Tumbuhan Menurut Fungsi ( Minuman)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanaman adalah tumbuh-tumbuhan yang dibudidayakan karena telah diketahui manfaatnya. Disekitar terdapat berbagai jenis tanaman, jumlahnya bisa mencapai ribuan jenis. Oleh karena itu, beberapa tanaman bisa dibudidayakan di area pekarangan. Dalam menanam tanaman dipengaruhi oleh luas areal pekarangan atau lahannya, jenis tanah, kelembapan, ketersediaan air, dan mudah tidaknya perawatan( Johani, 2002: 4).

Tumbuhan memilki banyak potensi dan kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Tanaman juga dibudidaya baik untuk tujuan dan manfaat tertentu. Salah satu potensi dari tumbuhan adalah sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup yaitu penyimpan makanan dan air.

Dalam tumbuhan selain penyimpan makanan dan minuman terdapat berbagai manfaat dan kegunaan sehingga dalam upaya menggali informasi mengenai fungsi lain dari tumbuhan akan dijelaskan dalam laporan ini tentang tumbuhan berdasarkan fungsinya dan khususnya berkaitan dengan fungsinya sebagai penyimpan air, selain itu akan dibahas manfaat disamping sebagai penyimpan air.

2.2 Tujuan  

Tujuan dari laporan ini adalah:

  1. Mengetahui tanaman-tanaman berpotensi minuman
  2. Mengetahui manfaat lain tanaman-tanaman minuman

BAB II

PEMBAHASAN

2.1          Siwalan (Borassus flabellifer)

2.1.1 Gambar

( Cakmus, 2012)

2.1.2               Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Arecidae
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus: Borassus
Spesies: Borassus flabellifer ( Cakmus,2012)

Famili : Arecaceae

Nama lokal: Lontar ( Indonesia), Wine palm ( Inggris)

2.1.3               Deskripsi  Tanaman

Palem berbatang satu yang kokoh kuat, tinggi 15-30 cm. Batang kearah ujung dan pangkal membesar. Daun membentuk tajuk. Tangkai daun panjang lk 1 cm, dengan pelepah yang lebar bagian atas hitam, dengan duri tempel pada tepi berujung 2, helaian daun bulat, diameter 1,5 m, bercangap menjari sampai berbagi menjari, taju lebar 5-7 cm dengan ujung yang membelah 2 pada bagian bawah putih berlilin. Tongkol bunga lk 0,5 m panjang tangkainya membengkok. Bulir 20-30 cm panjangnya. Bunga jantan seperti di dalam alur seperti yang ada pada tanduk, di dalam ketiak sisik yang lebar dan menutup satu sama lain serupa genting, daun bunga dan daun mahkota lepas panjang lk 3 mm. Daun mahkota dan benangsari tertancap pada perpanjangan dasar bunga yang berbentuk tangkai. Bunga betina : poros bulir dengan daun pelindung yang besar, berbentuk ginjal dan menutup satu sama lain seupa genting, bunga panjangnya 2,5 cm berbentuk peluru pipih, daun tenda bunga 6, lepas, stminodia ada 6 bersatu membentuk cincin, bakal buah bentuk peluru, kepala putik 3 duduk. Buah bulat peluru, diameter 7-20 cm, Tenda bunga membesar dinding buah tengah berserabut, buah keras  , lepas. Putik lembaga berongga. Liar dan ditanam, terutama di Jawa Timur dan Madura. Lontar palm,N, Lontar, J, Etal, Indo, J, Toal,Md( Steenis, 2006:218).

Pohon palma yang kokoh kuat, berbatang tunggal dengan tinggi 15-30 m dan diameter batang sekitar 60 cm. Sendiri atau kebanyakan berkelompok, berdekat-dekatan. Daun-daun besar, terkumpul di ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Helaian daun  serupa kipas bundar, berdiameter hingga 1,5 m, bercangap sampai berbagi menjari; dengan taju anak daun selebar 5-7 cm, sisi bawahnya keputihan oleh karena lapisan lilin. Tangkai daun mencapai panjang 1 m, dengan pelepah yang lebar dan hitam di bagian atasnya; sisi tangkai dengan deretan duri yang berujung dua. Karangan bunga dalam tongkol, 20-30 cm dengan tangkai sekitar 50 cm. Buah-buah bergerombol dalam tandan, hingga sekitar 20 butir, bulat peluru berdiameter 7-20 cm, hitam kecoklatan kulitnya dan kuning daging buahnya bila tua. Berbiji tiga butir dengan tempurung yang tebal dan keras (Heyne, 1987).

2.1.4               Manfaat :

Daunnya digunakan sebagai bahan kerajinan dan media penulisan naskah Lontar. Barang-barang kerajinan yang dibuat dari daun lontar antara lain adalah Kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor. Sejenis serat yang baik juga dapat dihasilkan dengan mengolah tangkai dan pelepah daun. Serat ini pada masa silam cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan. Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) disadap orang nira lontar. Nira ini dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi legen atau tuak, semacam minuman beralkohol buatan rakyat. Buahnya juga dikonsumsi, terutama yang muda. Biji yang masih muda itu masih lunak, demikian pula batoknya, bening lunak dan berair. Adapula biji siwalan ini dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan (Heyne, 1987).

2.2    Tebu ( Saccharum officinarum L.)

2.2.1               Gambar

( Cakmus,2012)

 

2.2.2 Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Saccharum
Spesies: Saccharum officinarum L.

( Cakmus,2012)

Famili : Peaceae

Nama lokal : Sugar cane ( Inggris), Tebu (Indonesia), Tebu,Rosan (Jawa), Tiwu (sunda), Tebhu (Madura), Tebu, Isepan ( Bali), Teubee ( Aceh), Tewu ( Nias, Flores), Atihu ( Ambon ), Tebu (Lampung) ( Arisandi, 2008:330).

2.2.3               Deskripsi Tanaman :

Tebu termasuk keluarga Gramineae (rumput-rumputan), berkembang biak di daerah beriklim sedang sampai panas yang mempunyai ketinggian tanah 1 sampai 1300 meter dpl. Di Indonesia terdapat beberapa jenis tebu, diantaranya tebu hitam ( Cirebon), tebu kasur, POJ 100, POJ 2364, EK 28, POJ 2878. Setiap jenis tebu memiliki ukuran batang serta warna yang berlainan. Tebu termasuk tumbuhan berbiji tunggal. Tinggi tumbuhan tebu berkisar pada 2-4 meter. Batang pohon tebu terdiri dari banyak ruas dan setiap ruasnya dibatasi buku-buku sebagai tempat duduk daun. Bentuk daun berwujud helaian dengan pelepah, panjangnya dapat mencapai 1-2 m, lebar 4-8 cm dengan permukaan kasar dan berbulu. Bunganya merupakan bunga majemuk yang berbentuk malai di puncak sebuah poros gelagah, akarnya berbentuk serabut ( Arisandi, 2008:330).

Menurut Steenis (2006), tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan rumput yang kokoh kuat, menahun, berumpun kuat dengan tunas merayap pendek atau tanpa tunas merayap, tinggi 2-6 m. Batang dengan mata akar pada ruas, kerap kali kuning, ungu, coklatk, atau merah, atau bergaris kerapkali berlilin. Pelepah daun pada sisi dan punggungnya kerapkali dengan rambut-rambut yang panjang dan tajam. Helaian daun berbentuk garis, bertepi kasar. Malai panjang 30-90 cm. Anak bulir berpasangan, 1 bertangkai, rontok sendiri, 1 duduk, rontok bersama anggotta poros bulir dan tangkai dari pada yang lain. Anak bulir lk 4 mm panjangnya, rambut panjang 1-1,5 cm, putih atau ungu, muncul di tengah-tengah anak bulir. Suikerriet, N, Tebu, Indonesia, J,Tiwu, S.

2.2.4               Manfaat :

Tanaman tebu dapat dimanfaatkan sebagai tanaman minuman, yaitu dari sari air tebu yang manis dapat dibuat minuman yang segar dan enak tanpa ada penambahan pemanis jika tebu sudah cukup tua. Selain itu Tebu dapat dimanfaatkan sebagai obat dari penyakit.

Selain sebagai bahan baku gula, tebu juga banyak berkhasiat sebagai obat, khasiat dari Tebu adalah sebagai berikut( Somad,2012):

  1. Ada beberapa manfaat tebu diantaranya gigunakan untuk dikomsumsi langsung dengan cara dibuat jus, dibuat menjadi tetes rum dan dibuat menjadi booze yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar. Limbah hasil produksi dari tebu bisa dimanfaatkan menjadi listrik.
  2.  Ekstrak sari tebu yang ditambah jeruk nipis dan garam biasa di komsumsi di India itu dimaksudkan untuk memberika kekuatan gigi dan gusi
  3. Air tebu dapat dimanfaatkan sebagai penyembuh sakit tenggorokan dan mencegak sakit Flu serta bisa menjaga badan kita sehat. Air tebu ini bisa dimanfaatkan oleh penderita diabetes dimanfaatkan sebagai pemanis karena kadar gula yang rendah. Karena tebu bersifat acrid sehingga dapat membantu melawan kanker payudara dan prostat.
  4. Mengkomsumsi air tebu secara teraktur dapat menjaga metabolisme tubuh kita dari kekurangan cairan karena banyak kegiatan yang sudah dilakukan sehingga dapat terhindar dari stroke. Dengan banyaknya kandungan karbonhidrat sehingga dapat menambah kekuatan jantung, mata, ginjal dan otak. Membantu dalam pengobatan penyakit kuning karena memberikan kekuatan untuk hati yang menjadi lemah selama penyakit kuning. Membantu dalam menjaga aliran air kencing yang jelas dan juga membantu ginjal untuk menjalankan fungsi mereka dengan baik.

Menurut Arisandi (2008), untuk penyakit jantung berdebar tebu yang digunakan adalah bagian akarnya yaitu 3 genggam akar tebu hitam yang dicuci kemudian direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih dan tersisa 1 gelas. Penyakit panas menggunakan tebu hitam diperas secukupnya kemudian airnya diminum, sedang untuk penyakit batuk diobati menggunakan 3-5 ruas tebu hitam yang dibakar kemudian dikupas dan diperas airnya kemudian diminum.

 

 

 

2.3    Kelapa (Cocos nucifera L.)

2.4    2.3.1 Gambar

                                                    (Cakmus,20112)

2.3.2 Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Arecidae
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus: Cocos
Spesies: Cocos nucifera L.(Cakmus,2012)

Nama umum :

Indonesia: Kelapa, nyiur, kalapa (Snd), krambil (Jw),

Inggris: Coconut

Melayu: Kelapa, Nyiur

Pilipina: Niyog, Lobi, Inniug, Ongot, Gira

Jepang: Yashi no mi, kokonattsu

 

2.3.3 Deskripsi Tanaman

2.3.3.1 Habitat
Habitat  Cocos nucifera L. adalah berdasarkan pengamatan adalah di desa Tawang sari RT:03, RW:01- Ngasem-Ngajum-Malang tepatnya di dekatnya sawah belakang rumahnya ibu sani. Berupa dataran rendah dengan jaraknya dengan mata air sangat dekat, berkaisar 5  meter. Keadaan tanahnya subur dan juga gembur. Kelembapan nya rendah dengan pencahayaan matahari yang cukup, sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung secara sempurna. Jarak mangifera indica L dengan taman lain cukup baik yakni 5 meter. Pengamatan ini dilakukan pada jam 08.00-11.00.

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim degan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit(Semangun, 2008 ).

2.3.3.2 Habitus

Habitus berupa  pohon . Tingginya dapat mencapai 24 meter. Pohondengan batang tunggal atau kadang-kadang  bercabang. (Semangun, 2008 ).Baca Selengkapnya…

2.3.3.3 Akar

Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Akar  serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahar berpasir pantai (Semangun,2008).
2.3.3.4 Batang
Batang tingginya sampai lebih dari 30 m dan diameter 40 cm, pada pangkal membesar. Batangnya keras, kadang tidak bercabang. Berwarna gelap,  yakni kecoklatan. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa . Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalutampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu (Semangun, 2008).
2.3.3.5 Daun
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak ,  hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Daun dalam tajuk, tangkai daun 75-150 cm panjangnya, helaian daun panjannya sampai 5 meter. Anak daun sampai 120 kali 5-6 cm dengan ujung lancip yang keras dan mudah rontok (Semangun, 2008).

2.3.3.6 Bunga
Tongkol bunga dengan 2 seludang , bercabang satu kali. Cabang karangan dengan bunga jantan yang banyak dan tersusun berpasangan, pada pangkalnya dengan satu bunga betina yang besar, kerapkali di kiri kana nada 2 bunga jantan, bunga mekar dari ujung kemudian kea rah pangkal. Bunga jantan panjangnya lk 9 mm; daun kelopak kecil; daun mahkota berbentuk lanset; benang sari 6; putik rudimentair berbagi 3. Bunga betina bulat peluru, akhirnya garis tengah 2,5 – 3 cm, dengan perhiasan  bunga berdaging yang menempel pada bakal buah. Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar (steenis, 2006).

2.3.3.7 Buah
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:

  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi. Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula)(semangun, 2008).

2.3.4 Manfaat
Kayu nya kurang baik digunakan untuk bahan bangunan. Kelapa adalah pohon serba guna bagi masyarakat tropika. Hampir semua bagiannya dapatdimanfaatkan orang. Batangnya, yang disebut Glugu dipakai orang sebagai kayu denganmutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur , dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatanketupatatau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakatJawadanBalidalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (senimerangkai  janur).Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan disebut lidi , dihimpun menjadi satumenjadisapu.Tandan bunganya, yang disebut mayang , dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk  ( bahasa Jawa),dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadituak. Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesoka rpyang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali,keset, serta media tanam bag ianggrek .  Tempurung atau batok  , yang sebetulnya adalah bagian endokarp, dipakai sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan  bahan baku berbagai bentuk kerajinan tangan.Endosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat di dinding dalam batok adalah sumber penyegar populer. Daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar/penenang.Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut  (kelapa) kopyor . Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan . Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai, disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatanminyak kelapadan turunannya. Cairan buah tua kelapa biasanya tidak menjadi bahanminuman penyegar dan merupakan limbah industri kopra. Namun demikian dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam  jelly yang disebut nata de coco  dan merupakan bahan campuran minuman penyegar.(sukamto, 2005).

2.5    Kopi (Coffea arabica L.)

2.4.1 Gambar

( Cakmus,2012)

2.4.2  Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Rubiales
Famili: Rubiaceae  (suku kopi-kopian)
Genus: Coffea
Spesies: Coffea arabica L.(Cakmus,2012)
Nama daerah:
Kopi(umum, Indonesia, melayu, jawa, sunda, Madura, bali, Maluku, sulawesi)
2.4.3 Diskripsi Tanaman


2.4.3.1 Habitat
Habitat tanaman kopi berdasarkan pengamatan adalah di desa Tawang sari RT:03, RW:01- Ngasem-Ngajum-Malang. Berupa dataran rendah dengan jarak  mata air 30  meter, keadaan tanahnya subur dan juga gembur. Kelembapannya tinggi dengan pencahayaan matahari yang kurang, sehingga proses fotosintesis tidak dapat berlangsung secara sempurna. Jarak tanaman kopi dengan tanaman lain cukup baik yakni 1 meter. Pengamatan ini dilakukan pada pukul 9.00-11.00.

Tanaman kopi dikaenal sebagai tanaman yang 90 % akarnya terdapat dilapisan tanah yang dangkal, dalamnya hanya sekitar 0-30 cm, karena inilah maka tanaman tersebut dapat di katakan sangat peka terhadap kandungan bahan organik, perlakuan tanah serta terhadap saingan rumpai. Kalau pertumbuhan akarnya dalam keadaan baik, dapat dipastikan pertumbuhan pohonya akan baik pula, sebab bagi tanaman kopi ini antara berat akar dan bagian-bagian pohon di atas tanah(shoot) terdapat hubungan yang positif. Akan tetapi apabila pertumbuhan akar tanaman kopi terhambat, dapat berakibat tanaman tersebut tampak kerdil, biasanya kejadian ini karena kekurangan air atau kekurangan udara ataupun karena tergenang air. (kartasapoetra, 1988).

2.4.3.2 Habitus

Habitus tanaman kopi berupa perdu yang jorok, boleh dikatakan lemas 2-3 m tingginya, bila di ujung tidak dipotong bisa lebih tinggi; ruas cabang lk 2-5 cm panjangnya, jarang lebih panjang(steenis, 2006).

2.4.3.3 Akar      
Akar tanaman kopi adalah akar jenis serabut. Akar serabut adalah akar yang tidak memiliki akar utama, jadi akarnya banyak dan berserabut. Akarnya ini berfungsi untuk penyerapan  air dan mineral-mineral yang ada di dalam tanah.

2.4.3.4 Batang
batangnya pada tanaman kopi ini bercabang-cabang , kokoh kuat tegak 2-4 m tingginya, jika dipotong ujungnya bisa lebih tinggi, antar ruas cabang lk 8-15 cm panjangnya.(mulyani, 2006).

2.4.3.5 Daun
Daun lebar, memanjang lebar, 20-30 cm panjangnya, 10-16 cm lebarnya, urat daun tenggelam, sehingga permukaan daun jelas berlekuk-lekuk. Pangkal daun membulat. Tangkai daun 1 cm, tulang samping lk 10-12 pasang; helaian daun mengkilat, ujung meruncing mendadak dari bagian yang mula-mula membulat. (steenis, 2006).

2.4.3.6 Bunga
Anak payung terdiri dari 3-5 bunga, yang lebih banyak lagi dalam kedua ketiak, sehingga membentuk gubahan semu yang berbunga banyak ; setiap anak payung pada pangkalnya dengan dua daun penumpu yang cukup lembek, berbentuk segitiga dan lk panjang 5 mm, dan tegak lurus padanya terdapat 2 anak daun yang tereduksi berbetuk sudip, lk 8 mm panjangnya; bersama-sama membentuk sebuah pembalut tetap, yang menyembunyikan tangkai bunga dan bakal buah yang masing-masing 1 m m. Bunga putih, harum; tabung mahkota lk 15-18 mm panjangnya; taju mahkota 5-7, lk 12-13 mm panjangnya dan 3,5-4 mm lebarnya. Benang sari tertancap diantara taju, berlekatan punggung, lk 5 mm panjangnya, terpuntir, pada tangkai sari yang 3-4 mm panjangnya. Tangkai putik menjulang jauh di luar tabung dengan 2 cabang yang panjang menjahui satu dengan lainnya(Steenis, 2006).

2.4.3.7 Buah
Buah batu merah, bulat telur bola, lk 15-18 mm garis tengahnya.
pada waktu masih muda buahnya berwarna hijau akan tetapi disaat sudah masak akna berubah warna nya menjadi merah(kartasapoetra, 1988).

2.4.3.8 Biji
Kebanyakan  berbiji 2; inti bola-pipih, pada bagian perut dengan sebuah alur. Berasal dari Afrika tropis, di jawa melulu ditanam, terutama di jawa timur. 10-800 m.(kartasapoetra, 1988).
2.4.4 Manfaat

Kopi sudah dikenal oleh masyarakat luas sejak dahulu, baik sebagai minuman penyegar maupun sebagai bahan obat tradisional. Secara tradisional, kopi banyak berkhasiat sebagai penahan kantuk, penyegar, pelengkap obat kuat, obat batuk, peluruh air seni, dan mengobati penyakit asma. Berdasarkan efek farmakologinya, kopi diketahui memilki efek sebagai antiasma. Potensi antiasma ini disebabkan karena adanya kandungan aktif dalam biji yang berupa alkaloid golongan ksantin (xanthin derivat), seperti teofilina dan teobromina. Biji kopi juga mengandung kafeina yabg berkhasiat sebagai stimulansia saraf(perangsang saraf pusat). Namun, di Negara-negara barat, kafein ini mulai dihindari karena diketahui berakibat buruk bagi jantung dan tekanan darah tinggi(Mulyani, 2006 ).

Menurut Mulyani (2006), manfaat yang lain adalah:

1)    Menurunkan resiko Diabetes Tipe-2

Siapa dapat menduga bila minuman sesederhana kopi dapat memberikan keuntungan yang menakjubkan bagi kesehatan? Ternyata, dengan meminum kopi dapat mengurangi resiko diabetes tipe dua. Menurut Sid Kirchheimer dari WebMD, semakin banyak kopi yang diminum, semakin baik hasil yang diperoleh. Bahkan, Universitas Harvard telah melakukan riset tentang manfaat kopi bagi kesehatan selama 18 tahun, dengan menganalisa data dari sekitar 126 ribu orang. Hasilnya, dengan meminum kopi 1-3 cangkir sehari dapat mengurangi resiko terkena diabetes hingga 10 persen, sedangkan dengan meminum kopi 6 cangkir atau lebih dapat mengurangi resiko pria dari serangan diabetes tipe dua sebesar 54 persen, sedangkan untuk wanita dapat berkurang 30 persen. Ini argumen bagus untuk ungkapan “satu poci kopi sehari”, ungkapan bagi orang yang ketagihan minum kopi setiap harinya.

2)    Mengurangi Resiko Penyakit Parkinson dan Lainnya

Enam kelompok studi lain menemukan bahwa peminum kopi yang meminum kopi dengan teratur dapat mengurangi resiko terkena Parkinson lebih dari 80 persen. Menurut Thomas DePaulis, Phd, seorang ilmuwan dari Vanderbilt University’s Institute for Coffee Studies, menyatakan, semakin banyak meminum kopi, diperoleh hasil yang semakin baik. Nampaknya bagi mereka yang tidak meminum kopi, juga memiliki resiko terkena kanker kolon, sirosis hati, bahkan batu empedu! Penelitan terbaru lainnya menunjukkan bahwa kopi dapat memberi keuntungan bagi kesehatan jantung, mengurangi resiko penyakit jantung sampai 53 persen. Sedangkan bagi pria efek kafein juga dapat menyebabkan ”sperma” berenang lebih cepat dan mampu meningkatkan kesuburannya. Begitu hasil penelitian para ilmuwan di San Antonio, Brazil, yang mengkhususkan pada bidang efek-efek obat bagi kesuburan pria.

3)    Mengimbangi Kebiasaan Jelek Lainnya

Kopi tidak hanya memiliki efek yang bagus bagi tubuh dalam hal melawan penyakit, namun juga dapat membantu untuk mengimbangi atau memutar balik resiko yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk. Menurut Thomas DePaulis, “Perokok dan peminum berat akan memiliki resiko lebih rendah terkena penyakit jantung dan gangguan liver bila mereka memiliki kebiasaan minum kopi secara teratur dibandingkan mereka yang tidak minum kopi.” Sedangkan bagi orang yang susah berkonsentrasi mengkonsumsi kopi teratur dengan kadar yang wajar, diketahui dapat meningkatkan respon reaksi otak dalam mengolah memori. Hal ini terjadi karena, kopi merangsang lebih banyak daerah dalam otak.

4)    Dapat Membantu Mengobati Penyakit

Ada bukti yang menunjukkan bahwa kopi dapat membantu mencegah serangan asma dan bahkan dapat mengaturnya di saat kekurangan obat tradisional. Juga, kopi sangat bermanfaat dalam mengobati sakit kepala, khususnya migrain, dan penelitian menunjukkan, orang yang minum kopi meningkatkan perlindungan terhadap rongga perutnya sendiri. Bagi kaum hawa,  mengkonsusmi satu hingga dua cangkir perhari mengurangi resiko terkena penyakit osteoporosis (pengeroposan tulang). Kafein juga diketahui dapat melegakan pernafasan bagi penderita asma dengan melebarkan saluran bronkial, saluran yang menghubungkan kerongkongan dengan paru-paru. Radikal bebas dalam tubuh yang merusak DNA, juga dapat dicegah dengan mengkonsumsi kopi secara teratur dan wajar.

5)    Membantu Kita Mengontrol Depresi

Kopi telah membuktikan dapat membantu mengatur maupun menanggulangi depresi. Sebagian, tentu saja, karena kandungan kafein membuat kita tetap sadar, yang dapat mengurangi perasaan depresi, namun mungkin juga berhubungan dengan tingkat oksidan yang terkandung dalam secangkir kopi. Sebenarnya, suatu penelitian dari Brazil baru-baru ini menunjukkan bahwa bahkan anak-anak dapat meminum kopi dalam jumlah yang sesuai dengan usianya untuk mengatasi depresi. Kenyataannya, dalam penelitian menunjukkan sejumlah kecil kopi (1-2 cangkir sehari) sesungguhnya memiliki manfaat bagi kesehatan anak-anak, meskipun pernyataan sebelumnya menyatakan bahwa meminum kopi dapat menghambat pertumbuhan seseorang.

2.6    Teh(Camellia sinensis (L.) Kuntze)

2.5.1 Gambar

(Cak mus, 2008)

2.5.2 Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Theales
Famili: Theaceae
Genus: Camellia
Spesies: Camellia sinensis (L.)O.K (cak mus, 2008)

2.5.3 Deskripsi Tanaman

2.5.3.1 Habitat

Tanaman teh adalah tanaman yang tumbuh didaerah tropis dan subtropis dengan ketinggian  sekitar 200  –  2000 m diatas permukaan laut, di areal dengan curah hujan sedikitnya 50 inci setahun. Namun, ia dibudidayakan secara komersial dari katulistiwa hingga sejauh Cornwall di daratan utama Inggris.  banyak teh kualitas tinggi ditanam di ketinggian hingga 1500 meter karena tanaman ini tumbuh lebih lambat dan rasanya yang lebih baik.

2.5.3.2 Habitus

Teh merupakan pohon tetapi karena pemangkasan, teh kerap kali terlihat seperti perdu, tinggi tanaman teh sekitar 5-10 m.

2.5.3.3 Bagian-bagian Tanaman

Tanaman teh umumnya di tanam di perkebunan, dan dapat tumbuh pada ketinggian 200-2.300m dpl. teh berasal dari kawasan India bagian Utara dan Cina selatan. Ada dua kelompok varietas teh yang terkenal yaitu assamica yang berasal dari assam dan sinensis yang berasal dari Cina. Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung runcing, sedangkan varietas sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak tumpul. Pohon kecil, karena sering dipangkas, akan tumbuh kecil ramping setinggi 5-10 m, dengan bentuk tajuk seperti kerucut. Batang tegak, berkayu, bercabang-cabang, ujung ranting dan daun muda berambut halus. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berseling, helai daun kaku seperti kulit tipis, bentuk elips memanjang, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi halus, pertulangan menyirip, panjang 6-18 cm, lebar 2-6 cm, warnanya hijau, permukaan mengkilap. Bunga di ketiak daun, tunggal atau beberapa bunga  bergabung menjadi satu. Berkelamin dua, garis tengah 3-4 cm, warna putih cerah dengan kepala sari berwarna kuning, harum. Buahnya kotak, berdinding tebal, pecah menurut ruang, masih muda hijau setelah tua coklat kehitaman. Biji keras, 1-3. Pucuk dan daun muda digunakan untuk pembuatan minuman teh. Perbanyakan tanamn teh ini menggunakan biji, setek, sambungan atau cangkokan (Arisandi, 3008: 331).

Menurut steenis (2006) menyatakan bahwa teh ber ujung ranting dan daun muda berambut halus. Daun tersebar, termasuk daun tunggal, helaian daun ellips memanjangdengan pangkal yang berbentuk runcing bergerigi, permukaan daunnya tipis seperti kulit. Bunga tumbuh diketiak, the termasuk tumbuhan yang mempunyai 2 alat kelamin yaitu putik dan benang sari. Bunga yang membuka menunduk, bunganya sangat harumdan berwarna putih cerah. Daun kelopak tetap, 5-6, sangat tidak sama. Daun mahkota pada pangkalnya menempel ringan. Benang sari berlingkaran banyak yang terluar pangkalnya bersatu melekat dengan daun mahkota. Tangkai putik bercabang 3. Buah kotak berkayulebarnya lebih dari pada panjangnya.

Menurut kartasapoetra (1992), menyatakan bahwa daun teh berbau khas aromatik rasanya agak sepet. Helaian-helaian daun dapat dikatakan cukup tebal, kaku berbentuk sudip melebar sampai sudip memanjang, panjangnya tidak lebih dari 5 cm, bertangkai pendek. Permukaan daun mengkilat, pada daun muda permukaan bawahnya berambut, sedang yang telah tua menjadi licin. Tepi daun bergerigi, agak tergulung kebawah, berkelenjar yang khas dan terbenam.

2.5.4 kandungan dan manfaat

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa teh mengandung banyak vitamin, protein dan anti oksidan yang berguna bagi tubuh, selain itu teh juga mengandung mineral, seperti fluoride yang bagus untuk kesehatan gigi dan juga kalsium yang bagus untuk tulang. Zat-zat atau senyawa yang ada dalam teh dan bermanfaat bagi tubuh kita yaitu(Rossi, 2010: 50-61):

a)    Polifenol teh

Polifenol pada teh yang paling beken adalah katekin dan flavanol. Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkap radikal bebasdalam tubuh dan juga ampuh mencegah berkembangnya sel kanker dalam tubuh. Kolaborasi antara katekin dan theaflavin memberi sentuhan rasa segar dalam seduhan teh, tetapi dalam kondisi dingin, kedua senyawa tersebut akan menyebabkan creaming down (sesuatu dimana seduhan teh terlihat keruh).

b)    Karbohidrat

Meskipun tidak nampak, daun teh juga mengandung karbohidrat. Karbohidrat yang terdapat pada daun teh mulai dari gula sederhana hingga yang kompleks. Karbohidrat yang penting diantaranya sukrosa, glukosa dan fruktosa.

c)    Alkaloid-kafein

Alkoid utama dalam daun teh adalah kafein. Kafein memberi rasa yang menggigit. Terlalu banyak kafein tidak baik untuk tubuh. Akan tetapi, kafein tidak seluruhnya buruk. Kafein adalah zat penyegar yang mampu merangsang kerja sistem saraf pusat.

d)    Protein dan asam amino

Daun teh mengandung protein yang dirasakan sangat besar peranannya dalam pembentukan aroma pada teh (Rossi, 2010: 50-61)

Manfaat meminum teh  yaitu selain menyegarkan dapat juga sebagai obat untuk menghilangkan sakit kepala, diare, penyubur dan menghitamkan rambut, baik juga untuk orang yang terkena penyakit kencing manis dan kelebihan kolesterol (Arisandi, 3008: 331).

Khasiat teh bagi kesehatan salah satunya untuk mencegah terjadinya osteoporosis, kanker payudara, untuk diet, membantu proses pencernaan, mencegah kanker perut, memperbaiki memori otak, menurunkan tekanan darah dan untuk kecantikan.

Teh merupakan minuman sepanjang musim dan suasana, tak berlebihan apabila menyebut teh sebagai minuman pengulur usia. Suatu penelitian menyebutkan bahwa orang yang rajin minum teh minimal 1 cangkir per hari akan dapat menekan angka kematian. Memang tepat jika menjadikan minum teh sebagai tradisi dan menikmatinya dalam jumlah banyak karena tidak menimbulkan keracunan dalam jangka panjang. Efek negatif teh hanya jika di konsumsi terlalu kental, karena teh mengandung asam tanat yang bisa mangakibatkan anemia dan kekurangan zat besi (Rossi, 2010: 134-136).

2.7    Asam Jawa (Tamarindus Indica)

2.6.1 Gambar

(Cak mus, 2008)

2.6.2 Sistematika Takson

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Tamarindus
Spesies: Tamarindus indica L. (Cak mus, 2008)
Nama umum:

Nama Tamarindus dan tamarind diturunkan dari bahasa Arab تمرهندي tamr hindī. Artinya kurang lebih: kurma India. Tamarind (Inggris); Tamarinier (Perancis); Asam Jawa (Indonesia), Bak mee (Aceh), Acam lagi (Gayo) ,Asam jawa (Melayu), Cumalagi (Minangkabau), Tangkal asem (Sunda), Wiiasem (Jawa),  Acem (Madura),  Celagi (Bali),  Bage (Sasak),  Mangga (Bima),  Kanefo kiu (Timor),  Tobi (Solor),  Asam jawa (Dayak),  Asang jawi (Gorontalo),  Tamalagi (Buol),  Saamba lagi (Barros) , Comba (Makasar),  Sablaki (Tanirnbar),  Asam jawa ka (Buru),  Asam jawa (Ternate),  Tabelaka (Seram) (Juliana, 2008: 4).

2.6.3 Deskripsi Tanaman

2.6.3.1 Habitat

Asam jawa termasuk tumbuhan tropis sehingga pohon asam sering ditanam sebagai pohon pelindung di tepi jalan raya. Di pedesaan, asam ditanam sebagai pohon buah. Asalnya dari Afrika Tropis kemudian menyebar ke India, dan sekarang banyak ditanam di daerah tropis lainnya. Pohon ini terdapat di dataran rendah pada daerah yang musim kemaraunya jelas sampai kering. Pohon asam dapat tumbuh baik hingga ketinggian sekitar 1.000 m dpl, pada tanah berpasir atau tanah liat, khususnya di wilayah yang musim keringnya jelas dan cukup panjang (Juliana, 2008: 4).

2.6.3.2 Habitus

Pohon asam berperawakan besar, selalu hijau (tidak mengalami masa gugur daun), tinggi sampai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 2 m. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat (Hamid, 2011).

 

2.6.3.3 Bagian-bagian  Tanaman

Asam jawa ( Tamarindus indica ) merupakan kultivar daerah tropis, dan termasuk tumbuhan berbuah polong. Daunnya bertangkai panjang kira-kira 17 cm dan bersirip genap. Bunganya kuning merahan, buah polongnya berwarna coklat dengan rasa asam. Didalam buah polong terdapat kulit yang membungkus daging buah dan 2-5 buah berbentuk pipih, warna coklat kehitaman (Arisandi, 3008: 46)

Tanaman asam termasuk kedalam suku fabaceae yang merupakan gabungan dari suku papilionaceae dan caesalpiniaceae yaitu tanaman berupa perdu atau pohon, daun hampir selalu majemuk menyirip atu menyirip ganda, jarang sekali tunggal atau beranak daun satu, mahkota bunga  nyata berbentuk kupu-kupu, tetapi ke 5 daun mahkota bebas tidak ada yang berlekatan atau dapat pula jumlah daun mahkota kurang dari 5 bahkan sampai tidak ada, benang sari 10 jarang lebih, biasanya bebas atau berlekatan dengan bermacam-macam cara. Buahnya polong yang jika masak menjadi kering kemudian pecah atau berdaging dan tidak membuka,sering kali bersayap. Biji dengan endosperm tipis atau tanpa endosperm, lembaga besar (Tjitrosoepomo, 2010: 209).

Asem (Tamarindus indica) termasuk pohonmempunyai tinggi antara 15-25 m. Biasanya ditanam di dataran tinggi. Daun berselin, menyirip genap, panjang 5-13 cm. anak daun berhadapan, 10-15 pasang, memanjang sampai berbentuk garis, sisi bawah daun berwarna hijau biru, tandan bunga hampir duduk, panjang 2-16 cm, anak tangkai 1-1,5 cm. daun penumpu cepat rontok, tabung mahkota hijau, taju memanjang, runcing, kuning, panjang 1 cm. ketiga daun mahkota yang besar memanjang bulat telur terbalik, keriting, panjang sekitar 1 cm yang dua terbawah panjang 1-2 mm. benang sari bersatu sampai jauh diatas, 3 benang sari yang sempurna berseling dengan 4 staminodia yang berbentuk gigi. Bakal buah diatas tangkai yang bersatu dengan tabung kelopak. Polongan bertangkai memanjang sampai bentuk garis, tebal, buah berwarna coklat suram, diantara biji kerap kali menyempit, dinding luar rapuh, daging buah rasanya masam, biji 1-12 berwarna coklat mengkilat (Steenis, 2006: 217).

  1. 1.      Batang

Tamarindus indica merupakan tanaman yang berbatang jelas, dengan batang yang biasanya keras dan kuat yang disebut dengan batang berkayu (lignosus). Bentuk batang bulat (teres), dengan pohon yang selalu tegak (fastigiatus) karena jika sudut antara batang dan cabang amat kecil, sehingga arah tumbuh cabang hanya pada pangkalnya saja sedikit serong ke atas, tetapi selanjutnya hampir sejajar dengan batang pokoknya, dan pada permukaan banyak memperlihatkan adanya lentisel. Pohonnya selalu hijau, tinggi sampai 30 m dengan lebat dan menyebar, serta memiliki cabang  yang pendek (virgula atau virgula sucrescens). Serta termasuk kedalam percabangan simpodial yaitu batang pokok sukar dibedakan karena perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah cepat pertumbuhannya dibanding dengan cabangnya, serta memiliki warna coklat muda (Panuju, 2010).

  1. 2.    Daun

Memiliki bagian daun terlebar di tengah-tengah helaian daun, yaitu bangun memanjang (oblongus), yaitu perbandingan panjang dan lebar daunnya 2,5-3:1. Dimana T. indica memiliki panjang daun sampai 15 cm, lebarnya 0,5-1 cm. Memiliki ujung daun yang tumpul atau obtusus. Termasuk ke dalam jenis pangkal daun (Basis Folii) membulat atau rotundatus. Memiliki susunan pertulangan daun (Nervatio atau Vernatio)  yang meyirip (penninervis), jadi biasanya disebut daun majemuk menyirip. Termasuk ke dalam tepi daun (Margo Folii) yang rata (integer). Memiliki daging daun (Intervenium) yang tipis lunak. Warna daun  hijau permukaan daun halus (Panuju, 2010).

  1. 3.    Bunga

Termasuk ke dalam bunga majemuk (Anthotaxis, Inflorescentia) yang terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut (Panuju, 2010).:

1.  Bagian-bagian yang bersifat seperti batang atau cabang, yaitu : ibu tangkai bunga (pendiculus, pendunculus communis atau rachis), tangkai bunga (pedicellus), dan dasar bunga (receptacullum).

2.  Bagian- bagian yang bersifat seperti daun, yaitu : daun-daun kelopak (sepala), daun-daun mahkota (petala), benang sari (stamen), dan daun-daun buah (carpella) penyusun putik (pistillum).

Bunga termasuk bunga lengkap karena memiliki daun kelopak, daun mahkota, benang sari dan putik sebagai alat kelamin, dengan demikian juga disebut sebagai bunga hermaphrodite karena memiliki 2 alat kelamin bunga yaitu benang sari sebagai alat kelamin jantan dan putik sebagai alat kelamin betina. Bunga T. indica ini berukuran kecil. Selain itu bersimetri banyak (polysimetris), memiliki kelopak yang termasuk ke dalam polysepalus atau antara kelopak yang satu dengan yang lainnya saling lepas (Panuju, 2010)..

Pada mahkotanya saling lepas atau disebut polypetalus dengan warna kekuning-kuningan  dan coretan merah muda, berjumlah 5 – 10 dalam tangkai sepanjang 3 – 5 cm dengan umumnya bermahkota kecil. Benang sarinya duduk di atas kelopak yang dinamakan Calyciflorae. Putiknya termasuk putik tunggal (simplex).

  1. 4.    Buah dan  BIJI (SEMEN)

Termasuk ke dalam buah sejati tunggal (buah sungguh) dan kering. Dimana mengandung banyak atau lebih dari satu biji dan jika masak dapat pecah menjadi beberapa bagian buah (mericarpia). Lebih spesifik lagi T. indica termasuk buah kotak yang digolongkan ke buah polong (legumen), yang mempunyai daging dan jika masak juga tidak pecah. Buahnya yang berbentuk seperti polong itu tidak merekah dan ketika kering akan rapuh, panjangnya mencapai 5 – 15 cm dengan tebal 2,5 cm, agak melengkung dan membungkus biji. Kulit cangkang luar lunak dan daging buahnya asam. Daging buahnya asam sedap dan kulit buahnya coklat. Terdapat 1 – 10 biji setiap polong, dibungkus oleh daging buah yang lengket (Panuju, 2010).

Waktu muda daging buahnya berwarna putih kehijauan dan sesudah tua menjadi coklat. Daging buah tersebut biasa dipakai untuk mengasamkan makanan, dibuat sirup, bahkan bisa dipakai untuk membersihkan barang-barang logam yang warnanya berubah kehitaman. Daging buah yang sudah tua kadang-kadang diolah (ditanak) agar tahan lama. Karena warnanya menjadi kehitam- hitaman, maka disebut asam kawak. Dalam satu kilogram terdapat 1.800 – 2.600 benih. Dimana memiliki panjang sampai 18 mm, bentuk tidak teratur, warna : kemerah-merahan, coklat tua atau hitam mengkilat (Mulyani. 2004).

Ada 3 bagian utama biji :

Kulit biji (spermodermis)

Memiliki kulit luar (testa) keras yang halus sedangkan lapisan tengah (sclerotesta) yang kuat dan keras, serta lapisan kulit dalam (endotesta) yang biasanya tipis seperti selaput, yang juga disebut sebagai kulit ari.

Tali Pusar (funiculus)

Jika masak biasanya biji terlepas dari tangkai biji atau tali pusarnya dan biasanya tampak bekas yang dikenal pusar biji.

Inti biji (nucleus seminis)

Terdiri dari lembaga (embryo) sebagai calon individu baru dan putih lembaga (albumen) berupa jaringan cadangan makanan untuk permulaan pertumbuhan kecambah sebelum dapat mencari makanan sendiri.

  1. 5.    AKAR (RADIX)

Akar dari tanaman Tamarindus indica ini termasuk ke dalam golongan akar tunggang (radix primaria) yang menembus ke dalam tanah. Biasanya pada akar terdapat bagian-bagian seperti : leher akar (collum), ujung akar (apex radicis), batang akar (corpus rasicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar (fibrilla radicalis), rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), dan tudung akar (calyptra) (Sutedjo, 2004).

2.6.4 Kandungan dan Manfaat

Di Indonesia pohon asam sudah lama dikenal oleh masyarakat. Di Jawa, pohon asam umumnya ditanam sebagai pohon peneduh jalan. Tanaman asam termasuk jenis tanaman tropis yang buahnya terasa sangat asam. Buah asam yang setengah masak biasa digunakan sebagai penyedap sayur asem, sedangkan buah asam yang tua sering dibuat manisan, minuman segar, campuran jamu, atau dibuat sirup. buah Tamarindus indica L. mengandung glukosa, xylosa, dan galaktosa. Buah Tamarindus indica L. mempunyai efek menurunkan demam (Juliana, 2008).

Menurut Mulyani (2004), bentuk buah asam bagaikan polongan dengan dagingyang tebal berbiji-biji, yang tua berwarna coklat tua, dalam daging buah terdapat fragmen-fragmen berupa serat dan selaput, bijinya pun berselaput tipis. Buah asam sangat baik untuk obat pencahar lemah, dan sebagai bahan minuman yang menyegarkan.

Daun asam jawa digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional karena mempunyai beberapa khasiat. Rasa buah asam, manis, bersifat sejuk, astringen. Daging buah asam berkhasiat pencahar (laksan), penyejuk, pereda demam (antipiretik), antiseptik, abortivum, dan meningkatkan nafsu makan. Daun berkhasiat penurun panas (antipiretik), pereda nyeri (analgesik) dan antiseptik (Dalimartha, 2006).

Selain sebagai bahan minuman dan selai, daging buah asam juga dapat digunakan sebagai obat bagi yang menderita penyakit asma, demam, batuk, reumatik, sakit perut, sariawan, Luka baru, Luka borok, eksim dan  bisul, bengkak disengat lipan atau lebah, Rambut rontok dan gigitan ular bisa (Rossi, 2010).

 

 

2.8    Kedelai (Glycine max (L.)

2.7.1 Gambar

 

                                    ( Cakmus,2008)

2.7.2 Sistematika Takson

Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut  (Muchtadi, 2010):

Kindom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Classis: Dicotyledoneae

Ordo    : Rosales

Familia: Papilionaceae

Genus : Glycine

Species: Glycine max (L.) Merill

2.7.3 Deskripsi Tanaman 

Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak.Kedelai (Glycine max) sudah dibudidayakan sejak tahun 1500 SM dan baru masuk Indonesia, terutama jawa sekitar  tahun 1750. Kedelai ditanam di ladang atau persawahan, antara musim kemarau dan musim hujan. Sedang rata-rata curah hujan tiap tahun yang cocok bagi kedelai adalah kurang dri 200mm dengan jumlah bulan kering 3-6 bulan dan hari hujan berkisar 95-122 hari selama setahun. Kedelai  mempunyai perawakan kecil dan tinggi batangnya dapat mencapai 75 cm. bentuk daunnya bulat telur, kedua ujungnya membentuk sudut lancip bersusun tiga menyebar. Dalam satu untaian ranting yang menghubungkan batang pohon. Berbuah polong yang berisi biji. Menurut varietasnya ada kedelai berwarna putih dan hitam. Baik kulit luar buah polong maupun batang pohonnya mempunyai bulu kasar berwarna coklat. Di pulau jawa, budidaya tanaman kedelai yang baik pada ketinggian tanah kurang dari 500 dpl (Arisandi, 2008)

Adapun morfologi secara rinci akan dijelaskan sebagai berikut  (Muchtadi, 2010):

2.7.3.1 Biji (Semen)

 

( Cakmus,2008)

Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endospperma. Embrio terletak diantara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapai ada pula yang bundar atau bulat agak pipih. biji kedelai mempunyai ukuran bervariasi, mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji), sedang (10-13g/100 biji), dan besar (>13 g/100 biji). Bentuk biji bervariasi, tergantung pada varietas tanaman, yaitu bulat, agak gepeng, dan bulat telur. Namun demikian, sebagian besar biji berbentuk bulat telur, Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam. Namun demikian, biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13% (Muchtadi, 2010).

 

 

2.7.3.2 Kecambah

( Cakmus,2008)

Biji kedelai yang kering akan berkecambah bila memperoleh air yang cukup. Kecambah kedelai tergolong epigeous, yaitu keping biji muncul diatas tanah. Warna hipokotil, yaitu bagian batang kecambah dibawah kepaing, ungu atau hijau yang berhubungan dengan warna bunga. Kedelai yang berhipokotil ungu berbunga ungu, sedang yang berhipokotil hijau berbunga putih. Kecambah kedelai dapat digunakan sebagai sayuran (Muchtadi, 2010).

2.7.3.3 Akar (Radix)

( Cakmus,2008)

Tanaman kedelai mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga 120 cm. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan alat pengangkut air maupun unsur hara, akar tanaman kedelai juga merupakan tempat terbentuknya bintil-bintil akar. Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum yang bersimbiosis secara mutualis dengan kedelai. Pada tanah yang telah mengandung bakteri ini, bintil akar mulai terbentuk sekitar 15 – 20 hari setelah tanam. Bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen langsung dari udara dalam bentuk gas N2 yang kemudian dapat digunakan oleh kedelai setelah dioksidasi menjadi nitrat (NO3) (Muchtadi, 2010).

2.7.3.4 Batang (Caulis) dan Cabang

( Cakmus,2008)

Hipokotil pada proses perkecambahan merupakan bagian batang, mulai dari pangkal akar sampai kotiledon. Hopikotil dan dua keeping kotiledon yang masih melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang kecambah yang berada diatas kotiledon tersebut dinamakan epikotil (Muchtadi, 2010).

Kedelai berbatang dengan tinggi 30–100 cm. Batang dapat membentuk 3 sampai 6 cabang, tetapi bila jarak antar tanaman rapat, cabang menjadi berkurang, atau tidak bercabang sama sekali. Tipe pertumbuhan batang dapat dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah terbatas (semi-indeterminate). Tipe terbatas memiliki ciri khas berbunga serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi. Tanaman pendek sampai sedang, ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian tengah, daun teratas sama besar dengan daun batang tengah. Tipe tidak terbatas memiliki ciri berbunga secara bertahap dari bawah ke atas dan tumbuhan terus tumbuh. Tanaman berpostur sedang sampai tinggi, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe setengah terbatas memiliki karakteristik antara kedua tipe lainnya (Muchtadi, 2010).

2.7.3.5 Bunga (Flos)

(Cakmus,2008)

Sebagian besar kedelai mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga mempunyai alat jantan dan alat betina. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup sehingga kemungkinan kawin silang alami amat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah terjadi penyerbukan secara sempurna. Sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong(Muchtadi, 2010).

Pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Pada suhu tinggi dan kelembaban rendah, jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak tangkai daun lebih banyak. Hal ini akan merangsang pembentukan bunga. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak tangkai daun yang diberi nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga, tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Periode berbunga pada tanaman kedelai cukup lama yaitu 3-5 minggu untuk daerah subtropik dan 2-3 minggu di daerah tropik, seperti di Indonesia(Muchtadi, 2010).

2.7.3.6 Daun (Folium)

 

( Cakmus,2008)

Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon pada buku (nodus) pertama tanaman yang tumbuh dari biji terbentuk sepasang daun tunggal. Selanjutnya, pada semua buku di atasnya terbentuk daun majemuk selalu dengan tiga helai. Helai daun tunggal memiliki tangkai pendek dan daun bertiga mempunyai tangkai agak panjang. Masing-masing daun berbentuk oval, tipis, dan berwarna hijau. Permukaan daun berbulu halus (trichoma) pada kedua sisi. Tunas atau bunga akan muncul pada ketiak tangkai daun majemuk. Setelah tua, daun menguning dan gugur, mulai dari daun yang menempel di bagian bawah batang(Muchtadi, 2010).

2.7.3.7 Buah atau Polong

 

( Cakmus,2008)

Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak (Muchtadi, 2010).

2.7.4 Manfaat

Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitinKedelai yang utuh dapat difermentasikan menjadi Tempe, Tauco, Kecap MISO dan NATO ( Jepang).  Ampas dari kedelai dapat diolah menjadi Tempe gembus dan pakan ternak.  Limbah cair dari kedelai dapat diolah mnjadi Nata De Soja. Dengan proses Germinasi kedelai dapat diolah menjadi Tauge kedelai. Sedangkan  tanpa difermntasi (non fermentasi) kedelai dapat diolah menjadi Kembang Tahu (Yuba), tepung  kedelai penuh (Whole soybean Flour), dan  tahu (tahu keras, tahu goreng,tahu lunak(silken tofu), tahu beku(Frozen Tofu). Selain itu juga dapat diolah menjadi susu kedelai. Dari susu kedelai tersebut bermanfaat sebagai makanan bayi, Es krim, sossis, tahu, yuba dan youghurt kedelai (Soyghurt). Pengolahan kedelai menggunakan Ekstraksi Heksan dapat menghasilkan mimyak kedelai ( minyak goreng, margarin,dan salad oil). Selain itu juga dapat menghasilkan bungkil kedelai yang bermanfaat sebagai pembuatan kecap(Shoyu), tepung kedelai non fat (roti, sossis, Donat), konsentrat  Protein (Roti, Convectionary, sosis, dan pasta ika), Isolator protein (Roti, Confectionary, sosis, dan Meat analog)), dan Soy Fiber (Suplement) (Muchtadi, 2010).

Didunia kesehatan kedelai juga bermanfat sebagai ramuan obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengobati Diabetus Miletus, ginjal, dan Reumatik (Arisandi, 2008).

2.8 Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia L)

 

( Cakmus,2008)

 

2.8.1 Sistematika Takson

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Rutales

Famili : Rutaceae

Genus : Citrus

Spesies : Citrus aurantifolia L.              (Cakmus,2012).

2.8.3 Deskripsi Tanaman

Jeruk nipis ( Citrus aurantifolia) termasuk salah satu jenis citrus Geruk . jeruk nipis termasuk jenis tumbuhan perdu yang banyak memiliki dahan dan ranting. Batang pohonya berkayu ulet dan keras. Sedang permukaan kulit luarnya tua dan kusam. Tanaman jeruk nipis pada umur 2 ½  tahun sudah mulai berbuah. Bunganya berukuran kecil-kecil berwarna putih dan buahnya berbentuk bulat  sebesar bola pimpong berwarna ( kulit luar) hijau atau kekuning-kuningan. Buah jeruk nipis sudah tua rasanya masam. Tanaman jeruk umumnya menyukai tempat-tempat yang dapat memperoleh sinar matahari langsung (Johani, 2008)

Jeruk nipis, disebut pula jeruk pecel (Citrus aurantium), yakni jenis tanaman jeruk yang banyak bercabang dan berduri pada batang pohonnya. Buahnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau jika masih muda dan kuning jika telah tua. Kulit buahnya tipis. Buah, akar, dan getah pohon dapat dijadikan obat (Komandoko, 2008)

Adapun morfologi tanaman Jeruk Nipis Ini akan dijelaskan sebagai berkut (Acandra, 2010):

2.8.3.1 Batang ( Caulis )

( Cakmus,2008)

Tanaman citrus memiliki batang yang tergolong dalam batang berkayu lignosus),  yaitu batang yang biasanya keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri dari kayu. Batangnya berbentuk bulat ( teres ), berduri ( spinosus ) pendek, kaku dan juga tajam. Selain itu arah tumbuh batangnya mengangguk ( nutans ), dimana batangnya tumbuh tegak lurus ke atas tetapi lalu ujungnya lalu membengkok kembali ke bawah (Acandra, 2010).

2.8.3.2 Daun ( Folium )

( Cakmus,2008)

Makroskopik  (Acandra, 2010):

  1. Daunnya berwarna hijau dan berwarna segar, tetapi kalau sudah tua warnya kulitnya menjadi kuning, tangkai daun bersayap sempit.
  2. Helain daun berbentuk jorong sampai bundar telur lonjong, pangkal bulat, ujung tumpul, tepi beringgit, permukaan atas berwarna hijau tua mengilap, permukaan daun bagian bawah berwarna hijau muda.
  3. Panjang 2.5 – 9 cm, lebar 2.5 cm.

Mikroskopik (Acandra, 2010) :

  1. Pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas yang terdiri dari 1 lapis sel berbentuk segi empat memanjang, terdapat lapisan kutikula.
  2. Epidermis bawah terdiri dari 1 lapis sel serupa dengan sel eidermis atas dengan ukuran lebih kecil, terdapat stomata. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari dua lapis sel, berbentuk silindrik, tersusun agak rapat, terdapat kristal kalsium oksalat berbentuk prisma, rongga minyak berbentuk skizolisigen dan terdapat banyak di bagian atas daun, jaringan bunga kareng terdiri dari beberapaapis sel, bentuk poligonal, berkas pembuluh tipekolateral, dikelilingi serabut sklerenkim, pada sayatan paradermal terdapat epidermis atas bentuk poligonal antiklinal rata.
  3. Epidermisbaeah berbentukpoligonal, dinding antiklinal agak berombak, stomata tipe parastik.

2.8.3.3 Buah jeruk  ( Fructus  )

( Cakmus,2008)

Buahnya terdiri dari beberapa ulas, rasanya ada yang asam dan ada yang manis.Buah buni, berbentuk bulat sampai bulat telur, diameter 2.5 – 5 cm, berkulit tipis tanpa benjolan, permukaan licin, dan berkulit tipis. Kulit buhanya memiliki 3 lapiasa yaitu (Acandra, 2010) :

  1. Lapisan luar yang kaku menjangat dan mengandung banyak kelenjar minyak astiri, yang mula – mula berwarna hijau, tetapi jika buah masak warnanya berubah menjadi kuning atau jingga. Lapisan ini disebut flavedo.
  2. Lapisan tengah yang bersifat seperti spon, terdiri atas jaringan bunga karang yang biasanya berwarna putih, dinamakan albedo.
  3. Lapisan dalam yang bersekat – sekat, hingga terbentuk beberapa ruangan. Dalam ruangan – ruangan ini terdapat gelembung – gelembung berair , dan bijinya terdapat bebas di antara gelembung – gelembung ini.

 

Menurut Acandra (2010) Kulit Jeruk Nipis dijelaskan sebagai berikut:

Makroskopik :

  1. Kepingan panjang atau berbentuk spiral, melengkung atau datar; lebar sampai 15mm, tebal lebih kurang 3mm; keras.
  2. Permukaan luar berbenjol – benjol, parut gagang buah berupa lingkaran lebih menonjol.
  3. Permukaan dalam lebih rata, warna putih dengan bercak kuning kecoklatan dan bintik – bintik rongga minyak dengan warna kehijauan bergaris tengah lebih kurang 1mm.
  4. Berkas patahan tidak berserabut.

Mikroskopik :

  1. Epidrmis terdiri dari selapis sel bentuk empat persegi panjang, berkutikula; stomata tipe anomositik dengan4 sel tangga.
  2. Flavedo berupa jaringan parenkim,berupa sel berisi kristal kalsium oksalat berbentuk prisma.
  3. Albedo berupa jaringan parenkim,ukuran sel ebih bersar dari flavedo, makin ke dalam dinding sel makin tebal, beberapa sel berisi kalsium oksalat berbentuk prisma.
  4. Pada flavedo dan alfedo terdapat rongga minyak skizo lisigen, ukuran beraneka ragam.
  5.  Berkas pengangkut tipe kolateral, tersebar pada bagian dalam albedo.

2.8.3.4  Bunga ( Flos )

( Cakmus,2008)

Bunga majemuk ( inflorescentia ), tersusun dalam malai yang keluar dari ketiak daun, bunga berbentuk bintang, diameter 1.5 – 2.5 cm, berwarna putih, baunya harum (Acandra, 2010).

2.8.3.5 Biji ( semen )

Bijinya banyak, kecil-kecil, licin, bulat telur sungsang. Biji Citrus ini juga memiliki lapisan kulit luar ( testa ) dan lapisan kulit dalam ( tegmen ) (Acandra, 2010).

 

2.8.3.6 Akar ( radix )

Jenis akar dari tanaman jeruknipis ( Citrus aurantifolia ) ini adalah akar tunggang atau akar primer dimana berkembang  melalui apex embrio yang ditentukan, dari semula untuk menjadi akar, dan dari perisikel bagian – bagian akar yang relatif matang atau dari bagian – bagian lain tubuh tumbuhan tersebut, seperti misalnya batang dan daun. Perhatian khusus diberikan kepada akar – akar liar yang berkembang dari kalus stek. Urutan munculnya akar – akar sisi yaitu dari leher akar ( bagian yang menghubungkan akar dengan batang ) ke arah ujung akar, bagian akar yang matang yang biasanya mengalami penebalan sekunder hanya berfungsi sebagai jangkar dalam tanah untuk menyimpan cadangan makanan (Acandra, 2010).

2.8.4 Manfaat

Menurut Dr. Setiawan Dalimartha, anggota SP3T (Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional) DKI Jakarta, air buah jeruk nipis dapat digunakan sebagai penyedap masakan, minuman, penyegar, bahan pembuat asam sitrat, serta membersihkan karat pada logam dan kulit yang kotor. Bisa juga sebagai campuran jamu. Sebagai herbal alami, jeruk nipis berkhasiat untuk menghilangkan sumbatan vital energi, obat batuk, peluruh dahak (mukolitik), peluruh kencing (diuretik) dan keringat, serta membantu proses pencernaan (Kompas,2010) .

Jeruk nipis mengandung minyak terbang limonene dan linalool, juga flavonoid, seperti poncirin, hesperidine, rhoifolin dan naringin. Kandungan buahnya yang masak adalah synephrine dan N-methyltyramine, selain asam sitrat, kalsium, fosfor, besi dan vitamin A, B1, dan C. Asam sitratnya mampu mencegah kekambuhan pada pasien pasca operasi batu ginjal (Kompas,2010).

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Setelah menjelaskan dengan didukung literatur dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Beberapa tanaman yang dapat dibuat minuman dan telah digunakan antara lain Siwalan atau lontar, Tebu, Teh, Asam Jawa, Kelapa, Kopi, Kedelai, dan Jeruk Nipis.
  2. Kegunaan lain dari tanaman minuman antara lain digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan beberapa jenis penyakit termasuk penyakit yang berhubungan dengan pencernaan maupun penyakit yang kronis seperti kedelai yang mempu menyembuhkan diabetes mellitus, ginjal, dan Reumatik.

3.2  Saran

Beberapa saran dalam laporan ini adalah:

  1. Dalam menjelaskan sebaiknya lebih terperinci
  2. Untuk mempermudah dalam pemahaman sebaiknya lebih efektif dan efisien

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Acandra. 2010. 26 Khasiat Jruk Nipis. www.sehatnews.com.

Arisandi. Yohana. 2002. Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah

Cakmus.2008. Dunia Tumbuhan . (http:// www.plantamor.com).

Cakmus.2012. Dunia Tumbuhan . (http:// www.plantamor.com)

Dalimarta. 2006. Tumbuhan Berkhasiat. Solo: Buku Kita

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia,jilid 1. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya

Johani, Erman. 2008. Tanaman Pekarangan Pekarangan Pilihan. Bandung : Maximalis.

Juliana, Dewi. 2008. Uji Efek Antipiretik Infusa Daun Asam Jawa (Tamarindus indica l.) Pada Kelinci Putih Jantan Galur.  New Zealand

Kartasapoetra, 1988.Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropic. Jakarta: Bina Askara

Komandoko, Gamal.2008. Aha!Aku Tau Flora dan Fauna untuk Anak Cerdas. Yogyakarta : Citra Pustaka.

Kompas.com. 2010. Khasiat Jeruk Nipis. Jakarta : Kompas.

Muchtadi, Deddy. 2010. Kedelai Komponen Untuk Kesehatan. Jakarta : Alfabet.

Mulyani, Sri.2006. Ramuan Tradisional Untuk Penderita Asma. Jakarta: swadaya
Panuju Dymas Tunggul. 2010. Teh dan pengolahannya

 

Rossi, Ara. 2010. 1001 Teh. Jogyakarta: Andi offset

Somad.2012. Manfaat Tabu Bagi Kesahatan Gigi dan Manusia.                             ( http://www.radensomad.com)

Semangun, Haryono. 2008.Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sukamto, 2005. Ciri-ciri Kelapa Sawit. Semarang: Artikel Ilmiah

 

Sutedjo. 2004. Pengembangan Kultur Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Rineka Cipta

Van Steenis, dkk. 2006.Flora untuk Sekolah Indonesia . Jakarta: PT Pradnya Paramita

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s