa Italia dan Jengibre dalam bahasa Spanyol. Di beberapa daerah di Indonesia juga dikenal dengan sebutan aliah (Sumatera), jahi (Lampung), jae (jawa, sasak), jhai (Madura), cipakan (Bali), sipados (Kutai), dan pese ( Bugis) (Savitri, 2008: 258).
3. Deskripsi :
3.1 Habitat
Salah satu tanaman yang di dapatkan di pekarangan di jalan kalijaga dalam yaitu jahe. Pekarangan yang diamati memiliki tanah yang lembab karena dekat dengan sawah, selain itu keadaan tanah yang gembur dan subur sangat baik ditanami tanaman seperti jahe. Tanaman jahe merupakan salah satu tanaman semak.
3.2 Habitus
Tanaman jahe termasuk tanaman semak yang berbatang semu dengan tinggi tanaman ± 40 cm,
3.3 Bagian-bagian Tanaman
Tanaman jahe memiliki system perakaran serabut, lebar batang sekitar 1,5 cm, panjang daun 20 cm, dengan lebar 2,5 cm. bangun daun memanjang dengan tepi daun rata, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tulang daun menjari, pada saat diamati tanaman ini tidak terdapat bunga. Tanaman ini mempunyai buah berupa rimpang yang merpakan modifakasi dari batang dan daun.
Jahe adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah.Tanaman jahe hanya bisa bertahan hidup di daerah tropis. Penanamannya hanya bisa dilakukan di daerah katulistiwa seperti Asia tenggara, Brazil, dan Afrika (Johani, 2008: 18).
Tanaman jahe masuk dalam suku Zingiberaceae yaitu terna perennial dengan rimpang yang kadang-kadang berbentuk seperti umbi yang biasanya mengandung minyak menguap hingga berbau aromatic. Batang diatas tanah sering kali hanya pendek dan mendukung bunga-bunga saja. Daun tunggal mempunyai sel-sel minyak menguap, tersusun dalam dua baris. Kadang-kadang jelas mempunyai 3 bagian berupa helaian, tangkai dan upih. Helaian biasanya lebar dengan ibu tulangyang tebal dan tulang-tulang cabang yang sejajar. Tangkai daun pendek atau tidak terdapat, upih terbuka atau tertutup. Bunga terpisah-pisah tersusun dalam bunga mejemuk tunggal dan berganda, kebanyakan banci, zigomorf atau asimetrik. Hiasan bunga dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota yang terdiri atas 3 daun mahkota yang berlekatan pada bagian bawahnya membentuk suatu buluh. Bakal buah tenggelam, beruang tiga, jarang dua dengan tembuni di ketiak. Tangkai putik diujung, tidak terbagi bebas atau terdapat dalam suatu alur pada benang sari yang fertile, ada kalanya berbibir atau bergigi 2, bakal biji banyak. Buahnya buah kendaga yang berkatup 3 atau berdaging tidak membuka. Biji bulat atau berusuk mempunyai salut biji. Endosperm banyak (Tjitrosoepomo. 2010: 444).
Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30 hingga 100 cm. akarnya berbentuk rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga kemerahan dengan bau menyengat. Daun menyirip dengan panjang 15 hingga 23 mm dan panjang 8 hingga 15 mm. Tangkai daun berbulu halus. Bunga jahe tumbuh dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 hingga 5 cm dan lebar 1,5 hingga 1,75 cm. gagang bunga bersisik sebanyak 5 hingga 7 buah. Bunga berwarna hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik ungu. Tangkai putik berjumlah dua. Akar serabut, berwarna putih kotor, Rimpangnya bercabang-cabang, tebal dan agak melebar (tidak silindris), berwarna kuning pucat. Bagian dalam rimpang berserat agak kasar, berwarna kuning muda dengan ujung merah muda. Rimpang berbau khas dan rasanya pedas menyegarkan, Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron ( Savitri, 2008: 262-263).
Menurut Steenis (2006), jahe termasuk kedalam family Zingiberaceae yaitu tanaman herba menahun, dengan akar rimpang, batang tegak, daun kerap kali jelas 2 baris dengan pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas pelepah dan helaian daun. Bunga zygomorph, berkelamin dua, kelopak berbentuk tabung dengan ujung bertaju kerapkali terbelah seperti pelepah. Daun mahkota 3 pada pangkalnya melekat. Benang sari sempurna 1, penghubung sari kerapkali lebar, salah satu bibirnya berhadapan benang sari, selalu serupa daun mahkota yang dua lainnya lebih kecil. Bakal buah tenggelam beruang 3 atau 1. Tangkai putik sangat langsing, dengan ujung terjepit diantara kedua ruang sari. Kepala sari melebar, buah kotak kebanyakan berkatup 3 kadang-kadang tidah pecah.
Akar tinggal jahe keadaannya agak pipih dengan bagian ujungnya bercabang-cabang pendek. Bentuknya bulat telur terbalik pada setip ujung cabang tampak parut melekuk mendalam, panjang rata-ratanya sekitar 5 cm sampai 15 cm, dengan tebal sekitar 1,5 cm sampai 5,5 cm, warna bagian luar coklat agak kuning, sedang bagian dalam putih kekuning-kuningan cerah kadang-kadang berserat (Kartasapoetra, 1992: 63-64).
3.4 Kandungan dan manfaat
Berdasarkan ukuran dan warna rimpangnya dikenal, paling tidak 3 varietas jahe, yaitu jahe besar ( disebut juga jahe gajah), jahe kecil ( jahe emprit), dan jahe merah ( jahe sunti ), Diantara ketiga varietas tersebut yang banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional adalah jahe merah, terutama bila diperlukan minyak atsirinya. Dalam pengobatan sehari-hari, yang lebih sering digunakan adalah jahe kecil sebab lebih mudah diperoleh dibandingkan dengan jahe merah, jahe merah dianggap kurang berkhasiat sebagai obat, oleh sebab itu banyak digunakan sebagai bumbu masak (Savitri, 2008: 263).
Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Membantu pencernaan karena jahe mengandung enzim pencernaan protease dan lipase yang masing-masing mencerna protein dan lemak jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh (Savitri, 2008: 265).
Selain dapat di manfaatkan sebagai bumbu dapur, jahe juga dapat member aroma pada makanan seperti biscuit, roti ataupun kue dan minuman. Sebagai obat tradisional, jahe dapat digunakan untuk meredakan kejang dan juga dapat sebagai salah satu tanaman yang baik di tanam dipekarangan (Johani,2008: 19).
3.3 Jambu Air (Eugenia aquea Burm.F)
1. Gambar

(Cakmus, 2012)

2.Sistem Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus: Eugenia
Spesies: Eugenia aquea Burm.F
(Cakmus.2012)

Nama umum: jambu ayer mawar (Malaysia), jambu aie (Minangkabau.), jambu cai (Sunda), jambu wer (Jawa), jhambhu wir (Madura.), nyambu er (Bali), kumpas, kumpasa, kombas, kembes (bahasa-bahasa di Sulawesi utara), jambu jene, jambu salo (Sulawesim selatan), jambu waelo, kuputol waelo, lutune waele, kopo olo (aneka bahasa di Seram dan sekitarnya), dan lain-lain. Juga jambu kancing (Indonesia ), untuk kultivar yang buahnya kecil.
3.Deskripsi
3.1 Habitat
Salah satu tanaman yang ada di pekarangan rumah jalan kali jaga dalam yaitu jambu air (Eugenia aquea Burm) . tanaman ini tumbuh di tanah yang subur karena tempatnya dekat sawah dan selokan tetapi di tanah kering pun sering di jumpai. Jambu air yang di amati kali ini mendapat pencahayaan yang cukup dari matahari karena tumbuh di pekarangan terbuka selain itu pohonnya juga tinggi sehingga tidak terhalang oleh tanaman lainnya.
3.2 Habitus
Tanaman ini termasuk pohon dengan tinggi ± 5 m.
3.3 Deskripsi tanaman:
Tanaman ini mempunyai akar tunggang, batangnnya berbentuk bulat. pohonnya mempunyai banyak cabang. Batang berwarna coklat. Daun nya tunggal dengan bangun daun berbentuk lancet. Tepi daun rata, ujung daun runcing dan pangkal daun membulat, tulang daun menjari. Termasuk bunga tidak lengkap tetapi pada saat diamati tidak terdapat bunga. Buah jambu air termasuk buah nyata dengan biji dikotil.
Jambu air termasuk kedalam suku Myrtaceae yang masuk kedalam suku ini yaitu pohon atau perdu berdaun tunggal, bersilang berhadapan pada cabang-cabang mendatar seakan-akan tersusun dalam 2 baris pada 1 bidang, kebanyakn tanpa daun penumpu. Bunga kebanyakan banci atau hermaprodit karena adanya aborsi kadang-kadang poligam, aktinomorf. Kelopak dan mahkota masing-masing terdiri atas 4-5 daun kelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama yang kadang-kadang berlekatan atau tidak terdapat. Benang sari banyak, kadang-kadang berkelompok berhadapan dengan daun-daun mahkota, mempunyai tangkai sari dengan warna cerah yang kadang-kadang menjadi bagian bunga yang paling menarik. Bakal buah tenggelam, mempunyai 1 tangkai putik beruang 1 sampai banyak dengan 1-8 bakal biji dalam tiap ruang. Buah bermacam-macam, pada ujungnya tampak jelas kelopak yang tidak gugur, sisa tangkai putik dan sisa-sisa benang sari yang sering tertinggal didalam kelopak. Biji dengan sedikit atau tanpa endosperm, lembaga lurus, bengkok atau melingkar (Tjitrosoepomo, 2010: 219-220).
Menurut steenis (2006) dalam bukunya yang berjudul flora menyatakan bahwa jambu air (Eugenia aquea Burm.F) termasuk pohon dengan tinggi 3-6 m, daun bulat telur atau memanjang, dengan pangkal yang serig memeluk batang, berbentuk jantung, karangan bunga lepas, berbunga 3-7 dengan panjang poros 2-4 cm, bunga berbilang 3 pada tangkai, tangkai pendek. Buluh kelopak 1 cm, taju 4, bentuk setengah lingkaran. Daun mahkota berbentuk tudung, berkuku, bulat telur lebar sampai segitiga, panjang 5-7 mm, berwarna putih atau putih kuning segera rontok, benang sari panjangnya 1 cm, tonjolan dasar bunga tumbuh dengan baik. Buah buni berbentuk gasing dengan ujung yang melebar, mengkilat, ditanam sebagai pohon buah-buahan.
Tanaman jambu air termasuk pohon,dengan tinggi 10-15 m. batang tegak, berkayu bentuknya bulat, percabangan simpodial, permukaanya kasar, berwarna coklat muda. Jenis daun tunggal, letaknya tersebar, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung tumpul, pangkal membulat, panjang 15-20 cm, lebar 5-7 cm, bertangkai pendek, pertulangan menyirip, hijau. Mempunyai bunga majemuk, bentuk karang, bunganya tumbuh di ketiak daun, kelopak berbentuk corong ujung bertoreh, berwarna hijau kekuningan, benang sari panjang ± 3,5 cm, putih, putik panjang ± 5 cm, hijau pucat, mahkota bentuk kuku,permukaan bunga licin putih kekuningan. Buah buni, bentuk lonceng, panjang 3-5 cm, masih muda hijau kekuningan setelah tua memerah. Bentuk ginjal, diameter ± 1,5 cm, putih kecoklatan. Akar Tunggang, berwarna putih kotor.

3.3.1 Batang(caulis)
termasuk batang berkayu(lignosus), keras, kuat dan Kasar, berwarna coklat muda berbercak coklat. Lepasnya kerak tipis berwarna coklat saat kulit batng mati. Arah tumbuh batang tegak lurus (erektus)
3.3.2 Daun(folium)
Termasuk daun tunggal, tersebar, bentuk dasar daun lonjong, tepinnya rata, ujung tumpul, pangkal membulat dan kadang pangkal daun memeluk batang, panjang antara 15-20 cm, lebar antara 5-7 cm, pertulangan menyirip, warna hijau. Termasuk daun tak lengkap, hanya terdiri atas tangkai daun (petiolus)dan helaian daun saja (lamina). Daging daun seperti perkamen (perkamenteus), tipis tetapi cukup kaku. Permukaan daun gundul (glaber)
3.3.3 Bunga
Majemuk, bentuk karang, di ketiak daun, kelopak bentuk corong ujung bertoreh, berwarna hijau kekuningan, benang sari panjang ± 3,5 cm, benang sari banyak(terdapat lebih dari 20 benang sari), warna putih, putik ± 5 cm, hijau pucat, mahkota bentuk kuku, licin putih kekuningan. Termasuk bunga lengkap. Bakal buah menumpang (superus) duduk di atas dasar bunga .
3.3.4 Buah
Bentuk lonceng atau gangsing, panjang antara 3-5 cm, masih muda berwarna hijau kekuningan dan memerah setelah tua , setelah dewasa biasanya mengandung banyak air, daging buah berwarna putih dengan Kulit buah merah, termasuk buah sejati tunggal berdaging (cornosus). Pada buah dewasa kadang kadang masih berlekat tangkai sarinya yang suadah mati dan berwarna cokelat.
3.3.5 Biji
Bentuk ginjal, diameter ± 1,5 cm, putih kecoklatan, dengan selaput putih sebagai kulit bijinya. Terdapat sekat sekat yang memisahkan biji satu denga yang lainnya, merupakan derivate dari endokarpium yang berserabut.
3.4 Kandungan dan manfaat :
Buah ini memiliki kandungan air yang lebih banyak dari pada dagingnya, hal ini dapat membantu kebutuhan cairan dalam tubuh kita. Cairan sangat penting untuk membersihkan ginjal dari asam urine dan urea. Kedua kotoran tubuh ini harus dilarutkan dalam air terlebih dulu sebelum dibuang bersama air tersebut. Bila di dalam ginjal tidak tersedia cukup air, kotoran tubuh tersebut tidak dapat dikeluarkan dengan lancar. Akibatnya kotoran dapat membentuk batu ginjal (Wardiyono. 2012).
Vitamin A yang ada dalam buah ini ternyata juga cukup besar. Vitamin A sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kesehatan mata, meningkatkan imunitas dan medongkrak fungsi sel darah putih sebagai anti bodi dan antivirus di dalam tubuh. Dilaporkan pula tingginya peristiwa kekurangan vitamin A pada orang yang terinfeksi HIV. Buah jambu air masak yang manis rasanya, selain disajikan sebagai buah meja juga untuk rujak dan asinan. Kadang-kadang kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat (Ahira, 2012).
Dalam jambu air ini ternyata juga mengandung vitamin C yang dibutuhkan oleh tubuh. Diperkirakan dalam 100 gram jambu air terdapat vitamin C yang seimbang dengan jeruk mandari yaitu 22 mg. Dengan banyaknya vitamin C yang terkandung dalam buah ini dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Vitamin C sebagai antioksidan selain dapat memperbaiki sel tubuh dan jaringan kulit yang rusak akibat radikal bebas. Dalam merawat kecantikan, vitamin C memiliki peran penting dalam melancarkan peredaran darah sehingga kulit terlihat lebih segar. Vitamin ini juga akan merangsang pembentukan kolagen kulit dan menjaganya dari kerusakan. Vitamin C memiliki sifat sebagai water holder (menyimpan air) sehingga mampu menjaga kelembaban kulit dan mencegahnya dari kekeringan (Ahira, 2012).
Kandungan dari buah jambu air tak hanya sebatas itu saja. Karena jambu air memiliki serat pangan yang cukup tinggi. Buah ini juga mengandung sumber mineral besi, magnesium, asam sulfuric, asam sitrat, mangan, protein, tembaga, seng, kalium, fosfor, magnesium, kalium dan kalsium.
Seyawa yang terkandung (dalam bentuk minyak atsiri) dalam sebagian besar ordo Eugenia adalah dari jenis Isopropena bagian Hemiterpenoid. Biasa dikenal dengan nama iso Vareleraldehida, sebagai minyak atsiri pada ordo Eugenia.
3.5 Mangga (Mangifera indica)
1.Gambar

( Cakmus,2012)

2.Sistem Takson

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: Mangifera indica L. ( Rukmana, 1997)

3.Diskripsi
3.1Habitat
Habitat Mangifera indica L berdasarkan pengamatan adalah di desa Tawang sari RT:03, RW:01- Ngasem-Ngajum-Malang tepatnya di belakang rumahnya bapak Sutoyo. Berupa dataran rendah dengan jarak mata air 100 meter, keadaan tanahnya subur dan juga gembur. Kelembapan nya rendah dengan pencahayaan matahari yang cukup, sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung secara sempurna. Jarak mangifera indica L dengan taman lain cukup baik yakni 3 meter. Pengamatan ini dilakukan pada jam 08.00-11.00.
Tanaman Mangga dapat tumbuh dan berproduksi di daerah tropik maupun sub-tropik. Di daerah tropik Indonesia mangga tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl namun paling optimal pada ketinggian 300 m dpl dan iklimnya kering. Unsur penting bagi tanaman mangga adalah curah hujan, suhu (temperatur), dan angin. Tanaman mangga membutuhkan pergantian musim kemarau dan hujan yang nyata. Yakni sedikitnya 4-6 bulan kering, dan curah hujan 1000 mm/tahun atau kurang dari 60 mmm/bulan atau selama jangka waktu musim kering mempengaruhi fase repoduktif. Pembungaan mangga membutuhkan bulan kering selama 3-5 bulan karena keluarnya bunga mangga terjadi 1,5 – 2 bulan sesudah awal musim kering. Sedangkan pembuahan membutuhkan minimal 1 bulan kering setelah pembungaan.(Rukmana, 1997).
Suhu udara yang ideal adalah antara 270-340 C dan tidak ada angin kencang atau angin panas. Disamping itu, untuk mendapatkan produksi yang optimal, tanaman mangga membutuhkan penyinaran antara 50%-80%.
Di daerah yang tipe iklimnya basah, mangga sedikit sekali berbuah dan rasanya cenderung masam, serta tanaman mudah terserang penyakit mati pucuk oleh cendawan Gloeosporium mangifera.Curah hujan yang tinggi atau angin kencang pada pembungaan atau pembuahan dapat menyebabkan gugurnya bunga atau buah. Mangga pada umumnya cocok ditanam di daerah yang beriklim kering, namun beberapa jenis atau varietas dapat beradaptasi di daerah yang beriklim basah. Mangga Kemang, Gedong, Cengkir banyak ditanam di daerah Cirebon dan
Idramayu yang iklimnya basah.Mangga varietas unggul seperti Arumanis 143, Manalagi 69, dan Golek 31 tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah yang beriklim kering. Daerah-daerah yang mempunyai kondisi iklim kering terdapat di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi Tenggara, Lombok, Sumbawa, Kupang, dan lain lain. (Rukmana, 1997).
Menurut Rukmana (1997), Temperatur untuk pertumbuhan optimimum tanaman mangga lebih kurang 24-270C. Pada suhu tersebut pertumbuhan vegetatif dan hasilnya juga sangat baik. Baik temperatur yang rendah, bagi tanaman mangga muda (umur 5 tahun) akan banyak menderita kerusakan. Namun ada beberapa jenis tanaman mangga yang masih tahan terhadap suhu rendah, tetapi tidak berproduksi dengan baik. Menurut pengamatan temperatur tanaman mangga masih dapat hidup adalah lebih kurang 4-100 C, tetapi temperatur yang baik untuk pertumbuhan dan produksi. Pada musim kemarau, jika temperatur mencapai lebih dari 450 C dan disertai angin kencang, dapat mengakibatkan luka bakar matahari pada buah. Untuk mengatasi hal ini, di tepi perkebunan mangga yang sering ditiup angin kencang harus diberi tanaman yang lebih tinggi dari pada pohon mangga, supaya dapat mematahkan kecepatan angin, misalnya ditanami Sengon laut. Pada temperatur kira-kira 450 C dengan kelembaban 15 persen ditempat yang terlidung, daun-daun dan buah yang masih kecil akan terpengaruh sebagian buah yang masih kecil akan rontok, sedangkan yang masih berkembang akan menjadi buah yang tidak berbiji. Pada temperatur maksimum lebih dari 440 C, tanaman mangga masih dapat hidup, tetapi hasilnya tidak begitu baik. Curah HujanKeadaan volume curah hujan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mangga dan proses produksi dan pembentukan bunga dan buah. Kalau pada musim bunga dan masa berbuah mulai masak tidak ada hujan, tanaman akan tumbuh dengan baik dan proses produksi akan berlangsung dengan baik pula. Sebaliknya, apabila waktu musim bunga, banyak turun hujan, berawan dan banyak kabut, proses pembentukan bunga akan terganggu. Disamping itu, keadaan tersebut akan merangsang timbulnya hama penyakit yang penyebarannya cepat sekali.Jadi pada prinsipnya curah hujan hanya diperlukan pada tidak musim bunga, yaitu pada masa pertumbuhan vegetatif untuk memacu pertumbuhan cabang, ranting, serta tunas-tunas baru. Jumlah curah hujan tidak begitu penting pada waktu musim bunga, tetapi kalau ternyata masih juga turun hujan sedikit justru baik untuk pertumbuhan bunga, sebab akam menciptakan suasana udara sejuk, tetapi tidak lembab. (Rukmana, 1997).
Prosentase pembagian curah hujan setiap tahun sangat penting pengaruhnya terhadap proses pembungaan. Sebab masa primordial bunga akan terjadi setelah musim hujan, sekurang-kurangnya setiap tahun kira-kira 10.000 mm, dan musim kering lebih kurang 4-6 bulan dengan curah hujan rata-rata 60 mm/bulan. Jika dalam jangka waktu yang lama tidak ada hujan, maka areal pertanaman dapat dibantu dengan pengairan. Sebab kalau kondisi kadar air tanah terlalu kering, bunga mangga dapat menjadi layu dan akhirnya kering.
Beberapa pengaruh curah hujan yang kurang menguntungkan pada musim bunga adalah(Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970):
a). Air hujan akan mencuci butir-butir tepung sari, dan akhirnya tepungsari tersebut jatuh bersama air hujan.
b). Hujan yang terlalu lebat biasa menyebabkan luka pada permukaan tubuh bunga, dan bahkan dapat merontokkan bunga.
c). Volume curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara menjadi lembab, sehingga menimbulkan serangan cendawan atau wereng mangga yang lebih hebat, akhirnya banyak bunga maupun buayang rontok, dan panen pun gagal.
d). Selama hari-hari hujan, serangga penyerbuk tinggal diam, praktis mereka tidak melakukan penyerbukan karena tidak dapat terbang.
e). Banyak embun dan kabut dapat menggagalkan pemanenan, karena peristiwa ini juga mengakibatkan banyak bunga dan buah yang rontok seperti pada waktu musim hujan.
Ketinggian Tempat Tanaman mangga dapat tumbuh sampai ketinggian tempat lebih kurang 1.300 m dpl. Akan tetapi didaerah yang tinggi. Produksinya tidak begitu banyak, dan kualitasnya pun tidak baik. Jika kita ingin mengusahakan tanaman mangga yang produksinya optimal, sebaiknya ditanam pada suatu areal yang memiliki ketinggian maksimal 500 m dpl. Masa berbunga tanaman mangga juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Karena negara Indonesia didaerah tropis pada posisi 110 LU atau 60 LS. Maka setiap kenaikan kira-kira 130 m, ditempat pohon mangga itu ditanam, masa pembungaan tanaman tersebut akan tertunda selam 4 hari. (Rukmana. 1997).
Keadaan Tanah tanaman mangga mempunyai daya penyesuaian tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Di pantai utara Kraton dan Bangil (Jawa Timur) yang tanahnya berbelah-belah, termasuk jenis tanah sangat berat (Grumosol), tanaman mangga dapat tumbuh baik. Untuk jenis tanah grumasol perlu dilakukan penutupan dengan mulsa jerami atau pemberian kompos dalam jumlah banyak untuk menahan penguapan.Pertumbuhan dan produksi mangga yang optimal membutuhkan jenis berpasir, lempung, atau agak liat. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur, banyak mengandung banyak bahan organik, drainasenya baik, dan pH optimum antara 5,5-6,0. Jenis tanah Aluvial seperti di Probolingga (Jawa Timur) mempunyai pengaruh baik terhadap kualitas buah. Tanaman mangga toleran terhadap kekeringan, namun untuk menjamin pertumbuhan dan produksi membutuhkan keadaan air tanah yang memadai. Air tanah yang ideal adalah tidak lebih dari 50 cm dari permukaan tanah. Apabila tidak ada sumber air, pengadaan air dapat dilakukan dengan cara menampung air hujan dalam bak-bak penampung. Selama masa pembesaran buah tanaman mangga amat diperlukan air, terutama pada musim kemarau. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970).
3.2Habitus
Habitus mangifera indica L berupa pohon besar, dengan diameter 30 cm dan bisa lebih besar lagi. Tanaman mangga memiliki pohon yang tingginya mencapai 10 m – 30 m atau lebih dan umurnya dapat mencapai puluhan tahun (Rukmana. 1997).
3.3 Bagian-bagian Tanaman
3.3.1Akar
Akar mangifera indica L adalah akar tunggang, yang mana akar utamanya kelihatan dan menjulang ke bawah tanah. Akar nya selain berfungsi untuk penegak pohon ke tanah dan juga akarlah yang bertugas mencari maknana didalam tanah,misalkan air dan mineral-mineral.
Sistem akar tunggang, jika akar lembaga akan tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria) .Susunan akar yang demikian ini biasa terdapat pada tunbuhan biji belah (dicotyledoneae) dan tumbuhan biji telanjang (gymnospermae) (Rukmana. 1997).
3.3.2Batang
Batang mangifera indica L berbentuk silinder,dengan diameter 30 cm. batang mangifera indica L bercabang dua.Percabangannya mulai 1 meter dari atas tanah.
Batang tubuh tegak, kokoh, berkayu, dan berkulit agak tebal dan warnanya abu-abu kecoklatan, pecah-pecah serta mengandung cairan semacam damar. Percabangannya banyak yang tumbuh ke segala arah hingga tampak rimbun (Rukmana, 1997).)
3.3.3Daun
Daun mangifera indica L berwarna hijau tua. Sedangkan yang masih kuncup adalah berwarna hijau muda. Bangun daun jorong, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, susunan tulang daun menyirip, daging daun perkamen. Hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja, lazimnya disebut daun bertangkai. Daun mangifera indica L termasuk daun tunggal.
Daun tubuh tunggal pada ranting, letaknya berseling-seling dan bertangkai panjang. Bentuk daun panjang-lonjong dengan bagian ujung meruncing. Permukaan sebelah bawah berwarna hijau-muda. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970).
3.3.4Bunga
Bunga mangifera indica L dalah bunga majemuk tak terbatas (inflorescentia racemosa, inflorescentia botryides atau inflorescentia centripetal) tandan (racemes atau botrys). Tandan (racemes atau botrys), jika bunga bertangkai nyata, duduk pada ibu tangkainya. Kita dapat pula menyatakan, ibu tangakai bercabang, dan cabang-cabangnya masing-masing mendukung satu bunga pada ujungnya.
Bunga tersusun dalam rangkaian bunga (malai) tiap-tiap malai bunga dalam jumlah sangat banyak, yakni sekitar 1000-6000 kuntum, namun bunga yang berkembang menjadi buah sekitar 1%. Rendahnya prosentase bunga yang menjadi buah disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah, jumlah bunga jantan permalai amat banyak sekitar 90%, namun sel telur yang normal sangat rendah antara 5 %-10 %. Disamping itu, bunga jantan letaknya pada pangkal malai, sedangkan bunga sempurna dibagian ujung malai. Kedua kemampuan tumbuh tepung sari sangat rendah, yakni sekitar 1%-12% tidak sempurna (abnormal) hingga tidak mampu membuahi sel telur. Ketiga tidak terjadi penyerbukan akibat banyak turun hujan atau tidak ada lebah penyerbuk. (Tjiptosuhardjo,1970).

3.3.5Buah

Buah mangifera indica L adalah buah sungguh(buah sejati) tunggal yang berdaging.
Buah mangga disebut buah batu dan memiliki bentuk beraneka ragam, antara lain bulat, bulat-pendek dengan ujung pipih, dan bulat panjang agak pipih. Susunan tubuh buah terdiri dari beberapa lapisan, yaitu: tangkai, pangkal buah, kulit buah, daging buah, serabut, biji, lukukan, paruh, pucuk buah.( Rukmana,1997).

3.3.6 Biji
Biji mangifera indica L memiliki kulit biji (spermodermis) yang kasar , tali pusar(funiculus), dan inti biji atau isi biji(nucleus seminis). Bijinya dittutpi oleh buah nya. Jadi termasuk biji tertutup.
Biji(semen) salah satu alat perkembangbiakan pada tanaman. setelah terjadi penyerbukan yang diikuti dengan pembuahan, bakal buah tumbuh menjadi buah, dan bakal biji tumbuh menjadi biji(spermatophyta), biji ini merupakan alat perkembangbiakan yang utama, karena biji mengandung calon tumbuhan baru(lembaga). Dengan dihasilkan biji, tumbuhan dapat mempertahankan jenisnya, dan dapat pula terpencar ke tempat lain(Tjitrosoepomo, 2005)
3.4 Manfaat
Mangfaat mangifera indica L selain buahnya bisa dimakan, juga bisa di jus. Mangga memang dikenal mengandung zat antioksidan yang menetralisasi radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh dan berujung pada masalah kesehatan seperti jantung, kanker, dan penuaan dini. Selain itu juga bida menyumpat pori-pori wajah. Kandungan zat besinya yang tinggi baik bagi ibu hamil dan penderita anemia. Mangga dapat melancarkan pencernaan karena mengandung enzim yang membentu mencerna protein. Mangga kaya akan kalium sehingga baik untuk menurunkan tekanan darah. Selain itu, mangga juga mengandung pektin, bahan serat yang dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam tubuh. Mangga kaya akan kalori dan karbohidrat yang menyehatkan serta menambah daya tahan tubuh. Beberapa penelitian menyatakan memakan mangga dapat memperkecil risiko terkena pembentukan batu ginjal. Buah ini juga kaya kan asam glutamin yakni protein penting untuk konsentrasi dan memori. Daripada mencamil keripik dan kue kering, lebih baik memakan irisan mangga sembari belajar. Meski secara tradisional tidak dianggap sebagai afrodisiak, mangga mengandung vitamin E yang membantung meningkatkan kehidupan seks seseorang. Vitamin E memang berfungsi mengatur hormon seks seseorang(Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970).
3.6 Pisang ( Musa paradisiaca)
1. Gambar

( Cakmus,2012)

2.Sistem Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Musaceae (suku pisang-pisangan)
Genus: Musa
Spesies: Musa paradisiaca (Cakmus, 2012)
3.Diskripsi

3.1Habitat
Habitat Musa paradisiaca berdasarkan pengamatan adalah di Desa Tawang sari, RT:03, RW:01 Ngasem-Ngajum-Malang. Perkarangan milik bapak Kaseman berupa dataran rendah dengan jarak mata air 6 meter, keadaan tanahnya subur dan juga agak basah. Kelembapan nya tinggi dengan pencahayaan matahari yang cukup, sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung secara sempurna. Jarak Musa paradisiacal dengan taman lain kurang baik yakni berdempetan. Pengamatan ini dilakukan pada jam 08.00-11.00.
3.2Habitus

Habitus Musa paradisiaca berupa pohon semu yang berukuran sedang dengan diameter 20 cm dan bisa lebih besar lagi.
3.3 Bagian-bagian Tanaman
3.3.1 Akar

Akar Musa paradisiaca bisa tumbuh pada batang dan bonggolnya. Akan tetapi tumbuhnya akar pada batang dengan catatan batang itu di tempelkan di tanah.maka akar akan tumbuh dan juga tumbuh tunas. Akarnya termasuk akar tunggang.
Akar Batang pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang Akar ini berpangkal pada umbi batang. Akar terbanyak berada dibagian bawah sampai kedalaman 75-150 cm. Sedangkan akar yang bearada dibagian samping umbi batang tumbuh kesamping dan mendatar, panjangnya dapat mencapai 4-5 meter. Ada dua macam perakaran yaitu perakaran utama, akar batang yang menempel pada bonggol batang dan perakaran sekunder, akar tumbuh dari perakaran utama sepanjang 5 cm dari pangkal akar (Nisa, 2009)

3.3.2 Batang

Batang Musa paradisiaca disebut batang semu. Batangnya silindris sempurna, dengan diameter 20 cm dan bisa lebih. Dan tinggi pohon pisang itu antara 2 meter-4meter dan bisa lebih. Batangnya mempunyai ciri berair, lurus dan tidak ada percabangan.
Batang pisang sebenarnya terletak dalam tanah berupa umbi batang. Dibagian atas umbi batang terdapat titik tumbuh yang menghasilkan daun danpada suatu saat akan tumbuh bunga pisang ( jantung) . Sedang yang berdiri tegak diatas tanah yang biasanya dianggap batang itu adalah batang semu. Batang semu ini terbentuk dari pelepah daun pisang yang saling menelungkup dan menutupi dengan kuat dan kompak sehingga bisa berdiri tegak seperti batang tanaman. Tinggi batang semu ini berkisar 3,5 – 7,5 meter tergantung jenisnya (Nisa, 2009)

`Bonggol adalah batang pisang yang terdapat didalam tanah. Pada sepertiga bagian bonggol sebelah atas terdapat mata calon tumbuh tunas anakan (Nisa, 2009).

3.3.3 Daun

Daun Musa paradisiaca merupakan daun tunggal(folium simplek). Daunnya merupakan daun lengkap yang mempunyai upih daun/pelepah daun(vagina), tangkai daun(petiolus), helaian daun(lamina). Permukaan daunnya berselaput lilin, yang berwarna putih. Pada umumnya warna daun pada sisi atas tampak lebih hijau, licin, atau mengkilat jika dibandingkan dengan sisi bawah daun. Perbedaan warna tadi disebabkan karena warna hijau lebih banyak terdapat pada lapisan atas dari pada di lapisan bawah.
Lembaran daun (lamina) pisang lebar dengan urat daun utama menonjol berukuran besar sebagai pengembangan morfologis lapisan batang semu (gedebong). Urat daun utama ini sering disebut sebagai pelepah daun. Lembaran daun yang lebar berurat sejajar dan tegak lurus
pada pelepah daun. Urat daun initidak ada ikatan daun yang kuat ditepinya sehingga daun mudah sobek akibat terkena angin kencang (Nisa, 2009).
3.3.4 Bunga
Bunga Musa paradisiaca

Bunga Musa paradisiacal berbentuk seperti udang yang mana terdapat lapisan putih dengan stigma warna kuning. Bunga pada Musa paradisiacal ini akan tumbuh menjadi buah.jadi pisang yang selama ini kita makan merupakan metamorfosa dari bunga yang tumbuh besar menjadi buah. Didalam buah juga terdapat biji, yang berwarna hitam, keras, dan agak bulat(Nisa,2009).
Bunga pisang berupa tongkol yang sering disebut jantung. Bunga ini muncul dari primodia yang terbentuk pada bonggolnya. Perkembangan primodia bunga memanjang keatas hingga menembus inti batang semu dan keluar inti batang semu. Bunga jantan dan bunga betina terjalin dalam satu rangkaian yang terdiri dari 5-20 bunga. Rangkaian bunga ini nantinya membentuk buah, yang disebut satu sisir. Satu bunga jantung dapat pula terdiri dari 1-2 rangkaian bunga sehingga deretan sisirnya sangat panjang, misalnya pisang seribu (Nisa,2009).

3.3.5 Buah

Buah Musa paradisiaca sangat lembut, segar dan biasanya berwarna kuning. Akan tetapi ada juga jenis pisang yang pada waktu masak berwarna putih.Didalam buah pisang terdapat biji yang berwarna hitam, dan biji itu akan berwarna hitam dan keras apabila buahnya sudah matang dengan sempurna. Kulitnya buah pisang memiliki ketebalan 1 cm atau lebih. Lapisan kulit pisang antara yang luar dan dalam sangat berbeda, yakni apabila lapisan yang di dalam terasa lembek dan becek, akan tetapi lapisan yang luar terasa kering dan mengkilat. Aroma pisang sangat khas, berkembangnya buah pisang itu dari atas bawah.
Kulit buah kuning kemerahan dengan bintik- bintik coklat. Daging buah agak orange. Satu tandan terdiri dari 8-12 sisir. Dalam setiap sisir terdiri dari 12-20 buah. Bentuk, warna dan rasa buah digunakan untuk menentukan klon /jenis tanaman pisang. Adapun pembentukan buah pisang sesudah keluar, maka akan terbentuk sisir pertama, kemudian memanjang lagi dan terbentuk sisir kedua dan ketiga dan seterusnya. Jantungnya perlu dipotong sebab sudah tidak bisa menghasilkan sisir lagi (Nisa, 2009)

3.3.6Biji
Biji buah Musa paradisiaca berwarna hitam mengkilat, keras dan apabila di makan rasanya pahit. Biji Musa paradisiacal berbentuk agak bulat, kecil-kecil. Pohon pisang ini memang mempunyai biji akan tetapi perkembangbiakannya tidak menggunakan biji tersebut, melainkan dengan menggunakan tunas. Tunas itu bisa tumbuh pada bongkol atau pun pada batangnya.

3.4 Manfaat
Manfaat Musa paradisiaca dalam ilmu kesehatan, tidak terlepas dari kandungan gizi pisang yang meliputi lemak 0.2 gr, protein 1.2 gr, karbohidrat 25.8 gr, serat 0.7 gr, besi 0.5 gr, fosfor 28 gr, kalsium 8 mg, Vitamin C 3 mg, vitamin B 0.08 mg, dan vitamin A.08 mg, dan vitamin A 44 RE( Syakur, 2011):
Asam folat merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh janin untuk perkembangannya di dalam rahim. Pisang mengandung asam folat sehingga sangat bagus dikonsumsi untuk ibu hamil. Karena pisang juga mengandung kalori yang cukup tinggi jadi berhati hatilah jangan sampai terlalu banyak mengkonsumsi pisang agar manfaat pisang yang didapatkan oleh ibu hamil akan maksimal. satu butir pisang bisa mempunyai kalori 80-100 kalori( Syakur, 2011).
Penderita hipertensi dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan rendah garam. Kandungan garam yang rendah dan adanya kandungan kalium yang tinggi pada pisang menjadikan pisang buah yang cocok dikonsumsi untuk penderita darah tinggi/ hipertensi. Kandungan rata rata kalium untuk satu butir pisang adalah 500mg. Jumlah ini mampu menurunkan tekanan darah dan juga bisa menjaga keseimbangan cairan didalam tubuh Hasil penelitian dari Journal of the American College of Cardiology menyimpulkan bahwa asupan kalium harian sebesar 1600mg (setengah dari jumlah yang dianjurkan untuk konsumsi harian yang berjumlah 3500mg) bisa menurunkan risiko stroke lebih dari seperlima. Ilmuwan dari universitas Warwick dan naples mengatakan bahwa saat ini jumlah asupan kalium harian di banyak negara masih dibawah jumlah yang disarankan. Terlalu sedikit asupan kalium akan mengakibatkan gejala gejala mual,denyut jantung tidak teratur, diare serta cepat marah( Syakur, 2011).
Asam lambung yang tinggi dapat dinetralkan jika mengkonsumsi pisang yang dicampur dengan susu cair. Hidangkan segelas susu cair yang dicampur pisang untuk menetralkan asam lambung. Cholik pun dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi pisang yang dicampur susu cair ini, sehingga susu cair dicampur pisang sangat cocok bagi anak anak kecil/ bayi yang sering menderita cholik( Syakur, 2011).
Manfaat pisang tidak hanya dari buahnya saja, namun manfaat daun pisang bisa untuk mengobati luka bakar. Abu daun pisang yang dicampur dengan minyak kelapa mempunyai efek mendinginkan kulit serta meringankan luka bakar jika dioleskan pada daerah yang terbakar tersebut( Syakur, 2011).
Bubur buah pisang dicampur madu dengan sedikit susu dapat dipakai untuk menghilangkan jerawat. Cara pemakaian Ramuan bubur tersebut adalah dioleskan pada wajah selama 30-40 menit. Setelah selesai bilaslah dengan air hangat kemudian bilaslah dengan air dingin, lakukan cara ini secara konsisten selama 2 minggu dan lihatlah hasil dari manfaat pisang bagi kesehatan kulit ini( Syakur, 2011).
Setelah memakan pisang , para penderita depresi merasa lebih baik. Setelah diteliti hal ini karena pisang mengandung protein tryptophan,protein ini kemudian akan diubah menjadi serotonin yang akan memperbaiki mood, menjadi lebih rileks dan membuah bahagia( Syakur, 2011).
kandungan kalsium yang juga tinggi di dalam pisang membantu meningkatkan kemampuan berkonsentrasi serta lebih waspada. Manfaat pisang ini menjadikan pisang akan meningkatkan kemampuan belajar siswa sekolah( Syakur, 2011).
Mangfaat pisang bagi penderita anemia adalah pisang bisa merangsang produksi hemoglobin sehingga hal ini akan mengatasi anemia( Syakur, 2011).
Manfaat pisang tidak hanya dari buahnya saja, namun manfaat daun pisang bisa untuk mengobati luka bakar. Abu daun pisang yang dicampur dengan minyak kelapa mempunyai efek mendinginkan kulit serta meringankan luka bakar jika dioleskan pada daerah yang terbakar tersebut( Syakur, 2011

3.6 Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis)
1.Gambar

( Cakmus, 2012)

2.Sistematika
Kingdom : Plantae
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies: Hibiscus rosa-sinensis (Cakmus, 2012)
Nama Daerah :
Jawa : Kembang sepatu (Betawi), Kembang wera (Sunda),Kembang sepatu (banyuwangi) , Wora-wari (Jawa Tengah), Bunga Rebong (Madura)
Wora-wari (Jawa Tengah), Bunga Rebong (Madura)
Bali :
Waribang
Nusa Tenggara:
Embuhanga (Sangir), Bunga cepatu (Timor)
Maluku :
Ubu-ubu (Ternate), Bala bunga (Tidore)
Sumatera :
Bungong roja (Aceh), Bunga-bunga (Batak Karo), Soma Soma (Nias), Bekeju (Mentawai)
Sulawesi :
Ulange (Gorontalo), Kulango (Buol), Bunga sepatu (Makasar), Bunga bisu (Bugis

3.Deskripsi
3.1 Habitat
pengamatan terhadap Bunga sepatu ini dilaksanakan di pekarangan UIN Maliki Malang. Tepatnya di depan perpustakkan UIN Maliki Malang.
Hibiscus rosa-sinensis merupakan tanaman asli Asia Tropis. Berasal dari Asia Tenggara (Cina) dan tanaman ini sering ditemukan di seluruh daerah tropis (Renny ,2009).

3.2 Habitus
Perdu, tahunan, tegak, tinggi , pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter (Renny ,2009).
Berdasarkan pengamatan terhadap bunga sepatu dapat diketahui bahwa bunga sepatu merupakan tanaman perdu yang tegak. Tinggi ± 1 m. Batang bulat berkayu berwarna hijau keputihan dengan diameter ± 7 cm. Daun tunggal berbuntuk bulat telur, denagn ujung runcing, pangkal daun membulat, tepi daun bergerigi. Sedangkan susunan tulang daunnya menyirip dengan daging daun tipis lunak berwarna hijau mengkilat. Panjang daun 9-15 cm dan lebar 4-10 cm. Letak daun pada batang adalah berseling. Pada setiap buku terdapat satu daun dengan ruas daun nyata. Rumus daunnya adalah 2/5. Sedangkan sudut divergensi dari daun ini adalah 144º. Bunga sepatu merupakan bunga tunggal dan bunga lengkap. Dikatakan bunga tunggal karena pada tangkai bunga hanya ada satu bunga. Adapun bagian-bagian dari bunga sepatu adalah ibu tangkai bunga berwarna hijau, kelopak tambahan (epycalix) berwarna hijau, kelopak berwarna hijau, mahkota berwarna merah, serbuk sari berwarna kuning, putik berwarna merah dan dasar bunga berbentuk kerucut. Letak bunga diketiak daun, bersimetri banyak ( Polisimetris).. Bunga sepatu memiliki rumus daun bunga ♀K5, C5,A65,G5. Rumus daun tersebut dapat diartika bahwa bunga sepatu merupakan bunga banci (♀), memiliki kelopak (Calyx) yang berjumlah 5 (K), mahkota (Corolla) yang berjumlah 5 (C), Serbuk Sari ( Androecium) berjumlah 65(A), dan putik ( gynaecium) berjumlah 5(G). Akar tunggang berwarna coklat.
Hasil ini sesuai dengan literatur, dalam literatur dijelaskan bahwa, bunga terdiri atas 3 helai daun kelopak yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehinggga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri atas 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai putik berbentuk silindris panjang dikelilingi tangkai serbuk sari berbentuk oval yang bertaburan serbu sari. Biji terdapat didalam buah berbentuk kapsul berbilik lima (Johani, 2010).
Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 smpai 5 meter. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang sempit dengan ujung daun meruncing. Didaerah tropis atau dirumah kaca, tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkn di daerah subtropics berbunga mulai dari musim panas hingga musim gugur. (Johani, 2010).
Bunga berbentuk terompet dengan diameter bunga sekitar 5 cm hingga 20 cm. putik (psitilum) menjulur keluar dari dasar bunga. Bunga bias mekar menghadap keatas , kebawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya , tanaman bersifat steril atau tidak menghasilkan buah (Johani, 2008).
Bunga sepatu dalah tanaman semak suku malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tnama hias di daerah tropis dan subtropics. Bunganya besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida bias berupa bunga tunggal (daum mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu (Komandoko, 2008).

3.4 Manfaat
Tanaman sepatu kerap dijadikan tanaman hias dan juga pagar hidup. Di daerah Okinawa selatan, Jepang, tanaman ini banyak ditanam dipekuburan untuk mendoakan arwah agar mendapatkan kebahagiaan di alam kematian. Kembang sepatu juga dijadikan bunga persembahan di india (Komandoko, 2008) .
Selain itu, bagian-bagian tanaman ini juga dimanfaatkan orang sejak zaman dulu. Bunganya dijadikan bahan pewarna makanan pada masyarakat Cina. Kembang sepatu yang kering dijadikan bahan semacam ‘teh’ untuk diminum. Daun, bunganya, dan akarnya juga dapat dijadika obat (Komandoko, 2008).

3.7 Jambu Biji (Psidium Guajava)

1. Gambar

(Cakmus,2012)

2.Sistem Takson
Kingdom : Plantae
Subkingdom : TRancheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Orde : Myrtales
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava (Cakmus, 2012).
3. Deskripsi
3.1 Habitat
Pengamatan terhadap pohon jambu biji ini dailaksanakan di Pekarangan warga Jalan Joyosuko no 42, desa Merjosari kecamata ketawang Gede, kabupaten Malang.
3.2 Habitus
Kenampakan dari tanaman ini adala pohon berkayu yang tingginya kurang lebih mencapai 3 meter
3.3 Bagian-bagian Tanaman
Berdasarkan pengamatan terhadap tanaman Jambu biji dapat diketahuia bahwa jambu biji merupak tanaman pohon yang mempunyai tinggi ± 2 meter. Batangnya berwarna coklat kehijauan berkayu, bulat dan kulit batangnya mengelupas. Bercabang banyak. Daunya berbentuk jorong, ujung daun tumpul, pangkal daun membulat denagn tepi rata. Panjangnya ± 6-13 cm dan lebarnya ± 3-7 cm. Sedangkan susunan tulang daunnya menyirip dengan daging daun seperti perkamen berwarna hijau tua. Daunta bersilang berhadapan, ruas-ruasnya jelas. Buahnya termasuk buah sejati tunggal kelompok buah buni. Buahnya berbentuk bulat telur dengan kulit luar berwarna hijau jika masih muda dan berwarna kuning jika sudah masak. Lapisan dalmnya berdaging dengan warna putih biasanya dapat dimakan. Dagingnya dipenuhi dengan biji. Bijinya berwarna kuning tua sampi dengan coklat muda. Bunganya termasuk kedalam bunga majemuk, mahkota berwarna putih, kelopak berwarna hijau muda, benang sari berwarna putih. Akarnya merupakan akar tunggang derwarna coklat.
Hasil pengamatan ini sesuai dengan literatur. Dalam literatur dijelaskan bahwa Jambu Biji adalah tanaman perdu atau pohon kecil dengan tinggi sekitar 4-10 Meter. Batang berkayu, bulat, terkelupas dalam potonganm licin, bercabang, berwarna coklat kehijauan. Ruas tangkai teratas segiempat tajam. Percabangan batang termasuk percanbangan simpodial, yaitu batang pokok sukar ditentukan karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah cepat dengan cabangnya. Arah tumbuh cabng tegak (Fastigiatus). Termasuk tumbuhan biennial, yaitu tumbuhan yang untuk hidupnya, dari tumbuh sampai berbuah memmerlukan waktu kurang lebih 3 tahun. Daun tunggal, bersilang berhadapan, pada cabang-cabang mendatar seolah-olah tersusun dalam dua baris pada satu bidang. Bertangkai pendek 3mm sampai 7mm. Bangun daun bulat telur agak menjorong, pangkal daun membulat, tepi daun rata (integer) ujung daun runcing (acutus), panjang 6-14 cm dengan lebar 3-6 cm. Permukaan daun berkerut (rugosus). Warna daun muda berbulu abu-abu setelah tua berwarna hijau tua. Pertulangan daun menyirip dan berwarna hijau kekuningan (Johani, 2008).
3.4 Manfaat
Berbagai jenis buah, jambu biji termasuk buah yang mengandung Vitamin C paling tinggi dan cukup mengandung Vitamin A. dibandingkan buah-buah lainnya, seperti jeruk manis yang mempunyai kandungan Vitamin C 49 mg/100 gram bahan, kandungan Vitamin C jambu biji 2 kali lipat. Vitamin C sangat baik sebagai zat antioksidan. Sebagian besar Vitaimin C jambu biji berkonsentrasi pada kulit dan daging baagian luarnya yang lunak dan tebal. Kandungan vitamin C jambu biji mencapai puncaknya menjelang matang. Selain pemasal andal Vitamin C, jambu biji juga kay serat, khususnya pectin (Serat larut ar) yang dapat digunakan untuk bahan pembuatan gel atau jeli. Manfaat pectin lainnya adalah untuk menurunkan kolesterol dengan cara mengikat kolesterol dan asam empedu dalm tubuhdan membantu pengeluarannya ( Johani, 2008).
Daun- daun jambu biji berkandungan zat-zat penyamak (psiditanin) sekitar 9 %, minyak atsiri berwarna kehijauan yang mengandung egenol sekitar 0,4 %, minyak lemak 6 %. Dammar 3% dan garam-garan mineral yang dapat digunakan sebagai obat sakit mencret dan astrigensia (Kartasapoetra, 1992).

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan dan didukung literatur dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
1. Habitat tanaman kunyit, nangka, jahe, dan jambu air adalah di tanah yang lembab dan dekat dengan sumber air berupa selokan dan sawah. Sedang tanaman pisang dan mangga habitatnya di dataran rendah dengan jarak mata air 100 meter dan 6 meter, keadaan tanahnya subur dan juga gembur serta kelembapannya rendah dengan pencahayaan matahari yang cukup.
2. Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan ketinggian 40-100 cm. Nangka merupakan pohon berumah satu dengan getah yang rekat tinggi 10-25 m. Tanaman mangga merupakan pohon pohon yang tingginya mencapai 10 m – 30 m. Tanaman pisang merupakan tanaman berupa pohon semu yang berukuran sedang dengan diameter 20 cm. Bunga sepatu perdu tahunan, tegak, tinggi , pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter sedang jambu biji adalah pohon berkayu dengan tinggi ±3 m.
3. Tanaman-tanaman tersebut dapat digunakan sebagai obat, penyedap masakan, bahan bangunan, makanan serta sebagai tanaman hias dan lain-lain.
3.2 Saran
Saran yang terdapat pada laporan pengamatan ini adalah:
1. Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui secara rinci tanaman yang dibahas
2. Sebaiknya penjelasan dibuat lebih efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Ahira, Anne.2012. Khasiat Kunyit. ( http:// www.anneahira.com)

Ahira, Anne.2012.Khasiat Jahe.(http://www.anneahira.com)

Arisandi. Yohana. 2002. Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah

Cakmus.2012. Dunia Tumbuhan . (http:// www.plantamor.com)

IPTEKnet.2005. Tanaman Obat Indonesia. ( http:// http://www.sentra informasiipteknet.com)

Johani, Erman. 2008. Tanaman Pakarangan. Bandung : Maximalis

Kartasapoetra, G.1996. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat : Meningkatkan Apotik Hidup dan Pendapatan Para Keluarga Petani dan PKK. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Komandoko, Gamal.2008. Aha!Aku Tau Flora dan Fauna untuk Anak Cerdas. Yogyakarta : Citra Pustaka.

Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970.Budidaya Tanaman Mangga(Mangifera Indica L).Bandung:ITB

Nisa. 2009.Journal Kultur Jaringan Perbanyakan Pisang.Bandung:Journal Ilmiah

Noviyanti, Renny, 2009. “Efek antipiretik daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada mencit (mus musculus) jantan galur wistar”. Parmakologi, Fakultas Kimia Unpad

Rukmana. 1997.Morfologi Mangga (Mangifera indica).Semarang: Artikel Ilmiah

Savitri, Evika, Sandi.2008. Rahasia Tumbuhan Berkhasiat Obat Prespektif islam. Malang: UIN malang Press

Steenis, Dkk. 2006. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta : Pradnya Paramitha

Syakur, 2011. Artikel Manfaat Pisang Bagi Kesehatan Kita .(http://manfaatpisang.com)

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM University Press

Wardiyono. 2012. Keanekaragaman Hayati. ( http://www.prohati.cm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s